Inggris Marah atas Ucapan Netanyahu: “Republik Islam Inggris” – Negara Islam dengan Senjata Nuklir

Hubungan inggris israel tegangHubungan inggris israel tegang
Menteri Luar Negeri Inggris menyatakan bahwa komentar Netanyahu sama sekali tidak dapat diterima dan telah menyampaikan protes resmi.

INBERITA.COM, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, baru-baru ini melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu kemarahan pemerintah Inggris.

Dalam sebuah wawancara podcast, dia menyebut Inggris sebagai “Republik Islam Inggris” sekaligus mengklaim negara itu sebagai republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri Inggris langsung bereaksi keras, menyebut ucapan Netanyahu sebagai tidak dapat diterima dan telah menyampaikan protes resmi kepada pemerintah Israel.

Komentar Netanyahu disampaikan dalam wawancara dengan Army Radio Israel, di mana dia juga memuji pemberitaan positif tentang Israel oleh jurnalis Randolph Churchill—putra mantan Perdana Menteri Winston Churchill—sebagai hal yang sulit ditemukan di Inggris masa kini.

Dia bahkan menegaskan pandangannya dengan menyatakan bahwa Inggris mungkin adalah republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir, meskipun klaim ini sama sekali tidak berdasar.

Faktanya, Pakistan adalah satu-satunya negara yang secara resmi bernama Republik Islam Pakistan dan juga satu-satunya negara Islam yang memiliki senjata nuklir sejak tahun 1990-an.

Hubungan antara Inggris dan Israel semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak Andy Burnham menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris.

Burnham, yang sebelumnya meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap tindakan militer Israel di Gaza, kini menunjukkan sikap yang lebih tegas terhadap Israel.

Dia bahkan menyatakan akan menerapkan sanksi tambahan terhadap individu dan entitas Israel, serta mempertimbangkan larangan perdagangan barang dari permukiman ilegal. Sikap ini menandakan perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Inggris terhadap Timur Tengah.

Netanyahu bukanlah tokoh pertama yang melontarkan pernyataan serupa tentang Inggris. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pernah menyebut Inggris sebagai negara yang bisa menjadi “negara Islamis sejati pertama yang memiliki senjata nuklir” selama kampanye pemilihan presiden 2024.

Pernyataan ini juga menuai kecaman luas, terutama dari kalangan Muslim di Inggris yang merasa menjadi sasaran retorika Islamofobik yang semakin meningkat.

Wali Kota London, Sadiq Khan, bahkan kerap menjadi target serangan bernuansa rasial dari para pemimpin sayap kanan luar negeri.

Para pemimpin Muslim di Inggris mengungkapkan keprihatinan mereka atas meningkatnya kejahatan kebencian yang menargetkan komunitas Muslim. Mereka menyebut bahwa retorika sayap kanan jauh dan dukungan terhadap partai-partai anti-imigran telah memperburuk situasi.

Avi Dabush, calon anggota Knesset dari partai oposisi Demokrat Israel, mengkritik keras Netanyahu karena mengejek sekutu penting Israel di tengah isolasi global yang semakin meningkat.

Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan kegagalan diplomatik yang parah dan ketidakmampuan Netanyahu dalam menggalang dukungan internasional.

Netanyahu, yang dikenal sebagai pemimpin paling sayap kanan dalam sejarah Israel, semakin menjauhkan diri dari sekutu-sekutu tradisionalnya. Dia justru menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh sayap kanan yang memiliki rekam jejak antisemitisme.

Sikap ini semakin memperburuk citra Israel di mata dunia internasional, terutama di tengah meningkatnya kecaman terhadap tindakan militer Israel di wilayah Palestina.

Para pengamat politik menilai bahwa kebijakan luar negeri Netanyahu yang semakin tidak stabil telah membuat Israel semakin terisolasi.

Pernyataan Netanyahu tentang Inggris juga mencerminkan pola retorika yang semakin sering digunakan oleh para pemimpin sayap kanan di seluruh dunia.

Mereka kerap menggunakan narasi Islamofobik untuk menarik dukungan politik, meskipun klaim tersebut sering kali tidak memiliki dasar yang kuat. Di Inggris sendiri, meningkatnya retorika anti-Muslim telah memicu kekhawatiran akan semakin meluasnya diskriminasi terhadap komunitas Muslim.

Sementara itu, pemerintah Inggris terus berupaya untuk meredam ketegangan dengan Israel. Menteri Luar Negeri Inggris telah menekankan pentingnya menjaga hubungan bilateral yang kuat, meskipun komentar Netanyahu telah menimbulkan kemarahan di kalangan publik.

Para pengamat menilai bahwa hubungan Inggris-Israel kemungkinan akan terus menghadapi tantangan dalam waktu dekat, terutama jika Netanyahu terus melontarkan pernyataan kontroversial.

Di tengah meningkatnya ketegangan, para pemimpin Muslim di Inggris menyerukan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap retorika kebencian.

Mereka menekankan bahwa komunitas Muslim di Inggris telah lama berkontribusi positif bagi masyarakat, dan tidak seharusnya menjadi sasaran serangan yang tidak berdasar.

Para pemimpin ini juga mendesak pemerintah untuk melindungi hak-hak warga negara Muslim dan memastikan bahwa mereka dapat hidup dengan aman dan damai.

Pernyataan Netanyahu tentang Inggris sebagai “Republik Islam Inggris” tidak hanya menimbulkan kemarahan di tingkat diplomatik, tetapi juga telah memperburuk citra Israel di mata dunia internasional.

Klaim tersebut, yang sama sekali tidak berdasar, hanya menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan Netanyahu selama masa jabatannya.

Para pengamat menilai bahwa pernyataan ini mencerminkan sikap yang semakin tidak dewasa dan tidak bertanggung jawab dari seorang pemimpin negara.

Sementara itu, pemerintah Inggris telah menyatakan bahwa mereka akan terus bekerja sama dengan Israel dalam berbagai bidang, meskipun hubungan diplomatik saat ini tengah menghadapi tantangan yang signifikan.

Menteri Luar Negeri Inggris menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, meskipun pernyataan Netanyahu telah menimbulkan ketegangan baru.

Di tengah meningkatnya kecaman terhadap tindakan militer Israel di wilayah Palestina, pernyataan ini hanya akan semakin memperburuk isolasi Israel di panggung global.