INBERITA.COM, Penyelidikan atas kecelakaan maut bus pariwisata IND’S 88 Trans di Jalur Bromo, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, mengungkap fakta baru yang mengindikasikan adanya kegagalan sistem pengereman.
Bus bernomor polisi P 7221 UG itu sebelumnya membawa rombongan tenaga kesehatan dari RS Bina Sehat Jember dan mengalami kecelakaan tragis pada Minggu (14/9) siang, sekitar pukul 11.30 WIB. Dari 52 penumpang, 8 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 44 lainnya mengalami luka-luka.
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Iwan Saktiadi, mengungkapkan bahwa dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh tim Traffic Accident Analysis (TAA), tidak ditemukan jejak pengereman di lokasi kecelakaan.
“Hasil olah TKP juga telah kami dapatkan beberapa fakta, di mana di lokasi yang pertama tidak ditemukan jejak pengereman,” ujar Kombes Iwan dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, Selasa (16/9).
Olah TKP dilakukan dalam rentang sekitar 60 meter, yang diduga sebagai titik awal terjadinya kecelakaan. Di lokasi tersebut, bus diduga melaju tak terkendali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan di sisi kanan dan terseret cukup jauh.
Benturan yang terjadi bukan hanya keras, namun juga berlangsung dalam jarak panjang, dari arah atas ke bawah, mengindikasikan kecepatan tinggi serta kehilangan kendali penuh oleh pengemudi.
Kerusakan parah terlihat pada bodi kanan bus, terutama di bagian depan dan sisi kemudi. Kaca depan serta bagian kanan kendaraan pecah, dan struktur bodi mengalami deformasi hebat akibat benturan.
“Bodi juga mengalami deformasi (ringsek) di mana itu menandakan ada benturan yang cukup keras pada badan bersebelah kanan. Dari hasil hitung-hitungan TAA, kecepatan bus diperkirakan 64 – 80 km per jam,” imbuh Iwan.
Kondisi kerusakan tersebut diperkuat oleh kesaksian dari korban selamat. Menurut penuturan para saksi, korban yang meninggal dunia diketahui duduk di sisi kanan bus, terutama dari baris keempat hingga ke belakang.
“Berdasarkan saksi yang selamat, korban-korban yang meninggal dunia duduk di sisi kanan bus, dengan identifikasi row keempat ke belakang, karena yang memberikan keterangan ini ada pada row 1, 2, dan 3,” terang Kombes Pol Iwan.
Meskipun sejumlah fakta penting telah terungkap, termasuk estimasi kecepatan dan lokasi benturan utama, polisi belum menetapkan penyebab pasti kecelakaan maupun tersangka dalam kasus ini.
Proses penyelidikan masih terus berlangsung, termasuk pemeriksaan terhadap kendaraan dan dokumen administrasi. Kombes Iwan memastikan bahwa dari sisi administratif, bus tersebut dalam kondisi laik jalan.
“Seluruhnya ini masih dugaan awal. Artinya banyak kemungkinan, nanti akan kami dalami dengan hasil-hasil yang lainnya, termasuk fakta di mana dugaan kecepatan arah datangnya kendaraan sebelum lokasi tabrakan,” tukasnya.
Kecelakaan ini terjadi saat bus melaju di jalur menurun dan menikung ke kiri. Dugaan awal menyebutkan bahwa sistem pengereman mengalami gangguan saat bus memasuki tikungan tersebut, menyebabkan kendaraan justru berbelok ke kanan dan akhirnya menabrak pembatas jalan.
Bus terseret sejauh 60 meter sebelum akhirnya berhenti, meninggalkan jejak kehancuran dan duka mendalam.
Tragedi ini tidak hanya memunculkan pertanyaan serius soal keamanan dan kesiapan kendaraan pariwisata yang kerap membawa rombongan dalam jumlah besar, tetapi juga menyoroti kondisi jalan di kawasan wisata yang menantang.
Investigasi lanjutan diharapkan bisa mengungkap secara utuh apa yang menyebabkan kecelakaan maut ini terjadi, serta menjadi pelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Dengan masih berlangsungnya proses penyelidikan, publik menanti jawaban pasti atas tragedi yang merenggut nyawa delapan orang ini. Apakah ini murni kecelakaan teknis, kelalaian manusia, atau kombinasi dari keduanya?
Yang jelas, fakta bahwa tidak ada jejak pengereman menjadi petunjuk awal yang mengarah pada kemungkinan besar kegagalan sistem pada kendaraan tersebut. (mms)







