INBERITA.COM, Lonjakan antrean bahan bakar minyak (BBM) subsidi di sejumlah SPBU di Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan, menyusul perubahan pola konsumsi masyarakat yang beralih dari BBM non-subsidi ke jenis yang lebih terjangkau.
Fenomena ini tidak hanya menciptakan kepadatan ekstrem di area pengisian, tetapi juga berdampak pada terganggunya arus lalu lintas di sejumlah titik kota.
Di berbagai SPBU, antrean kendaraan tampak mengular sejak pagi hingga malam hari. Bahkan, di beberapa lokasi, barisan kendaraan meluber hingga ke badan jalan, memperparah kemacetan dan menimbulkan keluhan dari pengguna jalan lainnya.
Kondisi ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Pekanbaru dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Perubahan ini diduga kuat dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang mengalami penyesuaian sejak April 2026.
Kenaikan harga tersebut membuat sebagian besar masyarakat, termasuk pengguna kendaraan kelas menengah, mulai meninggalkan BBM dengan oktan lebih tinggi dan beralih ke Pertalite yang lebih murah.
Pihak Pertamina tidak menampik adanya lonjakan konsumsi yang signifikan. Section Head Commrel Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Romi, menyebut perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama di balik situasi ini.
“Peningkatan ini juga disebabkan banyaknya masyarakat yang beralih dari Pertamax ke Pertalite,” kata Romi saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, lonjakan permintaan ini terjadi dalam waktu relatif singkat, sehingga distribusi di lapangan harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan yang meningkat tajam.
“Kami terus berkoordinasi dengan tim terkait supaya pelayanan ke masyarakat tetap terjaga,” imbuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut telah meningkatkan pasokan BBM subsidi, khususnya Pertalite dan Solar, hingga 20 persen. Kebijakan ini diharapkan mampu meredam tekanan permintaan di lapangan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya efektif. Hingga Minggu (3/5/2026), antrean panjang masih terjadi di berbagai SPBU.
Bahkan, di beberapa titik dilaporkan terjadi kekosongan stok BBM subsidi, yang semakin memperparah situasi.
Pertamina pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang berpotensi memperburuk distribusi.
“Kita mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta melakukan pembelian BBM secara bijak sesuai kebutuhan agar distribusi energi dapat berjalan merata dan tepat sasaran,” tuturnya.
Di sisi lain, dampak kebijakan harga ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk pemilik kendaraan dengan kategori menengah ke atas. Sejumlah pengguna mobil yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax kini terpaksa beralih demi menekan pengeluaran harian.
Yadi, seorang pengendara Toyota Innova, mengaku sudah sekitar satu minggu meninggalkan Pertamax. Ia menilai harga BBM non-subsidi saat ini tidak lagi sesuai dengan kondisi keuangannya.
“Biasanya saya isi Pertamax, dan kadang Pertamax-nya yang turbo. Tapi sekarang harganya kan gila-gilaannya, terpaksa beralih ke Pertalite. Harga Pertamax sudah tinggi, apalagi yang Turbo di atas Rp20 ribu per liter, jelas berat apalagi dipakai setiap hari. Saya bukannya sukses kali, mana sanggup beli BBM harga segitu,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Rizal, pengguna Mitsubishi Pajero, yang mengaku harus menyesuaikan pengeluaran karena meningkatnya biaya hidup.
“Saya anak empat, semua sekolah. Kerja usaha kecil-kecilan, tak mungkin uang banyak dihabiskan untuk beli BBM saja, sementara anak-anak saya semua butuh biaya,” tuturnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat luas, terutama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi. Peralihan massal dari BBM non-subsidi ke subsidi bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi strategi bertahan bagi sebagian warga.
Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan tantangan baru bagi pemerintah dan penyedia energi dalam menjaga keseimbangan distribusi BBM.
Lonjakan konsumsi yang tidak terduga berpotensi mengganggu ketepatan sasaran subsidi, terutama jika pengguna dari kelompok ekonomi menengah ke atas terus beralih ke BBM bersubsidi.
Situasi di Pekanbaru menjadi gambaran nyata bagaimana kebijakan harga energi dapat berdampak langsung pada perilaku konsumen dan stabilitas distribusi di lapangan.
Tanpa penyesuaian sistem distribusi dan pengawasan yang ketat, antrean panjang dan kelangkaan BBM subsidi berpotensi terus berlanjut.
Hingga saat ini, masyarakat masih harus menghadapi ketidakpastian terkait ketersediaan BBM subsidi di SPBU.
Sementara itu, langkah-langkah penyesuaian dari pihak terkait diharapkan dapat segera memberikan solusi konkret agar distribusi kembali normal dan tidak terus membebani aktivitas warga sehari-hari.







