Denny Caknan dan Bella Bonita Minta Maaf, Video Lama Dinilai Singgung Penyandang Disabilitas

Kontroversi Tissue Challenge, Denny Caknan dan Bella Bonita Akhirnya Buka SuaraKontroversi Tissue Challenge, Denny Caknan dan Bella Bonita Akhirnya Buka Suara
Video Lama Kembali Viral, Denny Caknan dan Bella Bonita Berjanji Lebih Hati-Hati Bermedia Sosial.

INBERITA.COM, Nama Denny Caknan dan Bella Bonita tengah menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial setelah sebuah video lama yang pernah mereka unggah kembali viral.

Konten tersebut memicu kritik dari sejumlah warganet karena dianggap menyinggung penyandang disabilitas, khususnya mereka yang hidup dengan kondisi cerebral palsy.

Polemik yang berkembang dalam beberapa hari terakhir membuat pasangan publik figur tersebut akhirnya memberikan tanggapan resmi.

Melalui pernyataan yang diunggah di akun media sosial mereka pada Kamis, 11 Juni 2026, Denny Caknan dan Bella Bonita menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat, terutama kepada kelompok disabilitas yang merasa tersakiti oleh unggahan tersebut.

Kontroversi bermula ketika video lama keduanya kembali beredar luas dan dikaitkan dengan tren yang dikenal sebagai “Plenger” atau “Tissue Challenge”.

Tren tersebut belakangan menjadi sorotan karena dianggap menampilkan gerakan dan ekspresi yang menyerupai kondisi fisik tertentu yang dialami sebagian penyandang cerebral palsy.

Akibatnya, banyak pihak menilai konten serupa berpotensi menimbulkan stigma dan kurang sensitif terhadap realitas yang dihadapi penyandang disabilitas.

Di tengah derasnya kritik, Denny dan Bella memilih untuk menyampaikan sikap secara terbuka. Mereka menegaskan bahwa saat video itu dibuat, tidak ada niat sedikit pun untuk menghina, merendahkan, atau menjadikan penyandang disabilitas sebagai bahan candaan.

Dalam pernyataan tersebut, keduanya mengaku menyesali kegaduhan yang muncul dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada pihak-pihak yang merasa terluka.

“Assalamualaikum Wr. Wb. Kami ingin meminta maaf atas posting-an tahun lalu kami. Dari lubuk hati kami saat posting-an tahun lalu kami dibuat, tidak ada maksud untuk mencela teman-teman disabilitas, dan bukan konten berbayar atau endorsement,” tulis mereka dalam pernyataan yang diunggah ke publik.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pengakuan bahwa dampak sebuah konten di media sosial tidak selalu sesuai dengan niat pembuatnya.

Dalam era digital yang serba cepat, unggahan yang dibuat bertahun-tahun lalu pun dapat kembali muncul dan dinilai dengan perspektif yang berbeda sesuai perkembangan kesadaran sosial masyarakat.

Alih-alih memberikan pembelaan panjang atau mencoba menjelaskan detail di balik video yang dipersoalkan, pasangan tersebut memilih mengambil sikap menerima kritik yang muncul.

Mereka mengakui bahwa konten tersebut merupakan sebuah kesalahan dan memutuskan untuk menghentikan perdebatan yang berkembang.

“Apapun penjelasan dari kami akan stop sampai di sini, kami mengakui ini salah,” lanjut pernyataan tersebut.

Sikap mengakui kesalahan tanpa banyak argumentasi mendapat beragam respons dari publik.

Sebagian warganet menilai langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral, sementara yang lain berharap kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bagi para kreator konten dan figur publik agar lebih mempertimbangkan dampak sosial dari setiap unggahan.

Peristiwa ini juga kembali mengangkat diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya representasi dan sensitivitas terhadap penyandang disabilitas di ruang digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu inklusivitas semakin mendapat perhatian masyarakat.

Banyak komunitas disabilitas aktif menyuarakan pentingnya penggunaan bahasa, visual, maupun bentuk hiburan yang tidak memperkuat stereotip atau menjadikan kondisi tertentu sebagai objek lelucon.

Karena itu, setiap konten yang dianggap menyerempet isu disabilitas sering kali mendapat sorotan besar dari publik.

Bukan semata karena niat pembuatnya, melainkan karena dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap persepsi masyarakat secara luas.

Denny Caknan dan Bella Bonita tampaknya menyadari hal tersebut. Dalam bagian lain pernyataannya, mereka secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada penyandang disabilitas yang merasa tersinggung akibat video yang kembali viral tersebut.

“Dengan rendah hati, kami mau meminta maaf sebesar-besarnya kepada teman-teman yang turut sakit hati, terutama teman disabilitas kami dan lainnya,” ungkap keduanya.

Permintaan maaf itu menjadi penegasan bahwa mereka memahami adanya pihak yang merasa dirugikan atau tidak nyaman dengan konten yang pernah diunggah.

Di saat yang sama, kasus ini menunjukkan bagaimana standar sosial terhadap konten digital terus berkembang. Hal-hal yang mungkin dianggap biasa pada masa lalu kini dapat dipandang berbeda seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap isu keberagaman dan inklusi.

Sebagai figur publik yang memiliki jutaan penggemar, Denny dan Bella juga menyadari bahwa aktivitas mereka di media sosial memiliki jangkauan yang luas. Karena itu, keduanya berjanji akan lebih berhati-hati dalam membuat maupun membagikan konten pada masa mendatang.

Mereka menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan kritik, masukan, dan pengingat atas kontroversi yang terjadi.

Menurut mereka, kritik tersebut menjadi bahan evaluasi agar lebih bijak dalam menggunakan platform digital.

“Terima kasih untuk teman-teman semuanya yang sudah mengingatkan kami. Ke depannya kami akan lebih berhati-hati dalam bersosial media dan memilah konten yang benar. Dari lubuk hati kami sekali lagi memohon maaf. Matursuwun nggih, Denny & Bella,” tulis mereka menutup pernyataan.

Kasus yang menimpa pasangan ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang publik yang memiliki konsekuensi sosial.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kemanusiaan, empati dan kehati-hatian menjadi aspek penting dalam setiap bentuk komunikasi digital.

Bagi para figur publik maupun kreator konten, peristiwa ini memperlihatkan bahwa popularitas harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Sementara bagi masyarakat, polemik tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya menciptakan lingkungan digital yang menghormati keberagaman dan lebih ramah terhadap semua kelompok, termasuk penyandang disabilitas.