INBERITA.COM, Indosat Ooredoo Hutchison kembali menjadi sorotan setelah disebut-sebut menjadi gerbang bagi startup asal China, INF Tech, untuk mendapatkan akses ke chip terbaru Nvidia, Blackwell.
Temuan ini mencuat setelah laporan investigatif The Wall Street Journal menyebut bahwa perusahaan telekomunikasi asal Indonesia tersebut berperan sebagai penghubung dalam rantai distribusi chip yang sebenarnya masuk kategori sensitif bagi pemerintah Amerika Serikat.
Hal ini mengingat Nvidia, perusahaan semikonduktor berbasis di AS, dibatasi keras untuk menyalurkan teknologi mutakhirnya kepada entitas yang berbasis di China atas perintah langsung mantan Presiden AS, Donald Trump.
Menanggapi dugaan tersebut, CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menegaskan bahwa pihaknya beroperasi mengikuti regulasi yang berlaku dan terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai perusahaan global. Menurutnya, tidak ada perlakuan khusus dalam proses bisnis yang melibatkan pihak internasional.
“Setiap pelanggan di luar Indonesia harus melalui regulasi yang sama, baik perusahaan AS maupun perusahaan China. Jika memenuhi semua peraturan, kami pun mendukungnya,” ujar Vikram kepada The Wall Street Journal, sebagaimana dikutip dari Tom’s Hardware.
Sementara itu, INF Tech yang dalam beberapa laporan sebelumnya disebut memiliki kedekatan dengan militer China, membantah tuduhan tersebut.
Perusahaan itu menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam proyek riset apa pun dengan militer dan telah memastikan seluruh aktivitasnya mematuhi aturan ekspor Amerika Serikat.
Penegasan ini dilakukan untuk meredam kecurigaan bahwa mereka memanfaatkan celah distribusi untuk mengakses teknologi yang dibatasi oleh AS.
INF Tech sendiri merupakan startup yang didirikan oleh Qi Yuan, warga negara Amerika kelahiran China yang juga memimpin institut kecerdasan buatan di Universitas Fudan.
Kiprah perusahaan ini mulai mendapat perhatian setelah laporan Wall Street Journal mengungkap bahwa mereka berhasil mengakses 2.300 GPU Nvidia Blackwell melalui jalur perantara yang melibatkan Indosat di Jakarta.
GPU tersebut termasuk dalam kategori komponen berteknologi tinggi yang dibatasi pengirimannya ke China.
Sekilas, skema distribusi ini terlihat seperti upaya menghindari pembatasan ekspor. Namun sejumlah pengacara yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut langkah ini sepenuhnya legal karena INF Tech tidak membeli teknologi tersebut secara langsung dari Nvidia.
Bahkan, seluruh transaksi yang terjadi masih berada dalam koridor hukum AS selama pihak-pihak yang terlibat mematuhi prosedur ekspor yang berlaku.
Rantai distribusi itu bermula dari California, tempat Nvidia menjual chip Blackwell kepada Aivres, mitra yang bertugas memproduksi server kecerdasan buatan.
Aivres merupakan perusahaan domestik Amerika yang legal secara penuh untuk bertransaksi dengan Nvidia.
Meski begitu, sebagian pihak pernah mengklaim bahwa perusahaan tersebut memiliki keterkaitan saham dengan Inspur, perusahaan teknologi China yang telah masuk daftar hitam pemerintah AS.
Klaim itu langsung dibantah oleh Aivres, yang menegaskan tidak memiliki hubungan struktural dengan perusahaan tersebut.
Sebagai perusahaan berbasis di AS, Aivres tetap diperbolehkan beroperasi dan melakukan transaksi selama mematuhi aturan ekspor Amerika. Di sinilah kemudian peran Indosat Ooredoo Hutchison muncul.
Perusahaan telekomunikasi Indonesia itu membeli 32 rak server Nvidia GB200 dari Aivres, dalam kesepakatan bernilai sekitar 100 juta dolar AS.
Setiap rak berisi 72 chip Blackwell, sehingga total GPU yang dibeli mencapai 2.304 unit. Meski jumlah ini terbilang besar, tetap dianggap kecil jika dibandingkan dengan pusat data raksasa yang dibangun perusahaan seperti OpenAI atau xAI.
Menurut sumber yang dikutip, Aivres bahkan turut membantu mencarikan klien untuk perangkat server yang dibeli Indosat.
Klien itu adalah INF Tech, perusahaan yang didirikan Qi Yuan. Bahkan disebutkan bahwa perwakilan dari Universitas Fudan dikabarkan turut hadir dalam proses negosiasi antara INF Tech dan Indosat, meskipun secara resmi INF Tech-lah yang menandatangani kontrak.
Setelah proses negosiasi selesai dan kontrak diteken, Indosat melanjutkan transaksi dengan Aivres. Server-server Nvidia Blackwell tersebut kemudian dikirim dan dipasang di fasilitas Indosat di Jakarta pada Oktober 2025.
Keberadaan perangkat ini menambah kapasitas komputasi pusat data Indosat sekaligus menunjukkan peran Indonesia yang semakin strategis dalam rantai pasok teknologi global, terutama di sektor kecerdasan buatan.
Kasus ini membuka perdebatan lebih luas mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi global menjaga keseimbangan antara kepatuhan regulasi, kebutuhan ekspansi, dan dinamika geopolitik.
Meski berbagai pihak menilai jalur distribusi ini tidak melanggar hukum, situasi ini tetap menunjukkan bahwa teknologi seperti GPU Nvidia Blackwell semakin menjadi komoditas sensitif dalam persaingan teknologi antara AS dan China.
Indosat, yang berada di tengah pusaran perhatian tersebut, menegaskan hanya menjalankan proses bisnis yang sesuai aturan dan terbuka untuk berkolaborasi selama seluruh regulasi dipatuhi. (mms)







