INBERITA.COM, Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan internasional.
Setelah perhatian dunia tertuju pada potensi gangguan di Selat Hormuz, kini Laut Merah juga menghadapi risiko serupa menyusul meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di jalur tersebut.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengingatkan bahwa eskalasi serangan di Laut Merah berpotensi mengganggu rantai pasok global sekaligus meningkatkan ketidakpastian terhadap lalu lintas perdagangan dunia.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menegaskan Laut Merah merupakan salah satu koridor pelayaran paling strategis bagi aktivitas perdagangan internasional. Karena itu, setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat berdampak jauh melampaui wilayah konflik.
“Laut Merah merupakan koridor maritim yang sangat penting untuk perdagangan internasional. Serangan berkelanjutan terhadap kapal di wilayah ini berisiko meningkatkan ketegangan, semakin mengganggu jalur perdagangan, dan merusak prinsip kebebasan navigasi,” kata Dominguez dalam pernyataan yang dikutip melalui layanan pers IMO, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kelompok Ansar Allah atau Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi menggunakan rudal dan drone.
Kelompok itu menyebut serangan dilakukan karena kapal-kapal tersebut dianggap melanggar larangan navigasi yang mereka tetapkan di Laut Merah.
Di hari yang sama, Otoritas Transportasi Umum Arab Saudi mengonfirmasi salah satu kapal tanker, Encelia, menjadi sasaran serangan.
Insiden tersebut dilaporkan memicu kebakaran di atas kapal, meski rincian mengenai korban maupun tingkat kerusakan belum dipublikasikan secara lengkap.
Menurut Dominguez, situasi tersebut bukan hanya mengancam keselamatan kapal dan awaknya, tetapi juga dapat memicu konsekuensi ekonomi yang lebih luas.
Gangguan terhadap jalur pelayaran utama berpotensi meningkatkan biaya logistik, memperlambat distribusi barang, hingga memengaruhi stabilitas rantai pasok internasional.
Selain itu, IMO juga menyoroti risiko terhadap keselamatan para pelaut yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.
Serangan terhadap kapal dagang dinilai memperbesar ancaman terhadap keamanan pelayaran sipil yang seharusnya mendapat perlindungan berdasarkan hukum maritim internasional.
Dominguez turut mengingatkan potensi dampak lingkungan apabila insiden serupa terus berulang.
Serangan terhadap kapal tanker maupun kapal pengangkut bahan berbahaya berisiko memicu pencemaran laut yang dapat berdampak jangka panjang terhadap ekosistem di kawasan Laut Merah.
Karena itu, IMO menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan langkah-langkah deeskalasi guna mencegah konflik semakin meluas.
Dalam beberapa waktu terakhir, Laut Merah menjadi salah satu kawasan yang paling diawasi oleh pelaku industri pelayaran global. Jalur ini merupakan penghubung penting antara Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika melalui Terusan Suez, sehingga setiap gangguan keamanan dapat memengaruhi arus perdagangan internasional.
Kekhawatiran semakin meningkat karena situasi di Laut Merah terjadi di tengah ketegangan lain di kawasan, termasuk potensi gangguan terhadap jalur energi melalui Selat Hormuz.
Kombinasi dua titik strategis tersebut dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap distribusi minyak, gas, maupun berbagai komoditas dunia apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa aktivitas pelayaran internasional akan dihentikan.
Namun, meningkatnya risiko keamanan membuat sejumlah perusahaan pelayaran diperkirakan akan terus mengevaluasi rute perjalanan, biaya operasional, serta langkah-langkah mitigasi demi menjamin keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi barang.







