Ethiopia Mulai Negosiasi dengan China untuk Ubah Utang USD 5,38 Miliar Jadi Yuan

Cny usdCny usd
China Jadi Mitra Utama, Ethiopia Ubah Utang Jadi Pinjaman Yuan untuk Atasi Krisis

INBERITA.COM, Ethiopia, negara anggota BRICS, telah memulai negosiasi dengan China untuk mengubah sebagian dari utang luar negerinya yang sebesar USD 5,38 miliar menjadi pinjaman dalam denominasi yuan.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah Ethiopia untuk mengurangi tekanan dari fluktuasi mata uang asing dan memperdalam hubungan perdagangan dengan mitra utama mereka, China.

Menurut Eyob Tekalign, Gubernur Bank Nasional Ethiopia, pembicaraan dimulai bulan lalu di Beijing, melibatkan Export-Import Bank of China (Exim Bank China) dan People’s Bank of China (PBOC).

Pembicaraan ini berfokus pada pengaturan pembayaran utang, fasilitasi perdagangan, dan potensi restrukturisasi utang.

Dilaporkan oleh Bloomberg, Ethiopia berharap bisa menyesuaikan ketergantungan pada mata uang dolar AS dan mulai memperkuat stabilitas ekonominya dengan menggunakan yuan sebagai alternatif pembayaran.

Langkah Ethiopia Mengikuti Contoh Kenya

Keputusan Ethiopia ini menyusul langkah serupa yang diambil oleh Kenya, yang baru saja menyelesaikan konversi tiga pinjaman kereta api yang dibiayai oleh China, dari dolar AS menjadi yuan.

Menurut Kementerian Keuangan Kenya, konversi tersebut diperkirakan akan mengurangi biaya bunga sekitar USD 215 juta per tahun.

Negara-negara di kawasan Afrika tampaknya semakin tertarik untuk beralih dari dolar AS untuk transaksi perdagangan dan penyelesaian utang, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada mata uang global tersebut.

Ethiopia Mencari Solusi Ekonomi Pasca Krisis

Ethiopia telah mengalami tekanan ekonomi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi COVID-19 dan perang saudara yang melanda wilayah Tigray di utara negara tersebut antara 2020 hingga 2022, telah memperburuk kondisi ekonomi yang sudah rapuh.

Negara ini gagal membayar obligasi internasional senilai USD 1 miliar pada Desember 2023, namun sejak itu, telah mengamankan kesepakatan bantuan dengan kreditor resmi dalam kerangka Kerangka Bersama G20 yang dipimpin oleh Prancis dan China, yang memberikan lebih dari USD 3,5 miliar dalam bentuk bantuan.

Meskipun bantuan tersebut memberikan sedikit ruang bernapas, pembicaraan terpisah dengan pemegang obligasi masih menemui jalan buntu.

Ethiopia berharap dengan melakukan kerja sama yang lebih erat dengan China dan memperkenalkan kerangka pertukaran mata uang, negara ini dapat mulai membangun kembali perekonomian yang lebih stabil.

Kerja Sama dengan China untuk Meningkatkan Ekonomi

Pada September 2025, Ahmed Shide, Menteri Keuangan Ethiopia, mengungkapkan bahwa pemerintah Ethiopia dan China telah mencapai kesepakatan mengenai kerangka pertukaran mata uang antara birr (mata uang Ethiopia) dan yuan.

Kerangka ini bertujuan untuk memfasilitasi perdagangan antara kedua negara dan mengurangi ketergantungan Ethiopia pada dolar AS, serta memperdalam hubungan ekonomi dengan China.

Setelah bergabung dengan BRICS pada Januari 2024, Ethiopia semakin memperkuat posisinya dalam kelompok negara-negara berkembang yang mendorong penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Negara-negara BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia, telah lama menyuarakan pentingnya menggunakan mata uang selain dolar dalam perdagangan global untuk mengurangi dominasi mata uang AS dalam sistem finansial internasional.

Namun, dorongan negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS tidak tanpa kritik.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengkritik kebijakan ini dan mengancam akan mengenakan tarif balasan dan sanksi terhadap negara-negara yang berupaya mengabaikan penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional.

Hal ini menunjukkan ketegangan yang mungkin timbul dalam hubungan perdagangan global seiring dengan meningkatnya penggunaan mata uang selain dolar dalam transaksi internasional.

Langkah Ethiopia untuk melakukan negosiasi dengan China guna mengubah utangnya menjadi pinjaman dalam denominasi yuan menandakan perubahan besar dalam peta ekonomi global, terutama di Afrika.

Negara-negara BRICS, termasuk Ethiopia, semakin berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi dan penyelesaian utang internasional.

Sementara kebijakan ini mungkin menimbulkan ketegangan dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, langkah ini juga membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat stabilitas ekonomi mereka melalui kerja sama yang lebih erat dengan China. (xpr)