INBERITA.COM, Intelijen Ukraina mengungkap rencana Rusia dan Korea Utara untuk menempatkan hingga 50.000 pasukan Korea Utara di tiga wilayah Rusia bagian barat yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Langkah ini diyakini akan memperkuat posisi Rusia di medan perang, terutama di wilayah Donbas yang menjadi fokus utama serangan.
Menurut laporan media Jepang yang dikutip awak media Kamis (13/8), rencana tersebut tertuang dalam rancangan sementara yang diperoleh badan intelijen militer Ukraina.
Pasukan Korea Utara diproyeksikan akan membantu Rusia merebut kembali wilayah Donbas, yang meliputi Donetsk dan Luhansk, sebelum akhir tahun ini. Keputusan ini diambil menyusul tekanan besar yang dialami Rusia akibat korban jiwa yang terus meningkat.
Dalam kurun waktu Juli saja, lebih dari 42.000 tentara Rusia dilaporkan tewas atau terluka, menurut perkiraan intelijen Ukraina. Kondisi ini memaksa Moskow mencari sumber daya manusia tambahan untuk mempertahankan operasinya di Ukraina.
Keterlibatan Korea Utara dalam perang ini bukanlah hal baru, karena sejak awal konflik, Pyongyang telah mengirim ribuan personel militernya untuk berperang melawan pasukan Ukraina.
Saat ini, lebih dari 10.000 tentara Korea Utara telah dikerahkan ke Rusia dan terlibat dalam pertempuran, sebagian besar ditempatkan di wilayah Kursk.
Namun, rancangan rencana yang diperoleh intelijen Ukraina juga menyebutkan bahwa unit Korea Utara akan ditempatkan di Bryansk dan Belgorod, dua wilayah Rusia lainnya yang berbatasan dengan Ukraina. Langkah ini menunjukkan perluasan keterlibatan Korea Utara dalam konflik yang semakin kompleks.
Seorang pejabat intelijen Ukraina menyebutkan bahwa rencana tersebut masih memerlukan persetujuan akhir dari kedua pemimpin negara.
Selain pasukan darat, Korea Utara juga dilaporkan mulai mengirim sekitar 90 personel pasukan rudal ke wilayah Voronezh di Rusia bagian selatan. Penambahan ini menandakan bahwa Pyongyang tidak hanya berkontribusi dalam pertempuran konvensional, tetapi juga dalam aspek teknologi militer.
Badan intelijen Ukraina juga melaporkan bahwa Korea Utara telah mengirimkan tambahan 40 rudal balistik kepada Rusia.
Rudal-rudal ini diduga digunakan dalam serangan terhadap wilayah Kryvyi Rih di Dnipropetrovsk pada akhir Juli, serta serangan di wilayah Zaporizhzhia pada awal Agustus.
Pengiriman senjata ini semakin memperkuat dugaan bahwa Pyongyang secara aktif mendukung upaya militer Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Keterlibatan Korea Utara dalam konflik ini tidak lepas dari pakta kemitraan strategis yang ditandatangani kedua negara pada awal 2024. Pakta tersebut mengatur dukungan timbal balik jika salah satu pihak menghadapi keadaan darurat, termasuk dalam konteks perang.
Dengan demikian, keterlibatan Pyongyang dalam perang Ukraina bukan hanya sekadar bantuan militer, tetapi juga bagian dari komitmen politik yang lebih luas.
Jika rencana ini terealisasi, dampaknya tidak hanya akan terasa di medan perang Ukraina, tetapi juga dalam dinamika geopolitik global.
Rusia yang semakin terdesak akan semakin bergantung pada sekutu-sekutunya, sementara Korea Utara mendapatkan keuntungan strategis dalam hubungan internasionalnya.
Kondisi ini juga membuka peluang bagi negara-negara lain untuk menilai kembali kebijakan luar negerinya terhadap kedua negara.
Sementara itu, Ukraina terus memantau perkembangan ini dengan cermat. Pemerintah Ukraina telah berulang kali menyerukan kepada komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan terhadap negaranya.
Perang yang kini melibatkan aktor eksternal seperti Korea Utara semakin memperumit upaya pencarian solusi damai, karena konflik ini telah menjadi medan pertarungan yang lebih luas.







