Land Convoy to Palestine Terjebak di Perbatasan Turki-Irak Menunggu Izin, Ada Relawan Indonesia Juga

Konvoi darat ke gazaKonvoi darat ke gaza
500 Peserta Konvoi Darat ke Gaza Tertahan di Perbatasan Turki-Irak, Termasuk Relawan Indonesia

INBERITA.COM, Lebih dari 500 relawan dan aktivis yang tergabung dalam Land Convoy to Palestine kini terkatung-katung di perbatasan Turki-Irak.

Mereka belum mendapatkan izin untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Tepi Barat, padahal rombongan ini telah menempuh perjalanan panjang sejak akhir Juli 2026.

Rikar Tayusani, satu-satunya wakil Indonesia dalam konvoi tersebut, masih bertahan di pos pemeriksaan Ibrahim Khalil, perbatasan antara Turki dan Irak.

“Kami masih menunggu izin untuk masuk ke Irak sejak semalam,” ujarnya saat dihubungi awak media, Rabu (12/8/2026).

Ia telah berada di Turki sejak 30 Juli 2026, mengikuti rombongan yang berangkat dari Sarajevo, Bosnia-Herzegovina.

Land Convoy to Palestine merupakan inisiatif global untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina melalui jalur darat. Gerakan ini mirip dengan Global Sumud Flotilla (GSF) yang berupaya membuka blokade di Gaza, namun dengan pendekatan berbeda.

Para peserta ingin menekankan bahwa persoalan Palestina tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga di Tepi Barat yang terus menghadapi ancaman pendudukan Israel.

Rombongan ini memulai perjalanan pada 22 Juli 2026 dari Sarajevo, melintasi beberapa negara Eropa sebelum berkumpul di Ankara, Turki.

Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Irak, dengan rencana untuk melewati Baghdad sebelum akhirnya menuju Yordania. Namun, rencana tersebut kini terhambat oleh kebijakan pemerintah Irak.

Menurut Rikar, pilihan jalur melalui Irak dipilih karena Suriah dianggap masih sulit dilalui akibat kondisi politik yang belum stabil.

“Otoritas Kurdistan di Irak bahkan telah memberikan izin dan perlindungan,” katanya. Namun, pemerintahan di Baghdad, yang diketahui mendapat tekanan dari negara-negara lain, belum memberikan restu untuk melintas.

Tekanan politik tampaknya menjadi hambatan utama bagi konvoi ini. Rikar menyebutkan bahwa pemerintah Irak menerima tekanan dari berbagai pihak untuk tidak mengizinkan rombongan ini melintas.

“Kami mendapatkan informasi bahwa ada intervensi dari negara-negara tertentu,” ujarnya.

Meskipun demikian, ia menekankan bahwa misi kemanusiaan ini tetap harus dilanjutkan.

Partisipan Land Convoy to Palestine sebagian besar berasal dari Eropa dan Turki, dengan sedikit wakil dari negara lain seperti Indonesia dan Malaysia.

Rikar sendiri telah terlibat dalam dua aksi serupa sebelumnya, termasuk GSF Land Convoy to Gaza melalui Libya pada Juni 2026. Namun, upaya untuk membuka akses ke Palestina melalui darat kerap gagal akibat larangan politik dan keberadaan milisi bersenjata.

“Kami ingin menunjukkan bahwa penjajahan di Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat, masih terus berlangsung,” tegas Rikar.

Ia menambahkan bahwa gerakan ini juga bertujuan untuk menggalang dukungan global agar persoalan Palestina tidak terlupakan.

Upaya ini merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menyuarakan perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Keterlambatan izin di perbatasan Irak menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi konvoi ini. Meskipun demikian, Rikar tetap optimistis bahwa perjuangan untuk Palestina akan terus berlanjut, meski harus menghadapi berbagai hambatan.

“Ini bukan hanya tentang bantuan, tetapi juga tentang mengingatkan dunia bahwa Palestina masih terjajah,” pungkasnya.