INBERITA.COM, Nama Dheninda Chaerunnisa, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial usai sebuah video viral menampilkan dirinya diduga mencibir seorang orator saat berlangsungnya demonstrasi di depan kantor DPRD Gorontalo Utara.
Kejadian yang terekam pada Senin, 13 Oktober 2025 tersebut memicu gelombang kecaman dari publik dan memunculkan pertanyaan besar mengenai etika seorang wakil rakyat dalam merespons aspirasi masyarakat.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun TikTok @GebrakGorontalo dan memperlihatkan sosok perempuan dengan pakaian ungu kemerahan berdiri di tengah kerumunan massa aksi.
Saat orator menyampaikan tuntutan, ekspresi wajah Dheninda terekam kamera dengan gestur yang tampak seperti mengejek atau meremehkan, memicu kemarahan sejumlah peserta unjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Gorut (AMP-Gorut). Mereka menilai sikap itu sebagai bentuk pelecehan terhadap suara rakyat.
Koordinator aksi, Andi S. Buna, menyayangkan sikap tersebut dan menegaskan bahwa kedatangan mereka merupakan bagian dari upaya dialog terbuka dengan lembaga legislatif, bukan untuk dihina oleh perwakilan rakyat.
Ia menilai sikap yang ditunjukkan oleh Dheninda justru memperkeruh suasana dan mencederai semangat demokrasi yang mereka junjung.
Dheninda Chaerunnisa sendiri merupakan politisi dari Fraksi NasDem yang menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara sejak Agustus 2024.
Ia cukup aktif di media sosial, termasuk melalui akun Instagram pribadinya @dinychaerunnisa_ yang kerap membagikan kegiatan serta aktivitasnya sebagai anggota dewan.
Dalam sejumlah unggahan, ia terlihat menghadiri berbagai acara masyarakat dan menunjukkan keterlibatan dalam isu kesejahteraan publik di daerah.
Merespons video yang viral tersebut, Dheninda membantah keras tudingan bahwa dirinya mencibir orator aksi. Ia menegaskan bahwa ekspresi wajah yang terekam bukan ditujukan kepada massa aksi, melainkan sebagai reaksi terhadap dua karyawan yang berdiri di dekat mobil sound system.
Menurutnya, kedua karyawan tersebut memberikan semangat kepadanya di tengah situasi aksi yang memanas, dan ia membalasnya dengan ekspresi tertentu yang kemudian disalahartikan.
“Aku nggak tahu juga kenapa sampai disalahartikan seperti begitu. Mungkin saat orasi berlangsung, karyawanku ada di belakang situ dan menunjukkan ekspresi keren kepada saya, makanya saya berekspresi seperti itu,” ujar Dheninda sambil menangis saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa (14/10/2025).
Dheninda juga menyayangkan beredarnya potongan video tanpa konteks yang ia nilai telah dipelintir hingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Meski menegaskan tidak memiliki niat mencibir siapapun, ia tetap menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi akibat insiden tersebut.

“Saya meminta agar kejadian ini dilihat secara menyeluruh, bukan dari satu potongan video saja. Saya sangat menyesal jika masyarakat merasa tersinggung, namun saya pastikan tidak ada niat buruk di balik gestur itu,” ucapnya.
Sebelumnya, video tersebut telah beredar luas di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan. Dalam video, Dheninda tampak berdiri di barisan depan bersama sejumlah anggota dewan lainnya.
Ia terlihat memainkan bibir saat orator tengah menyuarakan tuntutan, yang kemudian diartikan oleh sebagian besar warganet sebagai bentuk ejekan terhadap peserta aksi.
Di tengah ramainya kecaman, Dheninda menuliskan sebuah pernyataan reflektif melalui Instagram pribadinya.
Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan:
“Di dunia ini 1000 kebaikan tidak pernah menjadikan kita malaikat. Tapi satu kesalahan bisa menjadikan kita orang jahat. Yah, namanya juga dunia. Gapapa ketika hujatan itu datang dari orang yang tidak mengenali ku. Yang terpenting masyarakatku tahu aku orang yang seperti apa.”
Kontroversi ini membuka diskusi luas soal batas ekspresi pejabat publik di ruang terbuka, serta pentingnya menjaga sikap dan gestur saat menghadapi demonstrasi atau penyampaian aspirasi masyarakat.
Beberapa pihak menilai sikap seperti ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap wakil rakyat, apalagi jika dilakukan di depan massa yang sedang memperjuangkan hak dan tuntutan.
Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari lembaga DPRD Gorontalo Utara terkait potensi sanksi atau evaluasi terhadap insiden ini. Namun, publik menanti langkah berikutnya dari institusi legislatif sebagai bentuk tanggung jawab terhadap dinamika yang berkembang.
Banyak pihak juga berharap agar momen ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam membangun komunikasi yang lebih baik antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Dengan sorotan tajam yang tertuju pada sosok Dheninda Chaerunnisa, kasus ini diprediksi akan terus menjadi bahan perbincangan dalam waktu dekat, terutama menyangkut isu etika politik, keterbukaan aspirasi, dan profesionalisme pejabat publik dalam menghadapi tekanan massa. (xpr)







