INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru ketika Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Oman.
Ia menyatakan siap membombardir negara Teluk itu apabila dinilai menghalangi upaya Washington dalam menyelesaikan konflik dengan Iran. Ancaman tersebut muncul tepat saat gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan resmi, meninggalkan ketidakpastian yang semakin dalam.
Trump menegaskan posisi AS dalam wawancara dengan Fox News, mendesak Iran untuk “mengibarkan bendera putih” sebagai tanda menyerah.
Ia menilai Teheran sebagai “pemain poker hebat” yang kini tengah sekarat, namun tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan sembari menekankan bahwa tujuan utama AS tetap mencegah Iran memiliki senjata nuklir, dalam bentuk apa pun.
Krisis ini semakin kompleks karena Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut 20% pasokan minyak dan gas dunia, kini nyaris lumpuh.
Data Kpler menunjukkan hanya tiga kapal yang melintas pada Minggu, jauh di bawah rata-rata normal 130 kapal per hari sebelum perang dimulai pada Februari 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor dan menekan harga bahan bakar global.
Oman sendiri tengah terlibat dalam pembicaraan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Upaya diplomatik ini berlangsung di tengah blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang semakin memperumit situasi.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi bahkan menegaskan tidak ada negosiasi langsung antara Teheran dan Washington, meski Qatar dan Pakistan bertindak sebagai perantara.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Selat Hormuz tetap menjadi milik Iran.
Ia menyatakan selat tersebut hanya akan dibuka atau ditutup atas perintah Teheran, menegaskan kedaulatan negara tersebut. Pernyataan ini semakin memperuncing ketegangan, terutama setelah gencatan senjata berakhir tanpa kesepakkan yang jelas.
Di Washington, tekanan politik terhadap Trump semakin meningkat menjelang pemilihan paruh waktu November.
Konflik yang tidak populer di dalam negeri ini berisiko memengaruhi kendali Kongres AS. Namun Trump menepis hubungan antara strateginya dengan Iran dan pemilu, menyatakan pemikirannya tidak dipengaruhi oleh agenda politik.
Sementara itu, pembicaraan informal antara AS dan Garda Revolusi Iran disebut-sebut tengah berlangsung.
Trump mengakui Iran sebagai pihak yang mahir dalam negosiasi, namun menegaskan Washington tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Ia menilai Iran tengah terdesak, namun tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kompromi.
Kondisi Selat Hormuz yang semakin tidak menentu memaksa para pelaku industri perkapalan untuk bersiap menghadapi ketidakpastian.
Pakar perkapalan HSBC Parash Jain menekankan perlunya memasukkan skenario terburuk dalam asumsi bisnis, mengingat kekacauan saat ini telah menjadi hal yang biasa dalam industri. Hal ini menambah beban bagi perusahaan-perusahaan yang bergantung pada jalur perdagangan vital tersebut.
Dengan berakhirnya gencatan senjata tanpa kesepakatan, masa depan Selat Hormuz kini berada di titik kritis. Ancaman Trump kepada Oman menambah dimensi baru dalam konflik yang telah memasuki bulan keenam.
Dunia kini menantikan langkah selanjutnya, baik dari Washington maupun Teheran, dalam upaya meredakan ketegangan yang semakin memanas.







