Ratusan Porsi Makan Bergizi Gratis di Pandeglang Tak Tersalurkan, Berakhir Jadi Pakan Ternak

Fakta Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Jadi Pakan Ayam dan Bebek, Ini PenyebabnyaFakta Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Jadi Pakan Ayam dan Bebek, Ini Penyebabnya
Sisa Makanan MBG Menumpuk di SDN Caringin 1, Sekolah Terpaksa Salurkan ke Ternak Warga.

INBERITA.COM, Menjelang berakhirnya tahun ajaran, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah mulai menghadapi tantangan yang tidak selalu berkaitan dengan distribusi atau ketersediaan makanan.

Di Kabupaten Pandeglang, Banten, ratusan porsi makanan yang telah disiapkan untuk siswa justru tidak terserap karena banyak peserta didik memilih tidak datang ke sekolah.

Kondisi tersebut terjadi di SDN Caringin 1. Sekolah yang menjadi salah satu penerima program MBG itu mendapati jumlah siswa yang hadir jauh di bawah total peserta didik yang terdaftar sebagai penerima manfaat.

Akibatnya, makanan yang sudah diproduksi dan siap dibagikan tidak seluruhnya tersalurkan.

Fenomena ini memperlihatkan tantangan baru dalam implementasi program bantuan pangan di lingkungan pendidikan.

Ketika tingkat kehadiran siswa menurun menjelang pembagian rapor dan libur semester, jumlah makanan yang disiapkan berdasarkan data penerima sering kali tidak sebanding dengan jumlah siswa yang benar-benar hadir di sekolah.

Guru Kelas V SDN Caringin 1, Armadi, mengungkapkan bahwa tingkat kehadiran siswa saat ini hanya sekitar separuh dari jumlah keseluruhan peserta didik.

Menurutnya, situasi tersebut sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir seiring berkurangnya aktivitas belajar menjelang akhir semester.

“Dari total siswa yang ada, banyak yang tidak masuk karena kegiatan belajar sudah mendekati akhir semester. Kami sudah mengimbau melalui grup, tetapi tetap banyak yang tidak hadir,” kata Armadi kepada wartawan.

Program MBG di sekolah tersebut diperuntukkan bagi 262 siswa, ditambah 13 guru dan satu penjaga sekolah. Namun saat proses distribusi berlangsung, tidak semua penerima manfaat berada di sekolah untuk mengambil jatah makanan yang telah disiapkan.

Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya menghubungi siswa yang tidak hadir. Melalui berbagai saluran komunikasi yang tersedia, sekolah meminta mereka datang untuk mengambil makanan yang menjadi haknya. Akan tetapi, upaya tersebut tidak membuahkan hasil sesuai harapan.

“Kami sudah konfirmasi kepada yang tidak hadir untuk mengambil MBG, tapi tidak ada yang datang,” ujarnya.

Situasi ini kemudian menimbulkan persoalan lain. Makanan siap saji memiliki masa konsumsi yang terbatas sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.

Jika dibiarkan, makanan berisiko rusak dan akhirnya terbuang percuma. Untuk menghindari pemborosan, sekolah mengambil langkah praktis dengan menyalurkan makanan yang tersisa kepada warga sekitar yang memiliki ternak.

Ratusan porsi makanan yang tidak terserap itu akhirnya dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan bebek milik warga.

Keputusan tersebut diambil bukan karena makanan tidak layak konsumsi, melainkan sebagai jalan keluar agar makanan yang sudah diproduksi tetap memiliki manfaat dan tidak berakhir di tempat sampah.

“Iya mubazir. Daripada terbuang, kami kasih ke warga yang punya ternak. Ompreng juga harus kembali dalam keadaan bersih,” kata Armadi.

Kasus ini menjadi sorotan karena Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah sekaligus mendukung proses belajar.

Ketika makanan yang telah disiapkan tidak sampai kepada penerima utama, muncul pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme distribusi pada periode-periode tertentu, terutama saat tingkat kehadiran siswa menurun.

Di sisi lain, kejadian tersebut juga menunjukkan perlunya penyesuaian perencanaan jumlah produksi makanan berdasarkan kondisi riil di lapangan.

Data penerima manfaat yang bersifat tetap belum tentu mencerminkan jumlah siswa yang hadir setiap hari, khususnya menjelang masa libur sekolah. Tanpa mekanisme penyesuaian yang fleksibel, potensi kelebihan produksi makanan dapat terus terjadi.

Selain persoalan kehadiran siswa, pihak sekolah juga menyoroti faktor lain yang dinilai memengaruhi antusiasme peserta didik terhadap program tersebut. Menurut Armadi, sebagian siswa mulai menunjukkan kejenuhan terhadap menu yang disajikan.

“Siswa mulai bosan dengan menu yang itu-itu saja,” ujarnya.

Masukan terkait variasi menu sebenarnya menjadi salah satu isu yang kerap muncul dalam pelaksanaan program pemberian makanan di sekolah. Anak-anak cenderung memiliki preferensi makanan yang beragam.

Ketika jenis makanan yang diterima terlalu sering berulang, minat untuk mengonsumsi makanan tersebut bisa menurun.

Meski demikian, faktor kejenuhan menu belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama banyaknya siswa yang tidak hadir.

Penurunan kehadiran menjelang akhir semester merupakan fenomena yang umum terjadi di sejumlah sekolah karena sebagian kegiatan akademik telah selesai dilaksanakan.

Peristiwa di SDN Caringin 1 menjadi gambaran bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran dan distribusi makanan.

Kehadiran siswa, ketepatan perencanaan jumlah porsi, hingga variasi menu juga menjadi bagian penting yang memengaruhi efektivitas program di lapangan.

Ke depan, evaluasi menyeluruh diperlukan agar makanan yang telah disiapkan benar-benar dapat dinikmati oleh penerima manfaat.

Dengan perencanaan yang lebih adaptif terhadap kondisi sekolah dan pola kehadiran siswa, potensi pemborosan dapat ditekan sekaligus memastikan tujuan utama program, yakni meningkatkan asupan gizi anak-anak, dapat tercapai secara optimal.