Netanyahu Pasang Billboard Kontroversial Jelang Pemilu Israel, Wajah dari Para Pengkritik atau Musuhnya?

Billboard poster pengkritik netanyahuBillboard poster pengkritik netanyahu
Billboar kontroversial Netanyahu yang menampilkan empat tokoh pengkritiknya di Tel Aviv.

INBERITA.COM, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang billboard kontroversial di tengah persiapan pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Papan iklan itu menampilkan empat tokoh yang dikenal sebagai pengkritik keras Netanyahu, lengkap dengan pesan provokatif dalam bahasa Ibrani.

Billboard tersebut berdiri di kawasan strategis Tel Aviv, tepat di sepanjang Jalan Tol Ayalon, meski sebelumnya sempat tersebar klaim palsu yang menyebutkan lokasinya di Yerusalem.

Empat tokoh yang ditampilkan dalam billboard itu adalah Wali Kota New York Zohran Mamdani, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem.

Pesan yang terpampang di billboard itu berbunyi, “Mereka ingin Netanyahu kalah, jangan biarkan mereka menang.”

Netanyahu kemudian membagikan ulang foto billboard tersebut di akun media sosial X miliknya dengan keterangan serupa, menegaskan bahwa pesan tersebut ditujukan untuk menunjukkan ancaman yang dihadapinya menjelang pemilu.

Pengelompokan empat tokoh tersebut menuai sorotan karena menyatukan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh global namun memiliki latar belakang yang sangat berbeda.

Mamdani, yang baru saja menjabat sebagai Wali Kota New York pada awal 2026, baru-baru ini menyerukan agar Netanyahu ditangkap jika berkunjung ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Seruan itu didasarkan pada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

“Benjamin Netanyahu tidak diterima di Kota New York, begitu juga penjahat perang lainnya yang masih bebas,” tegas Mamdani dalam pernyataannya pekan lalu.

Sementara itu, Erdogan telah lama menjadi pengkritik vokal terhadap operasi militer Israel di Gaza. Sejak perang di Gaza pecah, hubungan antara Ankara dan Tel Aviv memburuk drastis.

Erdogan bahkan secara terbuka menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina, sebuah tuduhan yang membuat ketegangan diplomatik semakin meningkat.

Dua tokoh lainnya, Mojtaba Khamenei dan Naim Qassem, selama ini dikenal sebagai figur sentral dalam pemerintahan Iran dan Hizbullah, dua entitas yang dianggap sebagai musuh utama Israel.

Billboard kontroversial ini tak hanya menjadi sorotan publik, tetapi juga memicu respons keras dari lawan politik Netanyahu.

Partai Yashar, yang dipimpin oleh mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eisenkot, merespons dengan memodifikasi billboard tersebut.

Dalam unggahan di media sosial, partai itu menulis, “Mereka ingin IDF runtuh, jangan biarkan Netanyahu menang.”

Mereka juga menambahkan, “Netanyahu, kami sudah memperbaikinya untuk Anda. Hanya Eisenkot yang akan membentuk pemerintahan Zionis sepenuhnya.”

Respons dari oposisi ini menunjukkan betapa polarisasi politik di Israel semakin tajam menjelang pemilu. Partai Yashar seolah ingin menekankan bahwa ancaman terhadap Netanyahu bukan hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri.

Modifikasi billboard tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan Netanyahu yang dianggap semakin otoriter dan kontroversial.

Pesan yang disampaikan partai oposisi ini juga mencerminkan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dalam menangani konflik di Gaza dan hubungan internasional yang semakin terisolasi.

Kampanye Netanyahu melalui billboard ini juga mencerminkan strategi politik yang agresif menjelang pemilu.

Dengan menampilkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap sebagai musuh, Netanyahu seolah ingin membangkitkan sentimen nasionalisme dan ketakutan di kalangan pemilih Israel.

Strategi ini kerap digunakan oleh politisi untuk memobilisasi dukungan dengan menciptakan citra ancaman eksternal. Namun, apakah strategi ini akan efektif atau justru kontraproduktif, masih menjadi pertanyaan besar.

Pemilu Israel 2026 diprediksi akan menjadi salah satu yang paling sengit dalam sejarah negara itu. Isu utama yang akan menjadi bahan kampanye adalah konflik di Gaza, hubungan dengan negara-negara tetangga, dan masa depan demokrasi di Israel.

Netanyahu, yang telah lama menjadi figur kontroversial, kini menghadapi tantangan besar dari dalam negeri maupun internasional. Billboard ini hanyalah salah satu dari banyak taktik yang akan digunakan oleh berbagai kubu untuk mempengaruhi hasil pemilu.

Dampak dari billboard ini juga menyebar ke ranah internasional. Netanyahu, yang selama ini dikenal dengan sikap tegas dan sering kali kontroversial, kini semakin terlihat sebagai figur yang terdesak.

Dengan menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh global, Netanyahu seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin yang mampu melawan tekanan internasional. Namun, apakah langkah ini akan memperkuat posisinya atau justru semakin melemahkannya, masih menjadi tanda tanya besar.

Sementara itu, masyarakat Israel sendiri tampaknya semakin terpolarisasi. Ada yang melihat billboard ini sebagai upaya untuk menyatukan rakyat di tengah ancaman eksternal, namun ada pula yang menganggapnya sebagai taktik murahan untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam menangani berbagai persoalan domestik.

Pemilu Israel mendatang akan menjadi ujian sejati bagi Netanyahu dan lawan-lawannya untuk menunjukkan visi dan kepemimpinannya.