Viral Babi Hutan Seruduk Pemuda di Kuningan, Aksi Berani Lindungi Anak-anak Berujung Luka

Kronologi Babi Hutan Ngamuk di Kuningan, Pemuda 22 Tahun Terluka Saat Halau Hewan LiarKronologi Babi Hutan Ngamuk di Kuningan, Pemuda 22 Tahun Terluka Saat Halau Hewan Liar
Babi Hutan Masuk Permukiman Warga Kuningan, Pemuda Jadi Korban Saat Cegah Kepanikan .

INBERITA.COM, Sebuah video yang memperlihatkan seekor babi hutan mengamuk di kawasan permukiman warga di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ramai beredar di media sosial.

Rekaman tersebut memperlihatkan suasana mencekam ketika seekor babi berukuran besar menyeruduk seorang pemuda hingga terjatuh, sementara warga berupaya menyelamatkannya dengan peralatan seadanya.

Peristiwa itu diketahui terjadi di Dusun Pahing Blok Jati, RT 19 RW 06, Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, pada Minggu (2/8/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Korban merupakan seorang pemuda bernama Anasikin (22), yang akrab disapa Anas.

Dalam video yang beredar, Anas terlihat mengenakan kaus dan celana hitam saat berusaha menghadang laju babi hutan tersebut. Hewan liar itu kemudian menyeruduknya hingga tersungkur.

Akibat benturan dan serangan tersebut, celana korban tampak robek, sementara warga di sekitar lokasi berusaha mengusir sekaligus melumpuhkan babi menggunakan batang besi dan berbagai benda yang tersedia.

Suasana dalam video juga diwarnai kepanikan warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Salah seorang perekam terdengar mengomentari ukuran babi yang dinilai jauh lebih besar dibandingkan biasanya.

Setelah ditelusuri, perangkat Desa Subang, Sujana, membenarkan bahwa insiden tersebut memang terjadi di wilayahnya. Menurut dia, babi hutan itu bukan berasal dari area permukiman, melainkan keluar dari kawasan hutan ketika sedang diburu oleh sejumlah warga.

“Bener di Desa Subang, Kecamatan Subang, Kuningan itu terjadi hari Minggu 11.30 WIB siang, dan itu babi asalnya dari hutan yang ingin diburu,” ujar Sujana kepada awak media.

Ia menjelaskan, sebelum memasuki kampung, terdapat dua ekor babi hutan yang sedang dikejar pemburu di kawasan hutan sebelah utara desa.

Ketika pengejaran berlangsung, salah satu babi berhasil meloloskan diri ke arah selatan hingga memasuki permukiman, sedangkan seekor lainnya kembali masuk ke dalam hutan.

Menurut Sujana, kondisi tersebut membuat babi berada dalam keadaan panik sekaligus kelelahan. Hewan liar yang kehilangan arah itu akhirnya berlari melewati jalan utama sebelum masuk ke gang sempit yang berada di tengah permukiman warga.

“Itu babi lagi diburu dari hutan sebelah utara Desa Subang. Diburu kan ke arah selatannya itu udah permukiman. Karena dari sebelah utaranya diburu, jadi emang ke mana lagi lari. Dikejar kan ke permukiman lah lari,” kata Sujana.

Situasi menjadi semakin berbahaya karena di ujung gang terdapat sejumlah anak-anak yang sedang beraktivitas. Melihat ancaman tersebut, Anas spontan berusaha menghadang laju babi agar tidak terus bergerak ke arah kerumunan.

Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Namun, bukannya berhasil menghentikan hewan liar tersebut, Anas justru menjadi sasaran serangan. Babi hutan menyeruduk sekaligus menggigit korban hingga membuatnya kesulitan melepaskan diri.

“Ternyata kan babi udah capek. Kalau lewat sedikit aja ke sebelah selatannya lagi belok kiri dari gang, udah ketemu sama anak-anak, justru lebih bahaya. Padahal dia itu cuma ketahuan ada babi, mungkin dia itu mau cegat agar tidak ke anak-anak, eh dia malah jadi korban,” tutur Sujana.

Gang sempit tempat kejadian berlangsung membuat proses penyelamatan tidak mudah. Warga yang datang untuk membantu harus berhati-hati karena ruang gerak sangat terbatas, sementara babi masih terus menyerang dalam kondisi agresif.

“Dia berusaha nahan, terus ya sambil teriak-teriak, berdatangan orang. Berdatangan orang juga kan jadi penuh perhitungan juga, enggak asal nolong. Jadi sulit juga nyari alat. Udah itu kan di gang sempit, jadi ke kiri kanan mentok,” ujarnya.

Sebagian warga bahkan harus memberikan pertolongan dari balik tembok maupun dari posisi yang lebih tinggi untuk menghindari serudukan babi. Setelah menemukan linggis, mereka berusaha melumpuhkan hewan tersebut agar korban dapat segera dievakuasi.

Linggis ditusukkan ke bagian belakang tubuh babi sehingga gerakannya mulai terbatas. Meski demikian, warga masih harus memastikan hewan tersebut benar-benar tidak lagi membahayakan.

Berbagai benda di sekitar lokasi, mulai dari cobek, pot bunga, hingga peralatan rumah tangga lainnya, dilemparkan ke arah babi sampai akhirnya hewan itu kehilangan tenaga.

“Iya, itu dilumpuhkannya pakai linggis. Jadi belakangnya ditusuk pakai linggis. Terus ditimpukin sama apa yang ada, ada yang pakai cowet, mutu, pot kembang. Yang dekat-dekat aja lah ditimpukin,” kata Sujana.

Setelah situasi berhasil dikendalikan, sekitar 10 hingga 15 warga bergotong royong mengamankan babi hutan tersebut dan membawanya keluar dari kawasan permukiman agar tidak lagi membahayakan masyarakat.

Sementara itu, Anas mengalami luka akibat gigitan serta tusukan taring babi pada beberapa bagian kaki. Meski sempat kesulitan berjalan karena luka di telapak kaki, kondisinya dilaporkan tidak sampai memerlukan tindakan jahitan.

“Alhamdulillah tadi sehabis jenguk, cuman dia masih sulit jalan karena di dampal (telapak) kakinya itu ada luka. Untungnya nggak sampai dijahit,” ujar Sujana.

Ia menambahkan, babi yang diamankan diperkirakan merupakan babi hutan betina berusia sekitar dua tahun dengan panjang taring kurang lebih 2,5 sentimeter.

Peristiwa tersebut kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat yang tinggal di wilayah berbatasan dengan kawasan hutan.

Satwa liar yang merasa terancam atau kehilangan jalur pelarian kerap memasuki permukiman dan dapat bersikap agresif ketika berada dalam kondisi stres.

Dalam situasi seperti itu, keselamatan warga menjadi prioritas utama, sementara penanganan satwa liar sebaiknya dilakukan secara terkoordinasi untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban.