INBERITA.COM, Paul Biya, presiden Kamerun yang telah memimpin selama lebih dari empat dekade, kini menghadapi sorotan akibat ketidakhadirannya yang tak biasa.
Pada usia 93 tahun, pria yang memenangkan pemilihan pertamanya pada 1984 ini tengah menjalani kunjungan “pribadi singkat” di Eropa sejak Juni tahun lalu.
Namun, hingga kini, ia belum kembali ke negaranya, menimbulkan pertanyaan besar tentang kondisi kesehatannya dan kelangsungan pemerintahan.
Ketidakhadiran Biya selama dua bulan terakhir menjadi yang terlama dalam sejarah kepemimpinannya.
Juru bicara pemerintah, René Emmanuel Sadi, baru-baru ini menegaskan kepada awak media internasional bahwa presiden tersebut berada di Jenewa, Swiss, dan tidak dirawat di rumah sakit.
Namun, pernyataan tersebut tak kunjung meredakan kecemasan publik mengenai keadaan Biya dan siapa yang mengambil alih kendali pemerintahan.
Sejak pertama kali menjabat pada 1984, Biya telah memimpin Kamerun melalui sistem satu partai hingga era multipartai. Ia memenangkan enam pemilihan presiden berikutnya, menjadikannya salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia.
Namun, gaya kepemimpinannya yang sering absen dari publik telah lama memicu spekulasi tentang kesehatannya. Kantor pemerintah kerap membantah rumor kematian atau sakit parah, termasuk larangan membahas kesehatan presiden pada 2024 atas nama keamanan nasional.
Kondisi ini mencerminkan realitas politik di Afrika, di mana banyak negara dipimpin oleh tokoh-tokoh senior yang kariernya bermula puluhan tahun silam.
Biya sendiri naik ke kursi kepresidenan pada 1982 sebagai perdana menteri, menggantikan presiden sebelumnya yang mengundurkan diri.
Bagi sebagian besar warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya pemimpin yang mereka kenal, meski keberadaannya yang sering di luar negeri menimbulkan ketidakpastian.
Meskipun absen, Biya tetap mengambil keputusan penting, seperti perombakan besar di militer yang baru saja diumumkan. Namun, ketidakhadirannya yang terlalu lama memaksa pemerintah untuk meyakinkan publik bahwa presiden masih hidup.
Sadi menegaskan kepada awak media, “Presiden Paul Biya masih hidup dan akan segera kembali.”
Pernyataan tersebut tak lepas dari tekanan publik yang semakin meningkat.
Ketika Biya akhirnya meninggalkan jabatannya, Kamerun akan mewarisi sejumlah tantangan besar. Negara ini masih berjuang melawan serangan militan Boko Haram di wilayah utara, sementara generasi muda semakin frustrasi dengan kondisi ekonomi yang stagnan.
Ketidakpastian kepemimpinan ini menambah beban bagi masyarakat yang telah lama menantikan perubahan.
Kondisi Biya juga menyoroti masalah yang lebih luas dalam politik Afrika: pemimpin-pemimpin senior yang enggan menyerahkan kekuasaan.
Dengan populasi termuda di dunia, banyak negara di benua ini dipimpin oleh figur-figur yang kariernya dimulai pada era kolonial atau pasca-kemerdekaan. Sistem yang ada kerap memungkinkan mereka untuk tetap berkuasa melalui pemilu yang kontroversial.
Bagi Kamerun, masa depan politiknya kini berada di titik kritis. Ketidakhadiran Biya yang tak terduga telah membuka kembali perdebatan tentang regenerasi kepemimpinan dan stabilitas nasional.
Sementara pemerintah berusaha menenangkan publik, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar memegang kendali pemerintahan tetap menggantung.







