Erdogan Tuduh Netanyahu Dalang Konflik Iran vs AS, Sebut Ancam Dunia

Ketegangan Timur Tengah Memanas, Erdogan Salahkan NetanyahuKetegangan Timur Tengah Memanas, Erdogan Salahkan Netanyahu
Erdogan Sebut Netanyahu Penyebab Utama Eskalasi Konflik Timur Tengah.

INBERITA.COM, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.

Erdogan menuding Netanyahu sebagai pihak yang memicu ketegangan hingga berujung pada pecahnya konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS).

Dalam pernyataannya, Erdogan menilai kebijakan yang diambil Netanyahu menjadi faktor utama yang memperburuk situasi geopolitik kawasan.

Ia menyampaikan kekhawatiran mendalam atas meningkatnya konflik yang tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas global.

“Serangan yang berpusat di Iran yang dilancarkan pada 28 Februari sebagai akibat dari provokasi Netanyahu telah semakin memperdalam ketidakstabilan di kawasan kita,” kata Erdogan dalam pidatonya.

Erdogan menegaskan bahwa eskalasi konflik tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Israel yang dinilai agresif, termasuk tindakan di wilayah Palestina.

Ia menyoroti sejumlah langkah seperti pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza, operasi militer, hingga perluasan permukiman di wilayah pendudukan yang disebut semakin memperparah krisis.

“(Israel) menutup Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kita (arah salat suci), untuk beribadah, menggunakan perang Iran sebagai dalih. Mereka juga mempercepat aktivitas pemukiman ilegal dan kebijakan ekspansionis di Tepi Barat dan wilayah Palestina yang diduduki lainnya,” lanjutnya.

Selain itu, Erdogan juga mengungkapkan bahwa dampak konflik telah meluas ke wilayah lain seperti Lebanon, yang menghadapi korban jiwa dan gelombang pengungsian dalam jumlah besar.

Ia mengaitkan kondisi ini dengan meningkatnya ketegangan global yang sebelumnya sudah dipicu oleh konflik lain, termasuk perang Rusia dan Ukraina.

Di tengah situasi yang kian memanas, Erdogan menegaskan posisi Turki yang tidak ingin terlibat dalam konflik bersenjata tersebut.

Ia menyebut kondisi saat ini sebagai “lingkaran api” yang berpotensi berkembang menjadi perang berkepanjangan jika tidak segera dikendalikan.

Menurut Erdogan, pemerintah Turki mengambil pendekatan hati-hati dan terukur dengan mengedepankan kebijaksanaan dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan Turki tidak terseret ke dalam konflik yang lebih luas.

“Kami bertekad untuk menjaga negara kami tetap berada di luar lingkaran api. Turki termasuk di antara negara-negara terkemuka yang dipuji karena telah membaca dengan tepat proses yang telah memenuhi kawasan kita dengan bau darah dan mesiu,” jelas Erdogan.

Lebih lanjut, Erdogan juga menyoroti dampak ekonomi global akibat konflik tersebut, khususnya terkait stabilitas jalur energi dunia.

Ia menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan di kawasan ini dinilai telah memicu gejolak ekonomi, termasuk lonjakan harga energi.

Ia mengingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, dampak ekonomi yang ditimbulkan bisa berlangsung lama dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pemulihan.

“Perang harus diakhiri sebelum kerusakan terjadi pada perekonomian global yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki,” pintanya.

Erdogan juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil langkah tegas guna menghentikan konflik dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Ia menilai bahwa meskipun konflik ini dipicu oleh kebijakan Israel, dampaknya dirasakan secara luas oleh masyarakat global.

Dalam pernyataannya yang tegas, Erdogan bahkan menyebut konflik tersebut sebagai perang yang didorong oleh kepentingan politik internal Netanyahu.

“Jaringan pembantaian yang dipimpin oleh Netanyahu harus segera dihentikan demi perdamaian regional dan kemanusiaan. 25 hari terakhir telah menunjukkan bahwa meskipun ini adalah perang Israel, harga yang harus dibayar adalah oleh seluruh dunia. Ini adalah perang Netanyahu untuk kelangsungan hidup politik, tetapi bebannya ditanggung oleh delapan miliar orang,” tegasnya.