Video “Aku Bukan Teddy” Picu Polemik, Qodari Sebut Amien Rais Korban Hoaks

Amien Rais Dinilai Sebarkan Hoaks soal Prabowo Teddy, Qodari Angkat BicaraAmien Rais Dinilai Sebarkan Hoaks soal Prabowo Teddy, Qodari Angkat Bicara
Qodari Sayangkan Amien Rais Percaya Konten Hiburan Jadi Fakta.

INBERITA.COM, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) M. Qodari menyayangkan pernyataan tokoh senior Amien Rais yang dinilai telah terpengaruh dan turut menyebarkan informasi tidak benar atau hoaks terkait Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Pernyataan tersebut mencuat setelah Amien Rais mengulas isu tersebut melalui kanal YouTube pribadinya.

Dalam keterangannya, Qodari mengaku prihatin melihat figur publik sekaliber Amien Rais justru menjadi korban informasi yang menyesatkan.

Ia menilai, sebagai seorang akademisi dan profesor, Amien seharusnya dapat lebih cermat dalam memverifikasi kebenaran suatu informasi sebelum menyampaikannya ke publik.

“Saya sebetulnya prihatin ya, melihat video Pak Amien Rais itu. Prihatinnya adalah Pak Amien Rais sebagai tokoh, akademisi, dan profesor doktor, telah menjadi korban dari hoaks,” ujar Qodari dalam keterangannya yang diizinkan untuk dikutip, Sabtu (2/5/2026).

Menurut Qodari, sumber utama kekeliruan tersebut berasal dari sebuah video lagu berjudul “Aku Bukan Teddy” yang beredar di media sosial.

Dalam narasi yang berkembang, Amien Rais menganggap lagu tersebut dinyanyikan oleh Titiek Soeharto. Namun, Qodari menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak berdasar karena video tersebut merupakan hasil manipulasi.

Ia menjelaskan bahwa konten yang dimaksud hanyalah kompilasi gambar dan audio yang disusun sedemikian rupa untuk tujuan hiburan, bukan representasi fakta yang sebenarnya.

Qodari menilai, kesalahan dalam memahami konteks konten tersebut menjadi akar munculnya kesimpulan yang keliru.

“Kenapa korban hoaks? Karena dasar penilaiannya adalah sebuah akun yang berisi lagu berjudul ‘Aku Bukan Teddy’ yang dianggap oleh Pak Amien Rais dinyanyikan oleh Ibu Titiek. Padahal kalau kita tonton, jelas satu, yang nyanyi bukan Ibu Titiek. Kedua, gambar Ibu Titiek di situ adalah kompilasi atau kolase dari berbagai gambar yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan lagu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Qodari mengungkapkan bahwa akun yang pertama kali mengunggah video tersebut sebenarnya telah memberikan penjelasan atau disclaimer bahwa konten itu dibuat semata-mata untuk kepentingan hiburan.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa konten semacam itu bisa saja memiliki muatan politik yang kemudian disalahartikan oleh sebagian pihak.

Peristiwa ini, kata Qodari, menjadi contoh nyata bagaimana pesatnya perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), dapat dimanfaatkan untuk menciptakan konten manipulatif yang sulit dibedakan dari kenyataan.

Ia menilai, fenomena ini harus menjadi perhatian serius, terutama di tengah maraknya penyebaran informasi melalui media sosial.

Qodari juga menekankan bahwa siapa pun, tanpa memandang latar belakang pendidikan atau pengalaman, berpotensi menjadi korban hoaks jika tidak berhati-hati dalam menyaring informasi.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu konten.

“Jadi ini contoh dari bahaya hoaks di medsos, bahaya dari AI. Bagaimana seorang tokoh sepintar dan sesenior Pak Amien Rais bisa menjadi korban hoaks. Jadi statement dari Pak Amien Rais tentang Teddy itu dasarnya adalah hoaks,” pungkasnya.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya literasi digital di era informasi saat ini. Kemampuan membedakan antara fakta dan manipulasi menjadi kunci untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat memicu kesalahpahaman di ruang publik.