Konflik Rusia-Ukraina Ikut Memanas, Moskow Hujani Kyiv dengan Serangan Rudal Balistik

Rudal balistik rusia serang kyivRudal balistik rusia serang kyiv
Ledakan mengguncang Kyiv setelah Rusia meluncurkan gelombang rudal balistik pada Minggu.

INBERITA.COM, Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase dengan intensitas tinggi setelah Rusia melancarkan serangan rudal balistik berskala besar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Minggu (19/7).

Serangan tersebut menghantam sejumlah kawasan permukiman dan fasilitas sipil, memicu korban jiwa serta kerusakan di berbagai titik kota.

Pemerintah Ukraina menyebut gelombang serangan kali ini sebagai salah satu yang paling masif sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada Februari 2022.

Selain memperlihatkan peningkatan tekanan militer dari Moskow, serangan itu juga memperbesar kekhawatiran akan semakin sulitnya upaya meredakan konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan Rusia menembakkan sekitar empat lusin rudal balistik ke arah Kyiv. Menurutnya, jumlah tersebut menjadi yang terbesar dalam satu gelombang serangan sejak perang dimulai.

“Rusia meluncurkan jumlah rudal balistik terbesar sejak awal perang, sekitar empat lusin, dalam serangan teroris brutal terhadap ibu kota Ukraina yang menewaskan dan melukai warga sipil,” tulis Sybiha melalui akun X.

Ia kembali mendesak negara-negara mitra meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar serangan terhadap wilayah sipil segera dihentikan.

“Kami membutuhkan tekanan yang menghancurkan terhadap Moskow untuk mengakhiri teror ini,” ujarnya.

Berdasarkan data sementara otoritas Ukraina, serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan menyebabkan 13 lainnya mengalami luka-luka.

Tim penyelamat langsung diterjunkan untuk melakukan evakuasi dan menangani kebakaran yang muncul di sejumlah lokasi.

Ledakan terdengar di berbagai penjuru Kyiv tidak lama setelah Angkatan Udara Ukraina mengeluarkan peringatan dini mengenai ancaman rudal balistik. Warga diminta segera menuju tempat perlindungan ketika sistem pertahanan udara mulai diaktifkan.

Menurut pemerintah kota Kyiv, beberapa distrik terdampak cukup parah. Sebuah gedung apartemen di Distrik Solomianskyi mengalami kerusakan, sementara sebuah supermarket dilaporkan terbakar. Kebakaran juga terjadi pada sebuah rumah di Distrik Sviatoshynskyi.

Kerusakan turut dilaporkan terjadi pada pusat perbelanjaan dan hiburan di Distrik Dniprovskyi, bangunan apartemen di Distrik Shevchenkivskyi, serta sejumlah gedung nonhunian. Aparat masih melakukan pendataan terhadap tingkat kerusakan dan kemungkinan bertambahnya jumlah korban.

Serangan ke Kyiv terjadi sehari setelah Ukraina melancarkan operasi pesawat nirawak ke wilayah Rusia.

Dalam serangan tersebut, sejumlah fasilitas logistik dan pergudangan dilaporkan menjadi sasaran. Perkembangan itu menunjukkan kedua belah pihak terus meningkatkan intensitas operasi militer, baik melalui rudal jarak jauh maupun drone.

Konflik juga meluas ke wilayah lain. Di Dnipropetrovsk, Ukraina tengah, serangan drone Rusia dilaporkan menewaskan satu orang. Sementara di wilayah Kursk, Rusia menyatakan satu warganya meninggal dunia akibat serangan yang dilakukan Ukraina.

Eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa medan pertempuran tidak lagi terbatas pada garis depan, tetapi juga semakin sering menyasar wilayah perkotaan dan infrastruktur sipil.

Kondisi tersebut memperbesar risiko kemanusiaan, sekaligus menambah tekanan terhadap sistem pertahanan udara Ukraina yang terus menghadapi gelombang serangan jarak jauh.

Hingga kini belum ada tanda-tanda kedua negara akan kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.

Di tengah saling balas serangan yang terus meningkat, perhatian dunia kembali tertuju pada perkembangan perang Rusia-Ukraina karena dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan Eropa Timur, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas keamanan, ekonomi, serta pasar energi global.