INBERITA.COM, Fenomena viral di media sosial terkait pujian publik terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendapat sorotan tajam dari penulis terkenal Indonesia, Tere Liye.
Dalam unggahan terbaru di akun media sosial pribadinya, Tere Liye menyoroti bagaimana netizen dinilai terlalu cepat memuja Purbaya, bahkan sebelum rekam jejak kebijakan jangka panjangnya benar-benar terbukti.
Penulis bernama asli Darwis ini membuka pernyataannya dengan refleksi pribadi sebagai penulis yang sudah mulai menulis sejak usia 16 tahun. Ia menyebut bahwa menulis bukan sekadar mencatat peristiwa, tapi juga menyimpan ingatan yang sulit dihapus begitu saja.
“Kalian tahu ‘kutukan’ seorang penulis? Sy itu nulis di koran2 (bukan medsos), sejak SMA kelas 2, usia 16 tahun. Lantas sy terus menulis. Nerbitin buku, koran nasional, nulis di medsos, dll dsbgnya,” tulisnya, Selasa (14/10/2025).
Menurutnya, “kutukan” itu membuat seorang penulis seperti dirinya dipaksa untuk terus mengingat banyak hal.
Apa yang pernah ditulis akan meninggalkan jejak fisik dan digital yang abadi. Maka, ketika ia melihat respons publik yang ramai-ramai mendukung Purbaya, ia merasa seperti sedang membaca ulang tulisan-tulisan lamanya.
“Maka artinya apa? Saat membaca lagi tulisan-tulisan lama, saya hanya bisa menghela napas. Ini ternyata hanya mengulang-ulang saja,” lanjut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.
Ia menyinggung tingkah laku netizen yang menurutnya terlalu cepat memberikan dukungan berlebihan pada Menteri Purbaya.
“Kalian cepat sekali menjilat Purbaya deh,” tulisnya blak-blakan.
Tere Liye kemudian membandingkan situasi ini dengan euforia serupa saat Sri Mulyani pertama kali menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia menyebut, dahulu Sri Mulyani juga dielu-elukan sebagai figur reformis dan visioner.
Bahkan, gelar “menteri keuangan terbaik dunia” yang disematkan kepadanya pun bukan sekadar pujian kosong.
“Di awal-awal jabatannya, duh Rabbi, yang mengelu-elukannya, yang love sekebon, yang memujanya jutaan,” tulisnya, menggambarkan antusiasme publik saat itu.
Ia pun menyoroti sederet kebijakan Sri Mulyani yang berdampak langsung pada masyarakat, terutama kalangan aparatur sipil negara (ASN) seperti tukin, gaji ke-13, THR, kenaikan gaji dua digit, hingga stabilitas ekonomi saat krisis 2008.
“Panjang daftarnya,” tulisnya.
“Dulu, aduh aduh, kebijakan Sri Mulyani itu dipuja-puji, dan betulan berdampak setidaknya bagi jutaan PNS. Dia juga mengawal sertifikasi guru (meskipun yang mutusin Menkeu sebelumnya). Nah, Purbaya, dia sudah naikin gaji PNS 15% belum?” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan pengalaman pribadi sebagai penulis terkait regulasi pajak. Menurutnya, meskipun masih ada persoalan terkait pajak pertambahan nilai (PPN) buku cetak, Sri Mulyani setidaknya pernah menyetujui penggunaan NPPN dalam waktu singkat.
“Bahkan sejelek-jeleknya Sri Mulyani, dia hanya butuh 12 jam saja menyetujui penulis bisa pakai NPPN,” ungkapnya.
Namun, ia juga mengingatkan bagaimana akhir dari perjalanan Sri Mulyani sebagai pejabat publik. Meski banyak jasanya, Sri Mulyani pada akhirnya juga menghadapi tekanan besar hingga harus mundur.
“Lantas apa nasib Sri Mulyani di akhir? Paham tidak?” sindirnya.
Tere Liye menilai siklus pemujaan terhadap pejabat publik di Indonesia sangat cepat berubah dan tidak konsisten. Hal ini menurutnya menjadi cerminan yang menyedihkan.
“Sungguh malang sebuah bangsa, yang bersorak sorai menurunkan paksa pemimpinnya, untuk kemudian bersorak sorai mengangkat pengganti baru, memuja-mujinya, lantas besok-besok kembali bersorak sorai menurunkannya lagi, menggantinya dengan pemimpin baru yang lagi-lagi besok-besok diturunkan paksa, begituuuu saja.” ungkapnya.
Ia pun mengajak publik, terutama warganet, untuk bersikap lebih dewasa dan rasional dalam menyikapi pejabat publik.
“Maka wahai netizen, mulailah B (biasa) saja. Selalu kritis. Berhenti muja-muji di medsos, dan cuih!” tulisnya dengan nada tegas.
Menurutnya, sikap netral dan objektif jauh lebih penting daripada fanatisme terhadap sosok pejabat. Ia bahkan mengingatkan agar masyarakat berhenti bertengkar di media sosial hanya demi membela tokoh-tokoh pemerintahan.
“Berhenti kamu bertengkar, berantem, saling berbalas komen gara-gara belain pejabat. Unfol, benci. Itu tuh tolol! Banget,” tutup penulis novel-novel best seller tersebut.
Unggahan ini pun langsung menyita perhatian publik dan mengundang berbagai reaksi, baik yang mendukung pandangannya maupun yang menanggapinya dengan kritis.
Namun satu hal yang pasti, Tere Liye kembali berhasil menyuarakan keresahan publik melalui gaya bahasa lugas dan reflektif khas dirinya.
Di tengah dinamika politik dan kebijakan publik yang berubah-ubah, peringatan Tere Liye mungkin menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tidak larut dalam euforia sesaat, melainkan tetap kritis dan bijak dalam menyikapi setiap pemimpin yang muncul. (xpr)







