Tak Jadi Hadir di Kediri, Langkah Prabowo Picu Perbincangan Soal Mitos “Menakutkan” yang Sudah Lama Beredar

Mitos kediri presiden lengserMitos kediri presiden lengser
Kediri kembali menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo tidak dijadwalkan hadir dalam agenda pembukaan Munas NU.

INBERITA.COM, Perubahan agenda Presiden Prabowo Subianto menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) memunculkan kembali perbincangan lama yang selama bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat Jawa Timur.

Bukan semata soal kegiatan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu, melainkan terkait sebuah mitos yang kerap dikaitkan dengan Kota Kediri.

Awalnya, Prabowo disebut masuk dalam rangkaian agenda kegiatan Munas dan Konbes NU yang berlangsung di wilayah Kediri.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan Presiden RI ke-8 itu dijadwalkan menghadiri penutupan forum tersebut di Kabupaten Bangkalan, Madura, pada 23 Juni 2026.

Perubahan lokasi kehadiran kepala negara itu langsung memantik diskusi di ruang publik. Sebagian masyarakat kembali mengaitkannya dengan mitos yang telah lama beredar bahwa presiden yang berkunjung ke Kediri akan mengalami lengser atau kehilangan jabatannya sebelum masa kepemimpinannya berakhir.

Meski tidak pernah memiliki dasar ilmiah maupun fakta yang dapat dibuktikan secara objektif, cerita tersebut terus bertahan sebagai bagian dari folklore politik yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, mitos itu kerap muncul setiap kali ada agenda kunjungan pejabat tinggi negara ke Kediri.

Sejarah memang mencatat beberapa presiden pernah berkunjung ke wilayah tersebut. Nama Presiden pertama RI Soekarno dan Presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sering disebut dalam narasi yang menghubungkan Kediri dengan pergantian kepemimpinan nasional.

Namun sejumlah pengamat menilai keterkaitan tersebut lebih bersifat kebetulan politik daripada hubungan sebab akibat.

Faktanya, dinamika lengsernya pemimpin negara selalu berkaitan dengan situasi politik, ekonomi, sosial, dan konstitusi yang kompleks. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kunjungan ke suatu daerah tertentu dapat memengaruhi keberlangsungan jabatan seorang presiden.

Pandangan serupa juga pernah disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus.

Dalam keterangannya kepada awak media beberapa tahun lalu, ia menilai anggapan mengenai pejabat yang datang ke Kediri kemudian kehilangan jabatan hanyalah sebatas mitos yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan dan tidak dapat disederhanakan hanya karena seseorang mengunjungi suatu tempat. Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat Jawa memang memiliki banyak tradisi, cerita rakyat, dan kepercayaan lokal yang diwariskan turun-temurun.

“Semua itu Allah yang menghendaki. Kalau Allah tidak menghendaki tidak akan terjadi,” ujarnya saat itu.

KH Kafabihi juga menekankan bahwa kepercayaan terhadap mitos tidak seharusnya mengalahkan keyakinan, doa, serta ikhtiar manusia. Pernyataan tersebut menjadi salah satu penjelasan yang sering dikutip ketika isu serupa kembali mencuat.

Di sisi lain, perhatian kini lebih tertuju pada agenda NU yang akan berlangsung di Bangkalan. Persiapan penyambutan Presiden Prabowo disebut hampir rampung. Berbagai fasilitas penunjang kegiatan telah disiapkan, mulai dari pemasangan spanduk, tenda utama, hingga pengamanan lokasi acara.

Wakil Syuriah PCNU Kabupaten Bangkalan, KH Imron Fattah, menyampaikan harapannya agar Presiden Prabowo dapat hadir sesuai jadwal tanpa hambatan.

Kehadiran kepala negara dinilai memiliki arti penting, tidak hanya bagi NU, tetapi juga bagi masyarakat Madura yang menaruh harapan besar terhadap percepatan pembangunan kawasan.

Menurut KH Imron, masyarakat Bangkalan berharap perhatian pemerintah terhadap Madura dapat semakin meningkat, terutama terkait penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi daerah. Ia menyinggung pentingnya realisasi berbagai program strategis yang sebelumnya telah dirancang pemerintah pusat.

Salah satu proyek yang kembali mendapat perhatian adalah rencana pembangunan Indonesian Islamic Science Park (IISP) di kawasan kaki Jembatan Suramadu sisi Madura.

Proyek tersebut sebelumnya masuk dalam skema percepatan pembangunan ekonomi kawasan Gerbangkertosusilo yang mencakup sejumlah daerah strategis di Jawa Timur.

Harapan terhadap pembangunan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak warga meyakini proyek besar dapat menciptakan efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi lokal, mulai dari peningkatan investasi, pembukaan lapangan kerja baru, hingga tumbuhnya sektor usaha masyarakat sekitar.

Karena itu, bagi sebagian kalangan di Bangkalan, kehadiran Presiden Prabowo pada penutupan Munas dan Konbes NU bukan sekadar agenda seremonial.

Momentum tersebut dianggap sebagai kesempatan untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah pusat dan masyarakat daerah terkait berbagai program pembangunan yang masih menunggu realisasi.

Sementara perbincangan mengenai mitos Kediri terus bergulir di media sosial, banyak pihak mengingatkan agar masyarakat memandangnya secara proporsional sebagai bagian dari cerita budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Di era modern, keputusan politik dan agenda kenegaraan tetap ditentukan oleh pertimbangan strategis, bukan oleh mitos yang belum pernah terbukti kebenarannya.

Yang pasti, perubahan agenda Presiden Prabowo dari Kediri ke Bangkalan telah membuat kisah lama itu kembali muncul ke permukaan.

Namun di balik ramainya perbincangan tersebut, perhatian utama tetap tertuju pada pelaksanaan Munas dan Konbes NU serta harapan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang diharapkan membawa manfaat nyata bagi daerah.