INBERITA.COM, Instagram semakin agresif memperluas jangkauan platformnya di luar layar ponsel. Setelah bertahun-tahun identik dengan konten vertikal yang dikonsumsi melalui perangkat mobile, aplikasi milik Meta kini mulai melirik televisi sebagai ruang pertumbuhan baru bagi kreator maupun audiens.
Langkah terbaru itu ditandai dengan pengujian sejumlah fitur yang dirancang khusus untuk pengalaman menonton di layar besar.
Mulai dari video horizontal, tayangan Stories di televisi, hingga format serial episodik yang memungkinkan kreator menghadirkan cerita berkelanjutan dengan durasi lebih panjang.
Pengembangan tersebut menjadi sinyal bahwa Instagram tidak lagi hanya ingin menjadi platform berbagi foto dan video pendek. Perusahaan kini berupaya memperluas perannya sebagai destinasi hiburan digital yang mampu bersaing dalam ekosistem konten video yang semakin kompetitif.
Sejak Senin (22/6/2026), Instagram mulai menguji fitur video horizontal melalui layanan Instagram for TV. Format ini memungkinkan pengguna menikmati konten dengan tampilan yang lebih sesuai untuk layar televisi dibandingkan format vertikal yang selama ini menjadi ciri khas platform tersebut.
Pengujian itu berlangsung bersamaan dengan peluncuran Instagram for TV di perangkat Samsung TV. Kehadiran di platform televisi Samsung menjadi langkah penting karena memperluas jangkauan layanan yang sebelumnya hanya tersedia di perangkat Amazon Fire TV dan Google TV.
Dengan masuknya Samsung ke dalam daftar perangkat yang mendukung layanan tersebut, Instagram berpotensi menjangkau jutaan pengguna baru yang mengonsumsi konten digital langsung dari ruang keluarga mereka.
Perubahan strategi ini mencerminkan pergeseran perilaku audiens yang semakin sering mengakses berbagai platform media sosial melalui perangkat televisi pintar.
Jika sebelumnya televisi hanya digunakan untuk menikmati layanan streaming atau siaran konvensional, kini batas antara media sosial dan hiburan layar besar semakin tipis.
Wakil Presiden Produk Instagram, Tessa Lyons, menyebut televisi sebagai peluang besar berikutnya dalam evolusi platform tersebut. Menurutnya, Instagram terus berupaya menciptakan cara baru agar kreator dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
“Pada akhirnya, Instagram adalah tentang menghubungkan orang-orang melalui kreativitas. Kami membantu kreator menemukan audiens mereka dan terus mengembangkan cara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya benar-benar berpikir televisi adalah batas berikutnya bagi kami,” ujar Lyons dalam keterangannya kepada awak media.
Tidak hanya menghadirkan video horizontal, Instagram juga mulai menguji kemampuan menampilkan Stories di televisi. Fitur ini memungkinkan pengguna menikmati unggahan harian para kreator dan akun yang mereka ikuti melalui layar yang jauh lebih besar.
Selama ini Stories menjadi salah satu fitur paling populer di Instagram karena menawarkan konten yang lebih spontan dan personal. Kehadirannya di televisi berpotensi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan konten yang sebelumnya identik dengan konsumsi cepat melalui ponsel.
Selain itu, Instagram sedang mengembangkan kemampuan untuk menayangkan Reels dari perangkat seluler ke televisi.
Fitur tersebut memberikan pengalaman yang mirip dengan teknologi casting pada layanan video lainnya, sehingga pengguna dapat memindahkan konten dari ponsel ke layar TV dengan lebih mudah.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Meta memperkuat posisi Instagram dalam persaingan konten video yang semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, platform digital berlomba menghadirkan pengalaman menonton yang semakin fleksibel dan dapat diakses dari berbagai perangkat.
Di balik pengembangan fitur-fitur baru tersebut, Instagram melihat perubahan tren yang terjadi di kalangan kreator. Banyak pembuat konten kini menggunakan platform tersebut sebagai sarana promosi untuk karya berdurasi panjang yang dipublikasikan di layanan lain.
Fenomena itu mendorong Instagram untuk mempertimbangkan format yang lebih panjang dan lebih cocok dinikmati di televisi.
Salah satu tren yang menjadi perhatian perusahaan adalah pertumbuhan microdrama. Format ini mengandalkan cerita berseri yang dibagi menjadi episode-episode pendek, biasanya berdurasi satu hingga tiga menit.
Microdrama berkembang pesat karena mampu menggabungkan elemen hiburan serial dengan karakteristik konsumsi konten cepat yang disukai pengguna media sosial. Penonton dapat mengikuti alur cerita secara bertahap tanpa harus meluangkan waktu lama untuk setiap episode.
Menurut Lyons, format tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang di Instagram.
Saat ini banyak microdrama diproduksi oleh rumah produksi profesional. Namun Instagram melihat peluang yang sama bagi kreator independen untuk menghasilkan karya serupa dan membangun audiens setia melalui platform tersebut.
Kehadiran serial episodik juga dapat membuka sumber pendapatan baru bagi kreator. Dengan meningkatnya minat terhadap konten berbasis cerita, Instagram berpotensi menciptakan ekosistem yang memungkinkan kreator menghasilkan karya yang lebih kompleks dibandingkan sekadar video pendek.
Bagi Meta, strategi ini sekaligus menjadi langkah penting untuk mempertahankan relevansi Instagram di tengah perubahan lanskap digital.
Ketika persaingan antarplatform semakin bergeser ke ranah video dan hiburan, kemampuan menghadirkan pengalaman menonton lintas perangkat menjadi faktor yang semakin menentukan.
Meski masih dalam tahap pengujian, fitur-fitur baru tersebut menunjukkan arah pengembangan Instagram ke depan. Platform yang awalnya dikenal sebagai tempat berbagi foto kini perlahan berevolusi menjadi pusat hiburan digital yang dapat dinikmati dari berbagai layar, termasuk televisi.
Jika pengujian berjalan sukses, bukan tidak mungkin pengalaman menonton Stories, Reels, hingga serial episodik melalui TV akan menjadi bagian baru dari kebiasaan pengguna Instagram di masa mendatang.







