INBERITA.COM, Ketegangan nyaris berujung benturan fisik terjadi dalam siaran langsung program “Rakyat Bersuara” di iNews TV pada Rabu, 22 April 2026.
Momen tersebut memperlihatkan bagaimana perdebatan hukum yang seharusnya berjalan dalam koridor intelektual berubah menjadi konflik personal yang terbuka di hadapan publik.
Sejak awal acara, suasana studio sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda memanas. Sorot lampu yang terang benderang tidak mampu meredam tensi tinggi di antara para narasumber.
Perdebatan yang semula membahas isu hukum nasional berkembang semakin tajam, terutama ketika diskusi memasuki topik sensitif terkait dugaan ijazah palsu Presiden RI ke-7, Joko Widodo.
Dalam forum tersebut, Jahmada Girsang hadir sebagai pihak yang membela kliennya, Rismon Sianipar.
Sebelumnya, Rismon diketahui telah menempuh jalur restorative justice (RJ) dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Namun, langkah tersebut justru menjadi titik rawan yang memicu perdebatan lebih panas ketika disandingkan dengan strategi hukum pihak lawan.
Di sisi lain, Refly Harun tampil sebagai kuasa hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa.
Ia menyampaikan argumen yang dianggap oleh Jahmada Girsang telah melampaui batas profesionalitas, bahkan dinilai menyerang kehormatan pihak yang dibela Jahmada.
Perbedaan pendekatan hukum ini kemudian berkembang menjadi ketegangan yang tidak lagi sekadar adu argumen.
Kamera siaran langsung menangkap perubahan gestur yang signifikan dari kedua tokoh hukum tersebut.
Nada suara yang meninggi, ekspresi wajah yang menegang, hingga bahasa tubuh yang semakin agresif menjadi indikasi jelas bahwa situasi berada di ambang konflik terbuka.
Penonton yang menyaksikan secara langsung dibuat tegang ketika jarak antara debat intelektual dan potensi konfrontasi fisik semakin menipis.
Situasi semakin memanas ketika Refly Harun mencoba mencairkan suasana dengan pendekatan personal.
Ia sempat menyalami Rismon Sianipar dan melontarkan komentar bernuansa kelakar terkait status pengacara lawannya. Namun, langkah tersebut justru menjadi pemicu babak baru ketegangan.
Refly kemudian menghampiri Jahmada Girsang untuk bersalaman. Dalam momen itu, ia melontarkan pernyataan yang kemudian memicu reaksi keras dari Jahmada.
“Ini teman saya yang paling baik. Tetapi ketika belok, dia tidak ngomong,” ucap Refly.
Pernyataan tersebut tampaknya tidak diterima dengan baik oleh Jahmada. Alih-alih meredakan situasi, ucapan itu justru memperkeruh suasana yang sudah panas sejak awal diskusi.
Reaksi spontan yang muncul menunjukkan adanya akumulasi emosi selama perdebatan berlangsung.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi di ruang publik yang seharusnya menjunjung tinggi etika diskusi dan profesionalisme, terlebih melibatkan para pakar hukum.
Peristiwa tersebut sekaligus mencerminkan betapa sensitifnya isu yang tengah dibahas, hingga mampu memicu emosi para pihak yang terlibat.
Momen nyaris adu jotos ini pun menjadi pengingat bahwa perdebatan, sekeras apa pun, tetap memerlukan kendali diri dan penghormatan terhadap lawan diskusi.
Ketika batas profesionalisme mulai kabur, maka substansi perdebatan berpotensi tenggelam oleh konflik personal.
Hingga akhir acara, ketegangan tersebut menjadi salah satu momen paling mencuri perhatian publik.
Tayangan ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana standar etika debat publik seharusnya dijaga, terutama dalam isu-isu hukum yang krusial dan sensitif.







