Presiden Iran Nyatakan Negaranya Masuk Perang Skala Penuh dengan AS, Ketegangan Semakin Meningkat

Iran umumkan perang skala penuh dengan AmerikaIran umumkan perang skala penuh dengan Amerika
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang menghadapi perang skala penuh dengan Amerika Serikat. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat dengan saling serang di berbagai wilayah Timur Tengah.

INBERITA.COM, Konflik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase yang semakin serius. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya kini berada dalam kondisi “perang skala penuh” dengan Amerika Serikat, menyusul eskalasi serangan militer yang terus berlangsung di berbagai wilayah Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam pertemuan Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (20/7/2026).

Menurut kantor kepresidenan Iran, kepala negara menegaskan bahwa konflik yang dihadapi Teheran telah melampaui perang konvensional dan kini juga mencakup tekanan terhadap sektor ekonomi serta kehidupan masyarakat.

“Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh,” kata Pezeshkian dalam pernyataan resmi yang dikutip sejumlah media internasional.

Ia menambahkan bahwa perang yang berlangsung saat ini bukan semata-mata berupa serangan rudal atau operasi militer.

“Perang saat ini bukan hanya perang rudal; musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Pezeshkian menilai medan pertempuran terpenting justru berada pada sektor ekonomi. Ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat memicu ketidakpuasan sosial apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh,” katanya.

Presiden Iran juga menyinggung dampak konflik terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, pemerintah harus mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya tekanan akibat perang.

“Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan,” ujar Pezeshkian.

Ia memperingatkan bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap negara.

Pernyataan tersebut muncul ketika Amerika Serikat terus melanjutkan operasi militernya di sejumlah wilayah Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan dilaporkan menyasar berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis di bagian utara maupun tengah negara itu sebagai bagian dari kampanye militer yang terus berkembang.

Di sisi lain, Iran terus melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Serangan rudal dan drone dilaporkan menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan sebagai respons atas operasi militer Washington.

Eskalasi konflik juga melibatkan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Kelompok tersebut sebelumnya mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi sebagai respons atas meningkatnya keterlibatan Riyadh dalam konflik.

Langkah itu menambah tekanan terhadap jalur perdagangan dan distribusi energi di kawasan Laut Merah.

Situasi ini semakin memperbesar risiko terhadap pasar energi global. Selain gangguan di Laut Merah, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia juga mengalami gangguan akibat konflik yang terus meningkat.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia kembali menanjak dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran setelah serangkaian serangan yang menewaskan personel militer AS.

Washington menegaskan operasi militer akan terus berlanjut sebagai bagian dari respons terhadap serangan yang ditujukan kepada pasukan Amerika di kawasan.

Meski kedua pihak terus meningkatkan operasi militernya, berbagai laporan menyebut jalur diplomasi masih belum sepenuhnya tertutup.

Sejumlah negara dan mediator internasional masih berupaya mendorong tercapainya gencatan senjata untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di Timur Tengah. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi yang signifikan.