Mengapa Banyak Mal di Indonesia Semakin Sepi? Ini Penyebabnya Menurut APBI

Suasana salah satu mall yang sangat sepi di jakartaSuasana salah satu mall yang sangat sepi di jakarta

INBERITA.COM, Saat ini, sejumlah pusat perbelanjaan di Indonesia semakin sepi pengunjung, bahkan ada yang terpaksa menutup toko-toko mereka karena tidak mampu mendatangkan pengunjung.

Beberapa mal yang masih bertahan pun hanya menyisakan beberapa toko yang beroperasi. Salah satu contohnya adalah Grand Mall Bekasi yang terpaksa tutup permanen, sementara Borobudur Plaza hanya buka menjelang Hari Raya Lebaran.

Lalu, apa yang menyebabkan mal-mal di Indonesia semakin sepi?

Menurut Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBI), ada dua permasalahan utama yang menyebabkan penurunan kunjungan ke pusat perbelanjaan: permasalahan fundamental dan faktor eksternal yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan mikroekonomi.

1. Permasalahan Fundamental: Perubahan Gaya Hidup

Alphonzus menjelaskan bahwa salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh pusat perbelanjaan saat ini adalah perubahan gaya hidup masyarakat.

Sebagai tempat yang identik dengan aktivitas belanja, mal kini harus mampu beradaptasi dengan tren gaya hidup yang terus berubah.

“Dulu, pusat perbelanjaan hanya dilihat sebagai tempat untuk berbelanja, tetapi sekarang pengunjung mencari pengalaman lebih dari sekadar transaksi jual beli,” kata Alphonzus dalam konferensi pers Indonesia Great Sale 2025 di Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Perubahan ini semakin terasa setelah pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Selama pandemi, banyak aktivitas yang dilakukan secara daring, termasuk berbelanja.

Ketika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dicabut, masyarakat lebih mendambakan interaksi sosial secara langsung dengan sesama, bukan sekadar berbelanja.

Setelah pandemi, masyarakat beralih mencari tempat-tempat yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi sosial, seperti bertemu dengan teman-teman atau keluarga secara langsung.

Sementara itu, banyak pusat perbelanjaan yang tidak siap memenuhi kebutuhan ini dengan menyediakan fasilitas yang mendukung sosialiasi, seperti tempat duduk yang nyaman, kedai kopi, atau ruang terbuka yang bisa menampung banyak orang.

“Jika pusat perbelanjaan tidak bisa menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut, maka pengunjung akan mencari tempat lain untuk bersosialisasi,” tambahnya.

Salah satu contoh mal yang berhasil mengakomodasi kebutuhan ini adalah Central Park Mall, yang memiliki Tribeca Park, sebuah ruang terbuka dengan banyak tempat duduk yang cocok untuk bersosialisasi.

2. Permasalahan Eksternal: Daya Beli Masyarakat yang Lemah

Selain masalah gaya hidup, ada juga faktor eksternal yang memengaruhi sepinya pengunjung mal, terutama terkait dengan daya beli masyarakat.

Alphonzus mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sejak pandemi.

Selain itu, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin marak juga memperburuk keadaan.

“Masyarakat yang kehilangan pekerjaan atau penghasilan, tentu akan lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk berbelanja,” kata Alphonzus.

Di tengah kondisi ini, asosiasi pengelola mal berharap pemerintah bisa segera mengatasi masalah daya beli masyarakat dengan program-program yang mendukung pemulihan ekonomi.

Untuk sementara, asosiasi berusaha menarik kembali pengunjung dengan menggelar Indonesia Great Sale 2025, sebuah program diskon besar-besaran yang berlangsung dari 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Program ini menawarkan diskon mulai 20% hingga 80% dan tambahan diskon 11% bagi wisatawan mancanegara yang menunjukkan paspor saat berbelanja.

“Diskon besar ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja di pusat perbelanjaan dan membantu meningkatkan daya beli, meskipun masalah fundamental tidak bisa segera diatasi,” tambahnya.

Sebagai penutup, Alphonzus menekankan bahwa perubahan dalam gaya hidup dan kondisi ekonomi makro serta mikro yang tidak menguntungkan merupakan tantangan besar bagi industri pusat perbelanjaan di Indonesia.

Untuk tetap relevan, mal perlu bertransformasi, tidak hanya sebagai tempat untuk berbelanja, tetapi juga sebagai tempat yang menawarkan pengalaman sosial bagi pengunjung.

Sementara itu, untuk mengatasi daya beli yang lemah, pemerintah dan pihak terkait perlu berkolaborasi untuk menciptakan gerakan-gerakan yang dapat merangsang konsumsi masyarakat, seperti program Indonesia Great Sale 2025. (xpr)