INBERITA.COM, Lirik lagu anak-anak karya Ibu Sud yang berbunyi “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” ternyata bukan hanya sekadar isapan jempol belaka.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Ateneo de Manila pada tahun 2025 menunjukkan bahwa teknologi pelayaran yang digunakan oleh masyarakat Nusantara atau Kepulauan Asia Tenggara (ISEA) telah berkembang jauh lebih maju dari yang diperkirakan.
Penemuan-penemuan ini membuktikan bahwa kemampuan pelayaran penduduk Nusantara sudah teruji sejak 40.000 tahun lalu, jauh sebelum peradaban-peradaban besar lainnya berkembang.
Penelitian ini mengungkapkan sebuah fakta menarik yang menantang pemahaman lama bahwa kemajuan teknis pada masa Paleolitik berpusat di Afrika dan Eropa.
Justru, berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Filipina, Indonesia, dan Timor-Leste, teknologi pelayaran yang ada di Nusantara pada masa itu jauh melampaui apa yang dianggap mungkin tercapai pada era Paleolitikum.
Beberapa perkakas batu yang ditemukan di situs-situs arkeologi ini menunjukkan bahwa pelaut-pelaut kuno Nusantara telah menguasai teknologi maritim yang sangat maju jauh lebih awal daripada yang diperkirakan.
Bukti Arkeologis yang Ditemukan: Peralatan dan Teknologi Pelayaran
Bukti dari temuan arkeologis yang mendukung klaim ini termasuk perkakas batu dan artefak yang menunjukkan adanya teknologi pembuatan tali dan jaring.
Salah satu temuan yang paling menonjol adalah ekstraksi serat tanaman yang digunakan untuk membuat tali, jaring, dan pengikat yang penting dalam pembuatan kapal serta penangkapan ikan di laut terbuka.
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science, juga menunjukkan adanya kail pancing, ngarai, jaring, dan sisa-sisa ikan laut dalam seperti tuna dan hiu yang ditemukan di beberapa situs.
Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa masyarakat prasejarah Nusantara telah mengembangkan metode penangkapan ikan yang sangat canggih, jauh melampaui teknologi yang ada di benua lainnya pada masa itu.
Menurut para penulis penelitian, seperti Riczar Fuentes dan Alfred Pawlik, “sisa-sisa ikan pelagis predator besar di lokasi ini menunjukkan kemampuan pelayaran tingkat lanjut dan pengetahuan tentang musiman serta rute migrasi spesies ikan tersebut”.
Mereka menambahkan bahwa koleksi ikan dan peralatan yang tersisa ini “menunjukkan perlunya tali dan tali pancing yang kuat dan dirancang dengan baik untuk menangkap fauna laut.”
Pelayaran Nusantara: Dari Rakit Bambu ke Kapal Canggih

Selama ini, ada anggapan bahwa migrasi prasejarah orang-orang Nusantara dilakukan dengan rakit bambu yang terapung secara pasif di laut.
Namun, penelitian terbaru ini membantah teori tersebut dan berpendapat bahwa migrasi tersebut dilakukan oleh navigator yang terampil dan dilengkapi dengan teknologi yang memadai.
Pergerakan manusia pada masa itu bukan sekadar menggunakan rakit sederhana, melainkan kapal yang dibuat dengan teknologi canggih.
Penelitian ini berargumen bahwa masyarakat prasejarah Nusantara memiliki pengetahuan tentang pembuatan kapal yang rumit, dan kemungkinan besar mereka menggunakan bahan organik yang diolah dengan teknik khusus untuk membuat perahu.
Teknologi tali yang digunakan dalam pembuatan kapal ini juga diterapkan dalam penangkapan ikan di laut dalam, yang menunjukkan bahwa teknologi maritim mereka sudah sangat maju.
“Sisa-sisa kapal atau bukti tentang bahan pembuatan perahu sangat penting dalam memahami pergerakan manusia di wilayah pulau dan lautan,” tulis para penulis penelitian ini.
Mereka menambahkan bahwa teknologi maritim yang ditemukan di wilayah Asia Tenggara (ISEA) ini menyoroti kecerdikan masyarakat awal di Filipina dan negara-negara tetangga lainnya, yang kemungkinan besar menjadikan wilayah ini sebagai pusat inovasi teknologi maritim pada masa itu.
Pengaruh Pelayaran Nusantara pada Tradisi Maritim hingga Kini
Penemuan ini juga membawa kita pada pemahaman bahwa pengetahuan mengenai pembuatan kapal dan navigasi di Nusantara memiliki pengaruh yang besar hingga saat ini.
Beberapa negara di kawasan ini, seperti Indonesia, Filipina, dan Timor-Leste, terus melestarikan tradisi maritim mereka, yang diperkirakan berakar dari pengetahuan yang sudah ada ribuan tahun yang lalu.
Dengan adanya temuan-temuan arkeologis ini, kita dapat menyadari bahwa masyarakat prasejarah Nusantara bukan hanya sekadar pelaut biasa, tetapi pelaut yang memiliki pengetahuan dan teknologi yang sangat maju.
Kemampuan mereka untuk mengarungi lautan luas menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan metode pelayaran yang sangat efektif, yang bahkan melampaui zaman mereka.
Sementara itu, ilmuwan lain mengungkapkan bahwa manusia modern pertama kali mencapai Australia sekitar 50 ribu tahun lalu melalui kepulauan Nusantara, wilayah yang dikenal dengan nama Wallacea yang mencakup Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.
Meski demikian, teknologi pelayaran yang digunakan oleh mereka hingga saat ini masih menjadi misteri.
Sementara itu, perahu tertua yang pernah ditemukan adalah kano Pesse yang ditemukan di Belanda, diperkirakan dibuat antara 8040 hingga 7510 SM, dan menjadi salah satu bukti kuat bahwa pelayaran kuno sudah ada jauh sebelum penemuan teknologi maritim di belahan dunia lainnya.
Seni cadas di Valle, Norwegia yang menggambarkan perahu sepanjang lebih dari empat meter dan diperkirakan berusia 10.000 hingga 11.000 tahun, juga menunjukkan bahwa masyarakat Eropa pada masa itu sudah mengenal pembuatan perahu.
Namun, temuan-temuan ini belum mampu menandingi kedalaman teknologi pelayaran yang sudah berkembang di Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu.
Penemuan ini memperlihatkan bahwa teknologi pelayaran Nusantara sudah ada jauh sebelum peradaban-peradaban besar lainnya berkembang.
Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa para pelaut Nusantara prasejarah sudah menguasai teknologi maritim yang sangat canggih, dan pengetahuan mereka mengenai pembuatan kapal dan navigasi di laut terbuka sangat jauh melampaui teknologi yang ada di benua lainnya pada masa itu.
Penemuan ini juga menunjukkan bahwa tradisi maritim Nusantara tidak hanya berakar dari masa lalu, tetapi terus berlanjut dan berkembang hingga saat ini. (xpr)







