Suasana Waisak 2026 di Bundaran HI, Jakarta Bersinar dengan Instalasi Cahaya dan Pesan Perdamaian

Illumination jakarta waisak 2026 bundaran hiIllumination jakarta waisak 2026 bundaran hi
Bundaran HI menjadi ruang pertemuan lintas komunitas yang mengusung pesan toleransi dan perdamaian.

INBERITA.COM, Kawasan Bundaran HI kembali menjadi wajah utama perayaan publik berskala besar di Jakarta. Kali ini, ruang ikonik di jantung ibu kota tersebut disulap menjadi pusat kegiatan spiritual, budaya, dan kreativitas dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) Tahun 2026.

Melalui tajuk “Illumination of Jakarta, Glow of Peace”, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2026.

Agenda ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan umat Buddha, tetapi juga dirancang sebagai simbol kebersamaan masyarakat urban yang hidup di tengah keberagaman budaya dan keyakinan.

Di tengah transformasi Jakarta menuju kota global, perayaan Waisak tahun ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari kemegahan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

Nilai-nilai sosial seperti toleransi, harmoni, dan penghormatan terhadap keberagaman juga menjadi bagian penting dari identitas sebuah kota modern.

Rangkaian kegiatan tersebut digelar oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta melalui kolaborasi bersama Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudi) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).

Kolaborasi ini menghadirkan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat luas, mulai dari doa bersama, pertunjukan seni budaya, dekorasi tematik Waisak, hingga instalasi pencahayaan yang mempercantik ruang publik.

Atmosfer perayaan terlihat tidak hanya menyasar umat Buddha, tetapi juga komunitas lintas agama, pelaku ekonomi kreatif, wisatawan, dan warga Jakarta secara umum.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang yang sama menjadi gambaran nyata tentang pentingnya kohesi sosial di tengah kehidupan perkotaan yang semakin dinamis.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata, menilai Waisak memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar peringatan keagamaan.

Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi sarana memperkuat nilai toleransi sekaligus memperlihatkan karakter Jakarta sebagai kota yang terbuka bagi semua kelompok masyarakat.

“Perayaan Waisak 2026 menjadi bagian penting dalam memperlihatkan wajah Jakarta sebagai kota yang terbuka, damai, dan penuh semangat kebersamaan,” ujar Andhika.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi yang terbangun dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman budaya dan spiritual yang berkesan bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pernyataan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan destinasi wisata perkotaan berbasis pengalaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kota besar dunia memanfaatkan perayaan budaya dan keagamaan sebagai daya tarik wisata yang mampu menghadirkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas lokal.

Bagi Jakarta, strategi tersebut menjadi semakin relevan karena kota ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dari seluruh Indonesia maupun mancanegara.

Selain menghadirkan kegiatan spiritual dan budaya, penyelenggara juga memperkuat elemen visual melalui berbagai instalasi seni dan pencahayaan tematik yang dipasang di kawasan Bundaran HI.

Kehadiran elemen tersebut diharapkan menciptakan suasana yang lebih atraktif sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang datang berkunjung.

Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, Lucky Wulandari, menjelaskan bahwa pengembangan atraksi visual di ruang publik menjadi bagian dari upaya menghadirkan perayaan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, instalasi seni dan pencahayaan tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan perdamaian, cinta kasih, dan penghormatan terhadap sesama yang menjadi inti ajaran Waisak.

“Kehadiran instalasi seni dan pencahayaan tematik di Bundaran HI diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata kota sekaligus memperkuat pesan perdamaian dan cinta kasih yang menjadi nilai utama Hari Raya Waisak,” kata Lucky.

Dari sisi ekonomi, kegiatan seperti ini juga memberikan peluang bagi pelaku industri kreatif untuk terlibat dalam penyelenggaraan acara berskala besar.

Seniman, desainer instalasi, pelaku pertunjukan budaya, hingga pelaku usaha mikro di sekitar lokasi berpotensi merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama berlangsungnya acara.

Tak kalah penting, perayaan tersebut menjadi pengingat bahwa ruang publik dapat berfungsi sebagai medium dialog sosial.

Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu perayaan yang menjunjung nilai perdamaian, maka tercipta ruang interaksi yang memperkuat rasa saling memahami dan menghargai.

Melalui “Illumination of Jakarta, Glow of Peace”, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menunjukkan bahwa kota yang maju tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung tinggi dan infrastruktur modern.

Kota yang kuat juga lahir dari masyarakat yang mampu hidup berdampingan dalam suasana harmonis. Perayaan Waisak 2026 di Bundaran HI menjadi cerminan dari semangat tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan metropolitan, pesan tentang kedamaian, kasih sayang, dan persatuan hadir menyinari ruang kota, mengajak masyarakat untuk merayakan keberagaman sebagai kekuatan bersama dalam membangun Jakarta yang inklusif, aman, dan nyaman bagi semua.