INBERITA.COM, Aktivitas vulkanik Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali menunjukkan peningkatan signifikan.
Dalam rentang waktu satu hari, Jumat (28/11/2025), gunung api aktif tersebut tercatat meletus sebanyak empat kali.
Setiap letusan memuntahkan kolom abu dengan ketinggian berbeda, mulai dari 500 hingga 800 meter di atas puncak, atau setara 1.825 hingga 2.125 meter di atas permukaan laut.
Kondisi ini mempertegas status Gunung Ibu yang masih berada pada Level II atau Waspada. Laporan otoritas vulkanologi menunjukkan bahwa intensitas abu cenderung tebal dan konsisten bergerak ke arah tenggara, menandakan dinamika internal gunung yang belum stabil.
Dalam konteks mitigasi bencana, pola sebaran abu yang tetap ini menjadi perhatian khusus bagi warga di wilayah terpapar, terutama permukiman dan lahan pertanian yang berada pada zona rawan abu vulkanik.
Letusan pertama terjadi pada pukul 08.17 WIT. Saat itu, kolom abu teramati setinggi 500 meter di atas puncak dengan warna kelabu dan intensitas tebal.
“Kolom abu bergerak ke arah tenggara,” demikian laporan PVMBG yang mengonfirmasi aktivitas tersebut. Seismograf merekam amplitudo maksimum 10 mm dengan durasi gempa vulkanik mencapai 66 detik.
Data ini menunjukkan adanya tekanan magma yang cukup kuat di dalam kantung magma Gunung Ibu dan menjadi penanda awal aktivitas berulang pada hari yang sama.
Tidak berselang lama, sekitar satu jam delapan menit kemudian atau tepatnya pukul 10.00 WIT, letusan kedua terjadi.
Kali ini kolom abu meningkat menjadi 600 meter di atas puncak atau setara 1.925 meter di atas permukaan laut.
Meskipun arah pergerakan abu tetap ke tenggara, amplitudo maksimum erupsi kedua mencapai 28 mm dengan durasi 75 detik — lebih besar daripada erupsi pertama.
Hal ini memperlihatkan adanya peningkatan tekanan internal yang mendorong abu dan material vulkanik ke permukaan dengan kekuatan lebih tinggi.
Erupsi tidak berhenti pada pagi dan siang hari. Aktivitas Gunung Ibu kembali meningkat menjelang sore. Pada pukul 16.20 WIT, erupsi ketiga terjadi dan menjadi yang terbesar pada hari itu.
Kolom abu tercatat mencapai ketinggian 800 meter di atas puncak atau 2.125 meter di atas permukaan laut.
Warna abu kelabu pekat menandakan volume material vulkanik yang lebih besar. Arah sebaran masih konsisten ke tenggara, memperlihatkan pola angin yang stabil di sekitar puncak.
Seismograf kembali mencatat amplitudo maksimum 28 mm dengan durasi 74 detik, menunjukkan pola erupsi eksplosif yang masih dipengaruhi tekanan magma berulang.
Menjelang malam, Gunung Ibu kembali meletus untuk keempat kalinya. Erupsi terjadi pada pukul 18.48 WIT dengan kolom abu setinggi 600 meter di atas puncak atau 1.925 meter di atas permukaan laut.
Intensitas abu tetap tebal dan arah pergerakan tidak berubah, yaitu ke tenggara. Meski tidak setinggi letusan ketiga, erupsi keempat menandakan aktivitas vulkanik Gunung Ibu masih berada pada fase fluktuatif dan berpotensi memunculkan letusan susulan.
Rangkaian letusan beruntun dalam satu hari ini menunjukkan bahwa Gunung Ibu berada dalam fase aktif yang perlu diantisipasi secara serius.
Penguatan status kewaspadaan dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap berada dalam zona aman, terutama karena erupsi Gunung Ibu dikenal sering bersifat berulang dan dapat meningkat secara tiba-tiba.
Keberadaan kolom abu dengan intensitas tebal juga menjadi perhatian utama bagi sektor transportasi udara, pertanian, serta kesehatan masyarakat yang rentan terhadap paparan abu vulkanik.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Ibu, terus berkembang seiring dinamika tektonik di wilayah Cincin Api Pasifik.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat di sekitar Halmahera Barat diimbau tetap mengikuti arahan resmi dari PVMBG, BPBD daerah, serta petugas pos pengamatan gunung api.
Dengan empat letusan yang terjadi berturut-turut dalam kurun waktu kurang dari 12 jam, kewaspadaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, publik juga diingatkan untuk terus mengikuti informasi perkembangan gunung api dari sumber resmi agar tidak terjebak oleh kabar simpang siur.
Aktivitas Gunung Ibu yang berulang pada hari yang sama ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana geologi, terutama bagi masyarakat di wilayah rawan bencana di Maluku Utara.







