HUT RI ke-81 Bendera Raksasa Prabowo di Langit Monas: Kontroversi atau Kebanggaan?

Terjun payung bendera prabowo hut riTerjun payung bendera prabowo hut ri
Penerjun Kopassus menurunkan bendera raksasa bergambar Prabowo di atas Monas dalam Victory Jump HUT RI ke-81.

INBERITA.COM, Sebanyak 17 penerjun elit Kopassus mengawali perayaan HUT RI ke-81 dengan atraksi spektakuler di atas Monas, Jakarta.

Mereka tak hanya melambungkan bendera Merah Putih raksasa, tetapi juga bendera bergambar Prabowo Subianto, Presiden RI saat ini, dalam momen yang memicu kontroversi.

Atraksi yang dinamakan Victory Jump itu dimulai pukul 09.19 WIB dari ketinggian 10.000 kaki menggunakan pesawat CN-295.

Empat penerjun pertama terlebih dahulu menurunkan bendera bertuliskan “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” sebagai simbol semangat nasionalisme.

Setelah itu, penerjun berikutnya membawa bendera raksasa bergambar Prabowo, mantan Danjen Kopassus.

Keputusan ini tak lepas dari sejarah panjang hubungan Prabowo dengan satuan elit tersebut. Pada masa kepemimpinannya, Kopassus mencatatkan rekor dunia dalam terjun payung CRW 17 susun tegak tingkat Asia-Australia pada 1997.

Pembawa acara, Letnan Satu Infanteri Reyhan, menyebut momen itu sebagai bentuk kebanggaan dan kehormatan bagi institusi.

“Ini simbol patriotisme dan cinta Tanah Air, karena masa depan Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya dalam narasi yang disiarkan secara langsung.

Tak hanya bendera Prabowo, penerjun juga menurunkan bendera Merah Putih raksasa di langit Monas seusai bendera presiden.

Formasi one line yang mereka terapkan merupakan manuver khas dalam operasi infiltrasi, dengan pemimpin mendarat lebih dulu sebagai tanda dimulainya aksi.

Satu per satu, seluruh penerjun mendarat sempurna di Lapangan Silang Monas. Penerjun terakhir membawa bendera Merah Putih raksasa sebelum seluruh anggota berkumpul dan memberikan salam hormat.

“Seluruh prajurit telah mendarat dengan sempurna,” kata Letnan Reyhan menandai akhir misi.

Acara ini menjadi bagian dari upacara besar di Istana Merdeka yang dihadiri ribuan undangan. Kehadiran bendera Prabowo dalam atraksi tersebut menimbulkan berbagai reaksi di masyarakat.

Beberapa pihak melihatnya sebagai bentuk penghormatan, sementara yang lain mempertanyakan netralitas institusi militer.

Kopassus sendiri memiliki sejarah yang kompleks dengan Prabowo. Sebagai mantan komandan, Prabowo dikenal karena kontroversi masa lalunya, termasuk keterlibatannya dalam operasi militer di Timor Timur.

Namun, dalam konteks ini, institusi tampaknya ingin menegaskan loyalitas kepada pimpinan tertinggi negara.

Bagi masyarakat, momen ini menjadi pengingat akan dinamika hubungan sipil-militer di Indonesia. Atraksi tersebut tak hanya soal kebanggaan institusi, tetapi juga refleksi atas peran militer dalam kehidupan bernegara.

Apakah simbol-simbol semacam ini masih relevan di era demokrasi saat ini?

Pertanyaan itu mungkin tak terjawab dalam acara tersebut. Yang pasti, Victory Jump kali ini meninggalkan kesan mendalam, baik bagi peserta maupun penonton.

Bagi Kopassus, momen ini menjadi ajang pembuktian profesionalisme dan semangat juang.

Sementara bagi publik, atraksi ini menjadi bahan diskusi panjang. Apakah simbol-simbol semacam ini mampu menyatukan bangsa atau justru memicu hal lainnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.