INBERITA.COM, Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mengungkapkan adanya gelombang relokasi pabrik yang semakin meluas, khususnya untuk sektor industri alas kaki dan garmen.
Relokasi ini terutama melibatkan perusahaan yang memproduksi barang untuk merek internasional dan berorientasi pada ekspor.
Ristadi, Presiden KSPN, menjelaskan bahwa keputusan ini didorong oleh kebutuhan pengusaha untuk mencari biaya tenaga kerja yang lebih rendah dan kompetitif.
“Pengusaha ini tentu mencari labor cost yang lebih murah, karena itu sudah menjadi kebiasaan mereka,” ujar Ristadi dalam wawancara dengan awak media pada Jumat (21/11/2025).
Menurut Ristadi, Jawa Tengah menjadi salah satu tujuan utama para pengusaha yang ingin menekan biaya operasional. Wilayah ini menawarkan upah minimum yang relatif rendah, sekitar Rp2 juta, kecuali di kawasan pusat seperti Semarang Raya.
Di sisi lain, wilayah Jawa Barat juga menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan oleh banyak pengusaha untuk relokasi, terutama kawasan Rebana, yang meliputi Majalengka, Cirebon, Indramayu, hingga Kuningan.
Daerah-daerah ini juga menawarkan upah minimum yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah industri utama lainnya.
Tantangan Produktivitas Pekerja di Lokasi Baru Namun, relokasi pabrik bukan tanpa tantangan.
Ristadi menyebutkan bahwa meskipun Jawa Tengah dan sejumlah wilayah di Jawa Barat menawarkan upah lebih rendah, mencari tenaga kerja terampil di daerah-daerah ini bisa menjadi sulit.
Hal ini berpotensi menurunkan produktivitas pabrik, mengingat pekerja di daerah tersebut mungkin tidak memiliki keterampilan yang sebanding dengan pekerja yang sudah terbiasa bekerja di lokasi-lokasi dengan upah lebih tinggi.
“Dari beberapa kali kami berdiskusi dengan pengusaha, mereka mengakui bahwa produktivitas di lokasi baru tidak sebagus di daerah dengan upah lebih tinggi. Hal ini jadi pertimbangan penting dalam proses relokasi,” ujar Ristadi.
Pengaruh Relokasi terhadap Industri Alas Kaki Di sisi lain, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) juga menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak relokasi pabrik terhadap industri alas kaki.
Yoseph Billie Dosiwoda, Direktur Eksekutif Aprisindo, menjelaskan bahwa badai PHK yang melanda industri alas kaki pada awal tahun ini disebabkan oleh kesulitan perusahaan memenuhi biaya upah yang semakin meningkat.
“Pengusaha menghadapi regulasi upah yang terus berubah dan terkadang meningkat pesat. Banyak perusahaan yang tidak mampu memenuhi biaya upah tersebut, dan ini menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK),” kata Billie.
Masa Depan Relokasi Pabrik: Kekuatan Modal Menjadi Kunci Menurut Ristadi, keberlanjutan relokasi pabrik sangat bergantung pada kekuatan modal masing-masing perusahaan.
Perusahaan dengan modal besar, terutama yang telah berorientasi ekspor, lebih cenderung untuk melakukan relokasi, meskipun ada tantangan terkait produktivitas pekerja di lokasi baru.
Keputusan ini, menurut Ristadi, bukan hanya soal biaya tenaga kerja, tetapi juga strategi bisnis yang harus disesuaikan dengan kondisi pasar dan ketersediaan tenaga kerja terampil.
Relokasi pabrik ke daerah dengan upah murah dapat menjadi solusi sementara bagi perusahaan yang kesulitan menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja.
Namun, keputusan tersebut memerlukan perhitungan matang terkait keseimbangan antara biaya, produktivitas, dan keberlanjutan operasional.
Kesimpulan Gelombang relokasi pabrik ke Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi langkah yang semakin populer bagi pengusaha yang mencari biaya operasional lebih rendah.
Namun, tantangan terkait produktivitas dan ketersediaan tenaga kerja terampil di lokasi baru menjadi hambatan yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, industri alas kaki menghadapi kesulitan dengan regulasi upah yang tinggi dan sering berubah, yang mengarah pada tingginya angka PHK. (xpr)







