INBERITA.COM, Nilai tukar rial Iran kini terpuruk hingga 2,02 juta per dolar AS, mencatat rekor terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini membuat masyarakat berbondong-bondong ke pasar valuta asing untuk menukar rial mereka dengan dolar demi menyelamatkan nilai tabungan.
Tekanan terhadap rial semakin berat akibat perang yang telah berlangsung hampir enam bulan. Ditambah lagi, ancaman sanksi ekonomi baru dari Amerika Serikat semakin memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap mata uang nasional.
Di pusat Kota Teheran, antrean panjang terlihat di tempat-tempat penukaran uang, menunjukkan betapa gentingnya situasi yang dihadapi warga.
“Tidak ada harapan untuk kesepakatan dan perdamaian,” ungkap Sadegh Mahmoudi, 73 tahun, kepada awak media internasional saat menunggu gilirannya di tempat penukaran.
Pernyataan tersebut mencerminkan keputusasaan masyarakat yang melihat nilai rial terus merosot tanpa batas.
Sejak November lalu, rial telah mengalami tekanan berat akibat sanksi Barat yang berlangsung bertahun-tahun. Inflasi yang tinggi dan kondisi ekonomi yang memburuk akibat perang semakin memperparah keadaan.
Kesenjangan antara nilai resmi dan nilai pasar rial semakin melebar, menyulitkan masyarakat dalam melakukan transaksi sehari-hari.
Bank Sentral Iran menetapkan kurs resmi sekitar 1,5 juta rial per dolar AS. Namun, masyarakat lebih mengandalkan kurs pasar yang jauh lebih tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Merosotnya nilai rial berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok, membuat masyarakat semakin sulit mempertahankan daya beli mereka.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump telah membawa tekanan ekonomi Iran ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam sebuah opini di Financial Times, Bessent menulis, “Presiden Trump menghancurkan ekonomi Iran hingga rial menjadi yang terlemah dan inflasi berada pada tingkat yang sangat tinggi.”
Washington kini bersiap mengumumkan paket sanksi tambahan terhadap Iran. Bessent memperingatkan bahwa tekanan finansial baru tersebut diarahkan untuk semakin mempersempit ruang gerak ekonomi pemerintahan Iran. Ia bahkan mengatakan sanksi tersebut berpotensi “meruntuhkan rezim.”
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Trump melalui media sosial dengan kalimat yang singkat namun tegas. Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab, salah satu mitra dagang terbesar Teheran, menghentikan seluruh perdagangan dengan Iran.
Langkah ini berpotensi semakin memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan akibat sanksi, perang, dan melemahnya mata uang nasional.
Pemerintah Iran memperingatkan bahwa tekanan ekonomi tambahan dari Amerika Serikat dapat memicu konsekuensi yang lebih luas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi eskalasi tekanan tersebut.
“Setiap eskalasi situasi ini tidak diragukan lagi akan membawa konsekuensi,” kata Baghaei kepada awak media.
“Tangan kami tidak terikat,” tegasnya, menunjukkan sikap tegas pemerintah dalam menghadapi tekanan eksternal.
Di tengah pertarungan ekonomi antara Washington dan Teheran, masyarakat Iran kini dihadapkan pada persoalan yang lebih mendesak: bagaimana mempertahankan nilai uang mereka ketika mata uang nasional terus kehilangan nilainya.
Bagi warga yang mengantre di pasar valuta asing, dolar bukan lagi sekadar mata uang asing, melainkan cara untuk menyelamatkan sisa nilai tabungan sebelum rial jatuh ke titik yang lebih rendah.
Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat inflasi yang tinggi dan harga kebutuhan pokok yang terus melonjak. Masyarakat kini terpaksa mencari cara untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi yang semakin dalam.
Tanpa adanya solusi cepat, krisis ekonomi Iran diperkirakan akan semakin dalam, meninggalkan dampak yang sulit dipulihkan dalam waktu dekat.







