Misteri Rumah Terbakar hingga 39 Kali dalam Seminggu di Sleman, Dugaan Gas Metana Kini Diselidiki Ahli UGM

Teror api misterius slemanTeror api misterius sleman
Sejumlah barang rumah tangga hangus terbakar akibat kemunculan api berulang di berbagai titik rumah.

INBERITA.COM, Fenomena kebakaran berulang yang menimpa sebuah rumah di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menyita perhatian publik.

Setelah hampir sepekan berlangsung, api masih muncul secara sporadis di berbagai sudut rumah milik Mutfiana, warga Padukuhan Mriyan X, Margomulyo, meskipun sejumlah langkah penanganan telah dilakukan.

Peristiwa yang awalnya dianggap sebagai kebakaran biasa kini berkembang menjadi kasus yang memancing rasa penasaran masyarakat.

Selain aparat kepolisian dan tim penanggulangan bencana, kalangan akademisi hingga warga dari berbagai daerah ikut menaruh perhatian terhadap kejadian yang dinilai tidak lazim tersebut.

Menurut Mutfiana, kebakaran pertama terjadi pada Sabtu dini hari. Sejak saat itu, api terus muncul di lokasi yang berbeda-beda tanpa pola yang jelas. Dalam catatan keluarga, hingga akhir pekan ini telah terjadi sedikitnya 39 kali kebakaran di 34 titik berbeda di dalam rumah.

Barang-barang yang terbakar sebagian besar merupakan material yang mudah terbakar seperti pakaian, tikar, handuk, furnitur, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya.

Yang membuat keluarga heran, beberapa benda hanya terbakar sebagian tanpa merembet ke bagian lain yang berada tepat di bawah atau di sekitarnya.

“Masih ada kebakaran, lokasinya juga pindah-pindah. Terakhir membakar handuk di kamar yang sebelumnya belum pernah muncul api,” ujar Mutfiana kepada awak media.

Ia mengaku tidak pernah melihat adanya percikan api, hubungan arus pendek listrik, maupun ledakan sebelum kebakaran terjadi. Dalam banyak kejadian, keluarga hanya mendapati benda tertentu tiba-tiba sudah dalam kondisi terbakar.

Keanehan itulah yang membuat kasus ini berkembang menjadi perbincangan luas. Tidak sedikit warga yang datang langsung ke lokasi untuk melihat kondisi rumah.

Bahkan, sejumlah orang yang mengaku memiliki kemampuan spiritual juga berdatangan dan mencoba memberikan penjelasan versi masing-masing.

Mutfiana mengaku rumahnya sempat ramai didatangi orang-orang yang ingin mengetahui penyebab kebakaran. Beberapa di antaranya bahkan mencoba mengaitkan peristiwa tersebut dengan hal-hal mistis.

Namun di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, aparat dan para ahli memilih fokus pada pendekatan ilmiah untuk mengungkap penyebab sebenarnya.

Sebelumnya, Tim Gegana Polda DIY telah melakukan penyisiran di lokasi dan menemukan indikasi adanya kebocoran gas metana dari septic tank rumah tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, saluran pembuangan gas diduga tidak sesuai standar sehingga memungkinkan gas masuk ke dalam bangunan.

Atas rekomendasi tersebut, keluarga langsung melakukan perbaikan pada sistem septic tank. Namun setelah perbaikan dilakukan, kemunculan api ternyata masih terus terjadi, terutama pada malam hari.

Menurut informasi yang diterima keluarga dari petugas, kemungkinan masih terdapat sisa akumulasi gas metana di dalam tanah yang belum sepenuhnya hilang.

Proses pelepasan gas tersebut diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu bahkan berbulan-bulan tergantung kondisi lingkungan.

Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih belum dapat disimpulkan. Karena itu, sejumlah ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) akan diterjunkan untuk melakukan investigasi lebih mendalam.

Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi Fakultas Teknik UGM, Prof Alva Edy Tontowi, mengatakan pihaknya menyiapkan tujuh orang ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk melakukan observasi lapangan.

Tim tersebut terdiri atas pakar dari Departemen Teknik Mesin dan Industri, Teknik Nuklir dan Fisika, Teknik Sipil dan Lingkungan, serta Geologi.

Mereka akan meneliti sumber kemunculan api, kondisi bangunan, karakteristik lingkungan sekitar, hingga kemungkinan faktor-faktor teknis lain yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut.

Menurut Prof Alva, fenomena serupa sebenarnya pernah ditemukan di sejumlah wilayah lain dan umumnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Beberapa kasus melibatkan gas metana, biogas, hingga kebocoran instalasi tertentu yang memicu munculnya titik api.

“Kami ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi sehingga masyarakat mendapatkan penjelasan yang jelas dan berbasis ilmiah,” ujarnya.

Analisis awal juga datang dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY. Berdasarkan kajian geologi regional, wilayah Seyegan dinilai tidak memiliki karakteristik yang mendukung keberadaan cadangan gas alam bawah permukaan.

Kepala Dinas PUPESDM DIY, Anna Rina Herbranti, menjelaskan kawasan tersebut didominasi endapan vulkanik muda yang bersifat berpori.

Kondisi itu memungkinkan gas organik dari sumber lokal, seperti septic tank, merembes ke permukaan melalui rekahan atau pori-pori tanah.

Ia menilai kemungkinan terbesar berasal dari akumulasi gas metana dalam skala lokal, bukan dari sumber gas alam yang lebih besar.

Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa seluruh kemungkinan masih akan diteliti lebih lanjut melalui observasi lapangan bersama BPBD, PLN, aparat kepolisian, serta tim akademisi.

Hingga kini, keluarga Mutfiana masih hidup dalam kewaspadaan tinggi. Sejumlah barang telah dipindahkan untuk mengurangi risiko kerugian, sementara pemantauan dilakukan hampir tanpa henti setiap kali malam tiba.

Kasus ini menjadi perhatian karena tidak hanya menyangkut keselamatan penghuni rumah, tetapi juga penting sebagai pembelajaran mengenai potensi bahaya gas organik yang sering kali tidak disadari keberadaannya.

Hasil investigasi para ahli diharapkan dapat memberikan jawaban yang lebih pasti sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.