INBERITA.COM, Viralnya kasus dugaan penganiayaan yang menyeret nama Taufik Hidayat ternyata memunculkan dampak tak terduga bagi orang lain.
Di tengah masifnya penyebaran foto dan informasi terkait daftar pencarian orang (DPO) tersebut di media sosial, seorang warga Kabupaten Bandung justru harus menghadapi konsekuensi akibat kemiripan wajah yang dimilikinya.
Pria bernama Aditya Pratama Putra mengaku beberapa kali menjadi korban salah identifikasi. Warga Soreang itu mendadak mendapat perhatian berlebihan dari orang-orang yang mengira dirinya adalah sosok buronan yang sedang ramai dibicarakan publik.
Fenomena tersebut bermula ketika kasus penganiayaan terhadap seorang perempuan yang diduga berlangsung selama bertahun-tahun menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial.
Foto wajah terduga pelaku beredar masif dan muncul dalam berbagai unggahan yang terus dibagikan oleh warganet.
Aditya mengaku awalnya tidak terlalu memikirkan kemiripan tersebut. Ia lebih fokus mengikuti perkembangan kasus yang menyita perhatian publik karena merasa prihatin terhadap korban.
Menurut pengakuannya kepada wartawan, wajah terduga pelaku yang banyak beredar di media sosial sering kali telah mengalami penyuntingan atau modifikasi sehingga membuat kemiripannya semakin mencolok di mata sebagian orang.
Pada awalnya, ia hanya menerima candaan dari teman-teman yang menganggap wajahnya mirip dengan sosok yang sedang dicari aparat. Pesan-pesan bernada gurauan hingga tag di media sosial mulai berdatangan seiring semakin viralnya kasus tersebut.
“Saya kurang menanggapi karena agak miris juga melihat kasusnya. Awalnya teman-teman cuma bercanda dan mengirim unggahan yang menampilkan foto DPO itu,” ujarnya.
Namun apa yang semula hanya terjadi di dunia maya perlahan merembet ke kehidupan sehari-hari. Aditya mulai merasakan perubahan sikap dari orang-orang yang ditemuinya di tempat umum.
Ia mengaku beberapa kali mendapati orang asing memperhatikannya dengan tatapan penuh curiga. Situasi tersebut semakin sering terjadi ketika foto DPO terus beredar luas dan menjadi konsumsi publik.
Pengalaman paling mengesankan terjadi saat dirinya sedang berbelanja di sebuah minimarket. Ketika itu, seorang warga mendatanginya dan langsung menanyakan identitasnya karena mengira ia adalah orang yang sedang diburu polisi.
Aditya berusaha menjelaskan bahwa dirinya bukan sosok yang dimaksud. Bahkan, untuk meyakinkan orang tersebut, ia menunjukkan kartu identitas yang kebetulan sedang dibawanya.
“‘Oh, maaf Pak bukan,’ saya bilang. Tapi orang itu masih tidak percaya. Akhirnya saya tunjukkan KTP dan menjelaskan kalau nama saya Adit. Setelah melihat identitas, dia baru meminta maaf dan mengaku mengira saya DPO yang sedang dicari karena wajahnya mirip,” kata Aditya.
Insiden tersebut ternyata bukan satu-satunya kejadian yang dialaminya. Pada hari yang sama, pengalaman lain yang tak kalah mengejutkan kembali terjadi.
Saat sedang membeli nasi goreng bersama istrinya pada malam hari, seorang perempuan yang tidak dikenalnya tiba-tiba menghampirinya.
Tanpa banyak bicara, perempuan tersebut disebut sempat menepuk atau mengkeplak bagian kepalanya sebelum pergi begitu saja.
Aditya mengaku tidak mengetahui alasan pasti tindakan tersebut. Namun ia menduga perempuan itu juga salah mengira dirinya sebagai sosok yang sedang viral di media sosial.
“Itu malamnya lagi beli nasi goreng sama istri. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang keplak terus pergi. Saya juga tidak tahu alasannya apa. Mungkin dia mengira saya orang yang sedang dicari itu juga,” ujarnya sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.
Kisah yang dialami Aditya memperlihatkan bagaimana derasnya arus informasi di media sosial dapat memunculkan efek samping yang tidak selalu disadari.
Ketika foto seseorang tersebar luas dan menjadi bahan perbincangan publik, risiko salah identifikasi bisa terjadi, terutama jika ada orang lain yang memiliki kemiripan fisik.
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi. Dalam sejumlah kasus viral sebelumnya, individu yang tidak memiliki keterkaitan dengan sebuah perkara pernah menjadi sasaran tuduhan, cibiran, hingga perlakuan tidak menyenangkan hanya karena dianggap mirip dengan pelaku yang sedang dicari.
Pakar komunikasi digital kerap mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, termasuk foto dan identitas seseorang.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengambil tindakan sendiri berdasarkan asumsi atau kemiripan fisik semata.
Meski mengalami sejumlah kejadian yang cukup mengganggu, Aditya memilih menanggapinya dengan santai.
Ia memahami bahwa sebagian besar orang yang salah mengenalinya kemungkinan hanya terbawa emosi dan informasi yang beredar luas di media sosial.
Namun pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa di era digital, viralnya sebuah kasus tidak hanya berdampak pada pihak yang terlibat langsung, tetapi juga bisa menyentuh orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan peristiwa tersebut.
Bagi Aditya, kemiripan wajah yang semula dianggap sebagai bahan candaan kini berubah menjadi pengalaman nyata yang membuatnya harus beberapa kali menjelaskan identitas diri kepada orang asing.
Beruntung, hingga saat ini tidak ada insiden yang berujung serius, meski ia berharap masyarakat lebih bijak sebelum menyimpulkan seseorang hanya berdasarkan kemiripan wajah.







