Israel Robohkan Pabrik dan Lahan Pertanian di Hebron, Warga Palestina Mengaku Tak Diberi Kesempatan Evakuasi

Tentara israel ledakkan pabrikTentara israel ledakkan pabrik
Kondisi pabrik di Beit Ula, Hebron, setelah dibongkar pasukan Israel dalam operasi di Tepi Barat. Lahan pertanian yang ditanami pohon zaitun di Beit Ula dilaporkan ikut diratakan dalam operasi militer Israel.

INBERITA.COM, Operasi militer Israel kembali memicu sorotan di Tepi Barat setelah sebuah pabrik, bangunan pertanian, dan lahan produktif milik warga Palestina dihancurkan di Kota Beit Ula, wilayah barat laut Hebron, pada Rabu (15/7/2026).

Aksi tersebut menambah daftar panjang pembongkaran bangunan sipil yang terjadi di Tepi Barat di tengah situasi keamanan yang masih bergejolak.

Selain berdampak pada infrastruktur, langkah itu juga dinilai berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat setempat yang bergantung pada sektor industri kecil dan pertanian.

Menurut keterangan Wali Kota Beit Ula, Mahmoud al-Sarrahin, pasukan Israel memasuki kawasan Al-Mikhd sebelum membongkar sebuah pabrik yang memproduksi sekaligus mengerjakan dekorasi besi serta dudukan panel surya.

Informasi yang disampaikan kepada awak media menyebut pabrik tersebut memiliki luas lebih dari 800 meter persegi dan dimiliki oleh Ishaq Muhammad al-Atrash serta Rajai al-Amleh.

Selain pabrik, operasi tersebut juga menyasar sebuah bangunan pertanian berukuran sekitar 20 meter persegi. Bangunan itu dilaporkan merupakan milik Muhammad Khalid Sidr, Osama Farash, dan Ahmad Yusuf al-Amleh.

Wael Abu Habtain, anggota Komite Pemantauan dan Penguatan Ketahanan Warga Beit Ula Barat, mengatakan pembongkaran tidak berhenti pada bangunan saja.

Pasukan Israel juga meratakan tembok batu serta lahan pertanian seluas sekitar 1.500 meter persegi yang ditanami pohon zaitun dan berbagai tanaman lainnya.

Kerusakan pada lahan produktif tersebut diperkirakan akan berdampak langsung terhadap mata pencaharian sejumlah keluarga yang menggantungkan penghasilan dari hasil pertanian dan aktivitas industri di kawasan tersebut.

Sejumlah warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang yang berada di dalam pabrik. Mereka menyebut proses pembongkaran berlangsung tanpa memberikan kesempatan untuk mengevakuasi mesin produksi, peralatan kerja, dokumen usaha, kantor, maupun fasilitas lain yang berada di lokasi.

Insiden ini kembali menyoroti kondisi di Tepi Barat yang dalam beberapa tahun terakhir diwarnai peningkatan operasi militer, pembongkaran bangunan, dan sengketa penggunaan lahan.

Selain memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat, peristiwa semacam ini juga kerap menjadi perhatian komunitas internasional karena menyangkut aspek kemanusiaan dan perlindungan terhadap warga sipil di wilayah konflik.

Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi dari otoritas Israel mengenai alasan pembongkaran pabrik dan lahan pertanian tersebut.

Sementara itu, warga Beit Ula masih melakukan pendataan terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat operasi tersebut.