INBERITA.COM, Sebanyak 52 persen dari total 1.060 perusahaan BUMN dan anak usahanya dilaporkan mengalami kerugian. Hal ini diungkapkan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pandu Patria Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, dalam sesi Antara Business Forum di Hotel The Westin, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11), menyatakan bahwa sekitar 551 BUMN dan anak usaha mengalami kerugian, meskipun ada upaya untuk mempercantik laporan tersebut.
“Yang rugi itu minimum 52 persen, dan itu pun sudah dipercantik-percantik,” ujar Pandu, mengkritisi kinerja banyak perusahaan BUMN yang tidak berhasil berkontribusi signifikan bagi perekonomian negara.
Pandu juga menambahkan bahwa BUMN yang mampu memberikan kontribusi dalam bentuk dividen kepada negara sangat sedikit. Dari 1.060 perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara, hanya delapan perusahaan yang dapat menyumbang dividen bagi negara.
“Dividen yang disumbangkan oleh BUMN itu kurang dari 1 persen, hanya berasal dari 8 perusahaan saja,” kata Pandu.
Upaya Konsolidasi untuk Memperbaiki Kinerja BUMN yang Rugi
Untuk memperbaiki kondisi ini, Danantara berencana melakukan konsolidasi pada BUMN yang mengalami kerugian, terutama bagi perusahaan yang memiliki lini bisnis yang sama.
Pandu Patria Sjahrir mencontohkan langkah konsolidasi yang akan dilakukan, seperti pada sektor asset management yang saat ini memiliki delapan perusahaan BUMN.
Rencananya, jumlah ini akan dikurangi menjadi satu perusahaan besar yang bisa menjadi asset management terbesar di Indonesia dan dapat bersaing di skala regional.
“Contohnya di sektor asset management, kita dari delapan akan diubah jadi satu, dan itu akan menjadi asset management terbesar di Indonesia, yang bisa bersaing di tingkat regional. Ini hanya salah satu contoh, di sektor kesehatan, banyak rumah sakit milik BUMN yang tidak terkelola dengan baik, seperti rumah sakit milik Pertamina yang tersebar tanpa adanya efisiensi,” ujar Pandu, menggambarkan konsolidasi sebagai upaya meningkatkan kinerja dan mengurangi pemborosan di sektor BUMN.
Dividen BUMN 2024 yang Diberikan ke Negara
Meskipun ada banyak BUMN yang mengalami kerugian, beberapa perusahaan milik negara berhasil memberikan kontribusi dalam bentuk dividen yang besar kepada negara.
Berdasarkan laporan Kementerian BUMN, pada 2024, total dividen yang disumbangkan oleh BUMN ke negara mencapai Rp85,5 triliun, yang berasal dari kinerja BUMN sepanjang 2023.
Berikut adalah sepuluh BUMN penyumbang dividen terbesar pada tahun 2024:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI): Rp25,7 triliun
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Mandiri): Rp17,1 triliun
- Holding BUMN Pertambangan MIND ID: Rp11,2 triliun
- PT Pertamina (Persero): Rp9,3 triliun
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk: Rp9,2 triliun
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI): Rp6,2 triliun
- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN): Rp3 triliun
- PT Pupuk Indonesia (Persero): Rp1,2 triliun
- PT Pelabuhan Indonesia (Persero) (Pelindo): Rp1 triliun
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN): Rp420 miliar
Meskipun banyak BUMN mengalami kerugian, beberapa perusahaan tersebut masih mampu memberikan kontribusi yang signifikan untuk perekonomian negara melalui dividen.
Pandemi dan kondisi perekonomian global yang tidak menentu turut menjadi tantangan berat bagi beberapa BUMN dalam menjaga profitabilitas dan efisiensi.
Meski begitu, Danantara berkomitmen untuk melakukan konsolidasi dan mencari cara agar kinerja perusahaan BUMN yang mengalami kerugian dapat diperbaiki dalam jangka panjang.
Melalui langkah-langkah tersebut, Danantara berharap dapat memperbaiki rasio laba dan kerugian yang terjadi di beberapa sektor, dengan tujuan menciptakan perusahaan negara yang lebih kuat dan efisien.
Konsolidasi BUMN juga diharapkan dapat menghasilkan perusahaan yang lebih kompetitif, tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di tingkat regional. (xpr)







