INBERITA.COM, Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar melihat-lihat hasil penelitian BRIN. Dalam kunjungannya ke pameran BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026), Prabowo ikut menginjak genteng biomassa, mencicipi air hasil pengolahan, menikmati keripik ubi ungu, hingga mencoba sepatu hasil inovasi peneliti.
Momen itu memang menarik. Tetapi di balik aksi Presiden menguji genteng dan mencicipi keripik, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: seberapa besar hasil riset lembaga negara benar-benar mengubah kehidupan masyarakat?
Pameran BRIN tersebut menampilkan sekitar 150 hingga 200 produk yang dibagi dalam 15 klaster teknologi.
Ada inovasi yang terlihat sederhana, seperti produk pangan dan material bangunan, tetapi ada pula teknologi yang jauh lebih strategis, mulai dari satelit, pesawat tanpa awak, teknologi pendukung Giant Sea Wall, teknologi nuklir, hingga rumah tahan gempa.
Masalahnya, ukuran keberhasilan riset tidak seharusnya berhenti pada seberapa menarik sebuah produk ketika dipamerkan di depan Presiden.
Keripik bisa dicicipi. Genteng bisa diinjak. Sepatu bisa dipakai. Tetapi masyarakat pada akhirnya membutuhkan jawaban yang lebih konkret: apakah teknologi tersebut sudah diproduksi secara luas, apakah harganya kompetitif, apakah industri menggunakannya, dan apakah inovasi itu mampu menyelesaikan persoalan nyata?
Dalam kunjungan tersebut, salah satu produk yang mendapat perhatian adalah genteng biomassa. Material itu dibuat dari serabut kelapa, sekam padi, anyaman bambu, dan ampas tebu.
Prabowo bahkan membanting dan menginjak genteng tersebut untuk menguji kekuatannya.
“Enggak mudah pecah? Bagus ini, biaya berapa? Tipe 36 biayanya berapa?” tanya Prabowo kepada peneliti.
Peneliti BRIN menjelaskan biaya pemasangan genteng biomassa untuk rumah tipe 36 berada di kisaran Rp11 juta hingga Rp12 juta. Produk tersebut dikembangkan sebagai material bangunan yang lebih ramah lingkungan.
Pertanyaan mengenai harga yang dilontarkan Presiden justru menjadi bagian paling relevan dari demonstrasi itu. Sebab, inovasi yang bagus di laboratorium belum tentu otomatis menjadi inovasi yang berhasil di pasar.
Jika sebuah produk ingin digunakan masyarakat luas, biaya produksi, ketahanan, ketersediaan bahan baku, sertifikasi, distribusi, hingga kemampuan industri memproduksinya secara massal harus ikut diperhitungkan.
Hal serupa berlaku untuk sepatu hasil inovasi BRIN yang diperkenalkan dalam pameran tersebut. Produk itu menggunakan teknologi one piece injection molding dan disebut dipasarkan dengan harga di bawah Rp80 ribu.
Di sisi lain, Prabowo juga mencicipi keripik ubi ungu yang berasal dari varietas unggul tanaman hasil riset BRIN. Produk tersebut menjadi contoh hilirisasi penelitian pertanian dengan tujuan meningkatkan nilai tambah hasil panen.
Tentu tidak ada yang salah dengan penelitian yang menghasilkan pangan, material bangunan, atau sepatu murah. Justru inovasi semacam itu bisa penting jika benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Yang perlu dikritisi adalah jangan sampai keberhasilan riset diukur dari seremoni demonstrasi produk, bukan dari dampaknya setelah pameran selesai.
BRIN merupakan lembaga riset nasional yang membawa mandat besar. Karena itu, publik berhak mengetahui bukan hanya berapa banyak produk yang berhasil dibuat, tetapi juga berapa yang benar-benar digunakan, diproduksi secara komersial, diadopsi pemerintah, atau menghasilkan penghematan dan nilai ekonomi.
Terlebih, dalam pameran yang sama BRIN juga membawa sejumlah teknologi strategis. Presiden meninjau satelit, pesawat tanpa awak, teknologi pendukung Giant Sea Wall, teknologi nuklir, rumah tahan gempa, serta berbagai inovasi lainnya.
Kategori terakhir inilah yang seharusnya mendapat perhatian lebih serius.
Indonesia menghadapi persoalan besar yang membutuhkan kemampuan teknologi sendiri: ketahanan energi, pangan, bencana, pertahanan, perubahan iklim, hingga kebutuhan infrastruktur. Untuk menghadapi tantangan tersebut, ukuran keberhasilan lembaga riset seharusnya bukan sekadar banyaknya prototipe yang bisa dipamerkan.
Prototipe adalah awal, bukan akhir.
Sebuah penelitian baru benar-benar bernilai ketika mampu keluar dari ruang laboratorium dan digunakan secara nyata. Kalau berhenti pada prototipe, demonstrasi, atau produk yang hanya muncul ketika pejabat datang berkunjung, manfaatnya bagi publik menjadi sulit diukur.
Karena itu, aksi Prabowo mencicipi keripik dan menginjak genteng seharusnya tidak dibaca semata sebagai momen ringan dalam kunjungan kenegaraan. Justru dari sana muncul pertanyaan serius tentang arah riset nasional.
Berapa banyak inovasi BRIN yang sudah masuk industri? Berapa yang dibeli pemerintah? Berapa yang berhasil menekan biaya produksi? Dan berapa yang benar-benar dipakai masyarakat?
Pertanyaan tersebut penting karena anggaran penelitian pada akhirnya berasal dari sumber daya negara. Publik tidak hanya membutuhkan lembaga yang mampu menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga institusi yang mampu memastikan hasil penelitian memberikan manfaat nyata.
Jika BRIN mampu menjadikan riset sebagai teknologi yang digunakan luas, pameran di Istana hanyalah etalase dari keberhasilan yang jauh lebih besar.
Namun jika pencapaian berhenti pada keripik yang dicicipi, genteng yang diinjak, dan sepatu yang dipamerkan, maka persoalannya bukan lagi soal apakah produk tersebut menarik.
Persoalannya adalah untuk apa riset itu dibiayai jika hasil akhirnya hanya bagus ketika dipamerkan di depan Presiden.







