INBERITA.COM, Upaya pencarian besar-besaran terus dikerahkan untuk menemukan Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazri Penarik, yang hingga kini dilaporkan hilang kontak setelah terjebak dalam banjir dan longsor parah yang melanda wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Hilangnya komunikasi dengan Syukri menambah kepanikan masyarakat, apalagi kondisi bencana di kedua wilayah itu semakin memburuk.
Kontak terakhir dengan sang Wali Kota terputus sejak Selasa siang, meninggalkan banyak tanda tanya di tengah situasi darurat yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Perjalanan darurat Syukri bermula pada Senin malam, ketika ia melakukan perjalanan dari Medan setelah menerima laporan mendesak terkait curah hujan ekstrem yang menghantam wilayah kepemimpinannya.
Ia dikabarkan bergegas pulang untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan tepat. Namun, perjalanan tersebut justru berubah menjadi misi penyelamatan yang tidak pernah diduga.
Apa yang seharusnya menjadi langkah tanggap bencana, kini berbalik menjadi upaya menemukan seorang pemimpin daerah yang hilang di tengah bencana yang mengisolasi seluruh akses.
Kabar putusnya komunikasi dengan Syukri pertama kali diungkapkan oleh Ketua DPP NasDem teritori Aceh, Bakhtiar Ahmad Sibarani.
Ia membeberkan kronologi memudarnya komunikasi tersebut, yang perlahan-lahan menimbulkan kekhawatiran besar. Bakhtiar mengatakan ia sempat mencoba menghubungi Syukri pada Selasa pagi, namun pesannya tidak direspons.
Baru pada siang hari, tepat pukul 11.10 WIB, sebuah pesan singkat dari WhatsApp Syukri masuk. Pesan itu menjadi jejak terakhir sebelum komunikasi benar-benar terputus.
Menurut Bakhtiar, pesan tersebut menggambarkan kondisi yang sangat genting. Syukri menginformasikan bahwa ia terjebak di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, sebuah lokasi yang dilanda banjir dan longsor sehingga seluruh akses jalan terputus.
Wilayah itu tidak dapat dihubungkan ke Sibolga maupun ke arah Tapanuli Utara. Selain akses fisik yang terblokir total, jaringan komunikasi juga dilaporkan mati.
“Dia mengirim pesan soal kondisi yang terjebak di Sitahuis, dan tidak ada jaringan di sana,” ujar Bakhtiar, Kamis (27/11/2025).
Pesan singkat yang dikirim pukul 11.10 WIB itu sudah cukup menjadi indikasi betapa kritisnya kondisi di lokasi tersebut.
Tangkapan layar yang dibagikan Bakhtiar menunjukkan bagaimana Syukri berusaha menyampaikan situasi darurat sebelum akhirnya koneksi hilang sama sekali.
Seiring dengan menyebarnya kabar tersebut, perhatian publik terhadap bencana di Sibolga dan Tapanuli Tengah meningkat tajam.
Longsor parah yang menimbun jalan, banjir besar yang memutus arus transportasi, dan total blackout jaringan komunikasi membuat wilayah itu praktis lumpuh sejak Selasa.
Banyak warga, termasuk tim evakuasi, kesulitan bergerak akibat akses yang terblokir material longsor dalam jumlah besar.
Bahkan tim penyelamat dari sejumlah instansi harus memutar jalur atau menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk masuk ke titik-titik terdampak.
Setelah pesan terakhir pada Selasa siang, komunikasi dengan Syukri benar-benar berhenti. Bakhtiar mengatakan bahwa ia kembali mencoba menghubungi Wali Kota Syukri pada Rabu (26/11/2025) pukul 11.33 WIB dan 17.32 WIB.
Namun, kedua panggilan tersebut tak pernah terhubung. Upaya mengontak Syukri terus dilakukan, tetapi sinyal di seluruh wilayah yang terdampak benar-benar mati, membuat pencarian semakin sulit.
“Kenapa kami bisa menghubungi? Karena kami sedang berada di luar Tapanuli Tengah dan Sibolga. Kami yakin sebagian warga yang mengirimkan laporan juga berada di luar wilayah atau menggunakan layanan satelit seperti Starlink,” jelas Bakhtiar.
Pernyataan itu menggarisbawahi betapa parahnya kelumpuhan komunikasi di lokasi bencana. Tidak hanya sinyal seluler yang hilang, tetapi juga jaringan listrik padam total, membuat warga yang terperangkap di dalam wilayah bencana nyaris tidak bisa memberikan kabar apa pun.
Hingga Kamis sore, situasi di Sibolga dan Tapanuli Tengah masih mencekam. Banjir dan longsor telah menutup sejumlah ruas jalan utama, membuat akses logistik dan perjalanan darurat terhenti.
Beberapa laporan dari warga yang berada di luar wilayah menyebutkan bahwa kondisi di lokasi terdampak semakin sulit, dengan sejumlah titik terisolasi total.
Tim evakuasi dari berbagai pihak kini berpacu dengan waktu untuk menembus jalan yang tertutup longsor demi menemukan Wali Kota Syukri dan mengevakuasi warga yang masih terperangkap.
Keberadaan Wali Kota Sibolga hingga saat ini belum diketahui, sementara kondisi cuaca juga belum menunjukkan tanda-tanda membaik.
Dengan curah hujan yang masih tinggi, risiko longsor susulan dan banjir tambahan tetap mengintai. Situasi kritis ini membuat upaya pencarian harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Di tengah bencana yang menghantam banyak wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir, hilangnya kontak dengan seorang kepala daerah menjadi alarm keras tentang betapa ekstremnya dampak cuaca dan minimnya kesiapan infrastruktur menghadapi kondisi luar biasa.
Warga Sibolga dan Tapanuli Tengah kini menaruh harapan besar pada tim penyelamat untuk menemukan Wali Kota Syukri dalam keadaan selamat, sekaligus memulihkan kondisi daerah mereka yang lumpuh total akibat bencana beruntun tersebut.







