Trump Ultimatum Iran soal Pickaxe Mountain, Ancam Serangan Jika Program Nuklir Berlanjut

Pickaxe mountain fasilitas nuklir iranPickaxe mountain fasilitas nuklir iran
Pickaxe Mountain disebut sebagai salah satu fasilitas nuklir paling terlindungi yang dibangun Iran. Aktivitas pembangunan di Pickaxe Mountain terpantau melalui citra satelit dan menjadi perhatian intelijen Barat.

INBERITA.COM, Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase penuh ketegangan setelah muncul laporan mengenai aktivitas terbaru di fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain.

Lokasi yang berada di dekat kompleks nuklir Natanz itu disebut terus dikembangkan meskipun sebelumnya Teheran dan Washington telah mencapai nota kesepahaman mengenai pengelolaan program nuklir Iran.

Perkembangan tersebut memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam sebuah wawancara radio, Trump menegaskan Washington tidak akan tinggal diam apabila Iran terus memperkuat infrastruktur nuklirnya.

“Kami akan menghancurkan Pickaxe Mountain. Katakan kepada Iran agar bersiap,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintahan AS kembali membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diplomasi dianggap gagal menghentikan aktivitas nuklir Iran.

Menurut Trump, pembangunan fasilitas baru itu menunjukkan Teheran tidak pernah benar-benar menghentikan ambisinya mengembangkan kemampuan nuklir.

Ia menilai proyek di Pickaxe Mountain merupakan upaya memulihkan kapasitas nuklir Iran setelah sejumlah fasilitas strategis mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel pada 2025 dan 2026.

Pickaxe Mountain sendiri kini menjadi salah satu lokasi yang paling banyak diperbincangkan dalam isu keamanan internasional. Fasilitas tersebut dibangun di kawasan pegunungan granit dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah.

Konstruksi semacam itu membuat kompleks tersebut diyakini memiliki tingkat perlindungan jauh lebih tinggi dibanding sebagian besar fasilitas nuklir lain di Iran.

Seorang penasihat senior pemerintah Iran bahkan pernah menyebut Pickaxe Mountain sebagai fasilitas nuklir paling dibentengi di dunia. Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap lokasi tersebut berpotensi memicu eskalasi besar di Timur Tengah.

Meski berada jauh di bawah permukaan tanah, sejumlah analis pertahanan Amerika menilai fasilitas tersebut tetap dapat diserang melalui kombinasi bom penghancur bunker berdaya tembus tinggi, serangan presisi, maupun operasi militer khusus.

Pemerintah Iran menyatakan pembangunan Pickaxe Mountain hanya ditujukan sebagai lokasi perakitan sentrifugal yang telah dirancang sejak 2020.

Menurut Teheran, proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan industri nuklir sipil dan tidak berkaitan dengan program senjata.

Namun, badan intelijen Barat memiliki pandangan berbeda. Mereka menduga kompleks bawah tanah tersebut disiapkan sebagai fasilitas pengayaan uranium yang belum pernah diumumkan kepada komunitas internasional.

Kecurigaan tersebut semakin menguat karena lokasi Pickaxe Mountain disebut memiliki karakteristik yang bahkan lebih terlindungi dibanding fasilitas Fordow, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pengayaan uranium utama Iran.

Selain itu, sejumlah laporan intelijen menyebut kemungkinan telah terjadi pemindahan sentrifugal dan peralatan penting ke dalam kompleks bawah tanah tersebut.

Aktivitas terbaru di kawasan itu juga terekam melalui citra satelit. Berdasarkan analisis yang dilakukan Institute for Science and International Security, pembangunan masih berlangsung hingga akhir Juni.

Citra tersebut memperlihatkan lalu lintas kendaraan berat, pengerjaan terowongan baru, hingga penguatan sejumlah akses masuk menuju fasilitas bawah tanah.

Perkembangan itu dinilai bertentangan dengan nota kesepahaman yang ditandatangani Iran pada 17 Juni. Dalam kesepakatan tersebut, Teheran disebut berkewajiban mempertahankan status quo program nuklirnya sambil membuka ruang bagi proses diplomasi.

Selain aktivitas pembangunan, kekhawatiran juga muncul karena Iran dilaporkan terus membatasi akses para inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke sejumlah fasilitas nuklir yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan militer.

Keterbatasan akses tersebut membuat verifikasi independen terhadap aktivitas di Pickaxe Mountain menjadi semakin sulit dilakukan.

Isu lain yang turut menjadi perhatian adalah stok uranium Iran. Sebelum konflik bersenjata meningkat pada 2025, berbagai laporan menyebut Iran telah memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen.

Material tersebut berada di bawah ambang yang umumnya digunakan untuk senjata nuklir, tetapi secara teknis dapat diperkaya lebih lanjut apabila terdapat keputusan politik dan kemampuan teknologi yang memadai.

Sebagian cadangan uranium itu sebelumnya disimpan di fasilitas Fordow, Natanz, serta kompleks bawah tanah Isfahan.

Walaupun sejumlah fasilitas telah mengalami kerusakan akibat serangan militer, para analis menilai masih ada kemungkinan sebagian material maupun peralatan penting berhasil diamankan dan dapat digunakan kembali.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, Trump menegaskan bahwa Pickaxe Mountain kini menjadi salah satu lokasi yang diawasi secara intensif oleh aparat keamanan Amerika Serikat.

“Lokasi itu ada dalam daftar kami. Kami mengawasinya dengan sangat dekat. Kemungkinan besar kami akan mengambil tindakan terhadap Pickaxe dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa opsi militer tetap menjadi bagian dari strategi Washington apabila Iran dinilai tidak menunjukkan kepatuhan terhadap komitmen internasionalnya.

Sejumlah pakar keamanan di Amerika juga mendorong pemerintah agar terlebih dahulu menuntut akses penuh bagi IAEA ke fasilitas tersebut.

Mereka menilai inspeksi internasional merupakan langkah paling penting untuk memastikan aktivitas di Pickaxe Mountain benar-benar bersifat damai.

Namun apabila Iran tetap menolak membuka akses, sejumlah analis berpendapat Washington kemungkinan akan mempertimbangkan berbagai opsi lain, mulai dari serangan presisi terhadap pintu masuk terowongan, penggunaan bom penghancur bunker, hingga operasi khusus untuk melumpuhkan fasilitas tersebut.

Situasi terbaru ini kembali memperlihatkan rapuhnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Di tengah belum pulihnya stabilitas kawasan Timur Tengah, perkembangan di Pickaxe Mountain berpotensi menjadi pemicu babak baru ketegangan yang dapat berdampak luas terhadap keamanan regional maupun dinamika diplomasi internasional.