INBERITA.COM, Layanan internet satelit Starlink di Indonesia mencatat penurunan performa yang signifikan dalam setahun terakhir.
Berdasarkan laporan terbaru OpenSignal, kecepatan unduh Starlink menurun hampir dua pertiga dari awal peluncurannya, sementara kecepatan unggah juga turun hampir setengah.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar soal efektivitas teknologi internet satelit tersebut di tengah gempuran alternatif lokal seperti Fixed Wireless Access (FWA).
Lonjakan permintaan yang terjadi secara drastis menjadi pemicu utama kemacetan jaringan Starlink. Akibatnya, perusahaan milik Elon Musk ini sempat menghentikan pendaftaran pelanggan baru.
Ketika layanan kembali dibuka pada Juli 2025, calon pelanggan justru dihadapkan pada skema baru bertajuk “biaya lonjakan permintaan”.
Biaya tambahan ini tak tanggung-tanggung, berkisar antara US$490 hingga US$574 atau setara Rp8,1 juta hingga Rp9,5 juta, tergantung dari lokasi gateway yang digunakan.
Angka tersebut tiga kali lipat dari rata-rata upah bulanan di Indonesia yang sebesar Rp3,09 juta, menjadikannya beban finansial yang cukup besar bagi calon pengguna.
Namun di balik penurunan kecepatan, OpenSignal mencatat adanya peningkatan dalam konsistensi kualitas layanan Starlink. Indikator ini meningkat dari 24,2% menjadi 30,9% dalam periode yang sama.
“Peningkatan Starlink dari tahun ke tahun dalam metrik ini mencerminkan latensi yang lebih rendah dan peningkatan infrastruktur,” tulis OpenSignal dalam laporannya.
Meski demikian, keunggulan tersebut belum cukup untuk mengungguli alternatif lokal. Ketika dibandingkan dengan FWA yang disediakan operator nasional, Starlink hanya unggul tipis pada kecepatan unduh.
Sementara itu, layanan FWA terbukti lebih baik dalam tiga aspek lainnya: kecepatan unggah, konsistensi kualitas layanan, dan pengalaman streaming video.
Konsistensi kualitas FWA bahkan mendekati angka 50%, jauh di atas pencapaian Starlink yang hanya 30,9%.
Data ini mengindikasikan bahwa meskipun Starlink memiliki daya tarik dari sisi kecepatan awal, solusi lokal seperti FWA memberikan pengalaman internet yang lebih stabil dan dapat diandalkan, khususnya di daerah perkotaan dan semi-urban.

Meski memiliki keunggulan, penyebaran FWA di daerah pedesaan tetap menemui hambatan klasik: geografis dan infrastruktur.
Penduduk yang tersebar dan medan sulit membuat pembangunan menara dan jalur backhaul menjadi mahal dan kompleks.
Kendati demikian, operator nasional mulai mengadopsi pendekatan pragmatis, termasuk memanfaatkan jaringan 4G yang lebih luas jangkauannya, sambil perlahan melakukan ekspansi jaringan 5G.
Saat ini, sebagian besar layanan FWA di Indonesia masih berbasis 4G, dengan implementasi 5G dilakukan secara bertahap karena keterbatasan spektrum. Kendala ini tidak menyurutkan langkah para operator besar untuk terus berinvestasi di sektor ini.
OpenSignal mencatat bahwa Telkomsel mendominasi segmen FWA melalui produk Orbit, yang tumbuh signifikan hingga 31% menjadi 1,1 juta pelanggan sepanjang tahun 2023.
XL Axiata juga aktif dalam layanan FWA, sedangkan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) masuk ke pasar pada 2024 dengan produk HiFi Air.
Peluncuran HiFi Air beriringan dengan perjanjian ekspansi jaringan 4G/5G nasional dengan Nokia, termasuk pengembangan FWA untuk memperluas jangkauan layanan.
Kehadiran operator lokal yang agresif membangun jaringan digital nasional ini menunjukkan komitmen dalam memperkuat infrastruktur konektivitas, meski menghadapi tantangan geografis dan teknis yang tidak ringan.
Dalam konteks pengembangan wilayah terpencil seperti Papua, kolaborasi antara pemerintah, operator, dan komunitas lokal menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas jaringan.
Sementara itu, Starlink sendiri sempat mengalami gangguan teknis secara global yang berdampak pada ribuan pelanggan.
Insiden tersebut menegaskan bahwa meskipun teknologi satelit menawarkan jangkauan yang luas, ia tetap memiliki kerentanan, terutama dalam aspek stabilitas dan kualitas layanan.
Di sisi lain, masyarakat yang tertarik menggunakan layanan Starlink di Indonesia dihadapkan pada dilema antara biaya awal yang tinggi dan ketidakpastian kualitas.
Sebagian calon pelanggan memilih menunggu hingga harga lebih stabil atau opsi lokal semakin membaik. Fenomena ini menggambarkan dinamika pasar internet di Indonesia yang semakin kompetitif dan menuntut inovasi berkelanjutan dari semua penyedia layanan.
Dalam konteks nasional, perkembangan layanan internet di Indonesia juga tak lepas dari berbagai program pemerintah untuk mendorong transformasi digital.
Meskipun pelaksanaannya menghadapi beragam tantangan, arah strategis tetap jelas: memperluas akses digital hingga ke pelosok negeri.
Persaingan antara Starlink dan operator lokal berbasis FWA diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang. Masing-masing teknologi memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri.
Starlink unggul dari sisi jangkauan dan solusi cepat untuk daerah terpencil, sementara FWA menawarkan kestabilan, biaya lebih terjangkau, dan pengalaman pengguna yang konsisten di wilayah yang telah terkoneksi dengan baik.
Dalam lanskap ini, konsumen menjadi penentu arah perkembangan. Keputusan mereka dalam memilih layanan internet akan membentuk peta persaingan ke depan.
Yang pasti, kebutuhan akan konektivitas cepat, stabil, dan terjangkau akan terus menjadi tuntutan utama masyarakat Indonesia di era digital yang kian masif. (xpr)







