Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Berangkat dari Italia, Akan Pakai Nama KRI Gajah Mada sebagai Aircraft Carrier Pertama Indonesia

Kapal induk hibah Italia akan menjadi KRI Gajah MadaKapal induk hibah Italia akan menjadi KRI Gajah Mada
Kapal induk Giuseppe Garibaldi memulai perjalanan panjang dari Italia menuju Indonesia, menandai babak baru dalam sejarah pertahanan nasional.

INBERITA.COM, Setelah melalui proses panjang, Indonesia akhirnya akan memiliki kapal induk pertamanya. Kapal perang legendaris Italia, Giuseppe Garibaldi, telah memulai perjalanan panjang dari Eropa menuju Tanah Air.

Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu lebih dari 20 hari ini akan membawa kapal tersebut tiba di Indonesia antara pertengahan hingga akhir September 2026.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, mengungkapkan bahwa kapal tersebut masih menggunakan nama dan bendera Italia selama dalam perjalanan.

“Sesampainya di Indonesia, bendera Merah Putih akan dikibarkan dan kapal ini akan resmi bernama KRI Gajah Mada,” ujar Ali.

Proses serah terima dan pengukuhan kapal dijadwalkan berlangsung pada 25 September 2026, dengan Presiden Prabowo Subianto dipastikan hadir dalam acara tersebut.

Kapal induk ini akan menempuh rute yang memerlukan pengawalan ketat. Giuseppe Garibaldi dijadwalkan melewati Terusan Suez dan Laut Merah, dengan fregat Angkatan Laut Italia siap mengawal sepanjang perjalanan.

“Kami berharap kapal ini tiba pada tanggal 15 atau 20 September mendatang,” kata Ali.

Rute ini dipilih karena dinilai strategis sekaligus memerlukan pengamanan ekstra untuk menghindari potensi ancaman di wilayah tersebut.

Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari pemerintah Italia setelah dinonaktifkan dari dinas Angkatan Laut Italia pada Oktober 2024.

Kapal yang mulai beroperasi sejak 1985 ini telah melayani selama lebih dari empat dekade sebelum akhirnya dipindahkan ke Indonesia. Proses hibah ini disetujui oleh parlemen Italia, menandai babak baru dalam kerja sama pertahanan kedua negara.

Dengan panjang sekitar 180 meter, lebar 33 meter, dan bobot penuh mencapai 14.150 ton, kapal ini memiliki dek penerbangan sepanjang 174 meter.

Kapasitasnya memungkinkan pengoperasian helikopter maupun pesawat dengan kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal.

Saat masih berdinas di Italia, kapal ini mampu melaju hingga 30 knot, menunjukkan kecepatan dan ketangguhannya.

TNI Angkatan Laut berencana memanfaatkan kapal ini untuk mendukung operasi helikopter dari tiga matra TNI. Selain itu, pilot TNI akan menjalani pelatihan khusus untuk dapat mendarat di atas kapal induk tersebut.

Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai jenis pesawat tempur atau helikopter yang akan ditempatkan secara permanen di KRI Gajah Mada.

Kementerian Pertahanan telah menyiapkan pangkalan strategis di Teluk Ratai, Lampung, untuk menampung kapal induk ini. Fasilitas di sana sedang ditingkatkan guna mendukung operasional dan pemeliharaan kapal berukuran besar tersebut.

Lokasi ini dipilih karena menghadap langsung ke Selat Sunda, menjadikannya posisi yang sangat strategis bagi pertahanan nasional.

Meski merupakan hibah, biaya pengiriman, perbaikan, modernisasi, pelatihan awak, dan operasional tetap menjadi tanggungan Indonesia.

Beberapa anggota DPR sebelumnya menekankan pentingnya mempertimbangkan usia kapal, kebutuhan pesawat, kesiapan pangkalan, serta anggaran pemeliharaan jangka panjang.

Pemerintah dan TNI Angkatan Laut hingga kini belum merilis rincian lengkap mengenai total biaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan KRI Gajah Mada secara penuh.