INBERITA.COM, Purbalingga – Bencana tanah longsor kembali melanda Kabupaten Purbalingga. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, pada Rabu, 15 Oktober 2025, sekitar pukul 16.30 WIB. Dampaknya, dua dusun di wilayah tersebut kini terisolir total.
Tanah longsor terjadi tepatnya di wilayah RT 2 RW 7 Desa Panusupan, setelah hujan deras mengguyur kawasan itu sejak pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama memicu pergeseran tanah, yang menyebabkan longsor dan amblasnya jalan kabupaten setempat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, membenarkan kejadian tersebut.
Dalam keterangannya kepada Awak Media pada Rabu malam, ia menjelaskan bahwa bencana itu menyebabkan terputusnya akses jalan utama yang menghubungkan dua wilayah penting di Desa Panusupan.
“Akibatnya, Jalan Kabupaten yang menghubungkan Kadus 3 (Bojongsana, Ragamukti) dan Kadus 4 (Batur, Pagelaran), terputus,” kata Prayitno.
Jalan kabupaten yang ambrol itu selama ini menjadi satu-satunya akses vital bagi mobilitas warga di dua kadus tersebut. Terputusnya jalur tersebut praktis menjadikan warga di Kadus 3 dan Kadus 4 terisolir.
“Akibat kejadian tersebut, warga Kadus 3 dan 4 terdampak, yakni terisolir. Sebab, jalan tersebut merupakan penghubung utama dua dusun tersebut,” tambah Prayitno.
Meski kondisi medan cukup rawan dan jalan amblas parah, Prayitno memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa itu.
Namun, warga tetap diminta waspada mengingat intensitas hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
BPBD menyebutkan bahwa longsor terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, saat curah hujan berada pada puncaknya.
Meski demikian, hingga malam hari pascakejadian, belum ada tindakan langsung untuk menangani kondisi jalan yang amblas tersebut.
“Hingga Rabu malam, masih belum dilakukan penanganan terhadap jalan yang amblas, karena bencana tanah longsor tersebut,” jelas Prayitno.
Menariknya, ini bukan kali pertama kejadian serupa terjadi di lokasi tersebut. Menurut BPBD, tanah longsor dengan dampak serupa pernah terjadi satu tahun lalu di titik yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah itu tergolong rawan bencana dan membutuhkan penanganan jangka panjang.
“Kejadian serupa pernah terjadi 1 tahun yang lalu, di lokasi yang sama,” imbuh Prayitno.
Kondisi dua dusun yang kini terisolir menyisakan kekhawatiran tersendiri, terutama soal pasokan logistik, akses pendidikan, dan pelayanan kesehatan yang dipastikan akan terganggu.
Warga pun berharap ada penanganan cepat dari pemerintah daerah maupun dinas terkait agar akses kembali pulih.
Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi resmi mengenai langkah konkret dari pemerintah daerah dalam membuka kembali akses jalan maupun solusi darurat untuk mobilitas warga.
Bencana ini menambah daftar panjang persoalan infrastruktur di wilayah rawan bencana di Purbalingga, yang kerap kali luput dari perhatian sebelum terjadi kejadian serupa.
Dengan cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam waktu dekat, warga Desa Panusupan kini hanya bisa berharap agar pemerintah bertindak cepat sebelum dampak isolasi kian meluas. (mms)







