INBERITA.COM, Upaya pencarian korban longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memasuki hari kedua pada Jumat (14/11/2025).
Tim SAR gabungan menghadapi tantangan berat akibat kontur tanah yang labil, curah hujan yang masih berpotensi turun, serta risiko pergerakan tanah yang bisa memicu longsor susulan.
Tragedi longsor yang terjadi pada Kamis (13/11) sekitar pukul 20.00 WIB itu menimbun permukiman warga di tiga dusun, yakni Cibeunying, Cibaduyut, dan Tarakan, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam.
Sejak malam kejadian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap bersama tim SAR gabungan bergerak cepat melakukan evakuasi. Hingga Jumat dini hari pukul 03.00 WIB, sebanyak 23 warga berhasil ditemukan dalam kondisi selamat.
Di antara mereka, tiga orang mengalami luka ringan. Dua warga lainnya ditemukan meninggal dunia, sementara 21 orang masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus pencarian hingga kini.
Kondisi ini membuat operasi penyelamatan berpacu dengan waktu, terlebih fase “golden time” penyelamatan korban bencana masih berlangsung dan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tim di lapangan.
Namun, medan yang dihadapi bukanlah medan mudah. Tanah yang masih gembur akibat hujan membuat setiap langkah pencarian harus dilakukan dengan teknik khusus demi menghindari risiko tambahan.
Material tanah yang menimbun rumah warga juga bercampur batu dan pepohonan, sehingga memperlambat proses pengerukan.
Sejumlah relawan dan aparat gabungan tampak bekerja dalam kondisi penuh kewaspadaan, terutama karena potensi longsor susulan terus membayangi area terdampak.
Peringatan mengenai kondisi tanah yang belum stabil kembali disampaikan oleh BNPB.
“Dengan kontur tanah yang belum stabil, potensi longsor susulan tetap harus diwaspadai. Pencarian akan dilanjutkan, tetapi tetap mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangannya pada Jumat.
Keterangan tersebut menegaskan bahwa risiko bencana lanjutan tidak bisa diabaikan dan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan teknis di lapangan.
Untuk mempercepat operasi, satu unit alat berat mulai dikerahkan sejak Jumat pagi. Kehadiran alat berat diharapkan dapat membantu mempercepat pembukaan akses sekaligus memperpendek waktu pencarian korban yang tertimbun material longsor.
Selain itu, BNPB juga mengirimkan tim reaksi cepat guna memperkuat dukungan teknis dan koordinasi di lokasi terdampak.
Upaya tambahan ini diperlukan mengingat kondisi medan terus berubah, serta kemungkinan hujan yang bisa memperburuk situasi di area longsor.
Aspek cuaca memang menjadi perhatian serius. Berdasarkan prakiraan, Kecamatan Majenang diperkirakan masih akan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada periode Jumat (14/11/2025) hingga Minggu (16/11/2025).
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah di tebing yang sudah labil. Curah hujan sekecil apa pun bisa memicu retakan baru maupun menambah tekanan pada timbunan longsor yang sudah ada. Karena itu, penilaian risiko harus dilakukan secara berkala di lapangan.
Dalam situasi seperti ini, risiko longsor susulan menjadi perhatian utama tim SAR dan aparat setempat. Material tanah yang masih bergerak bukan hanya mengancam keberhasilan pencarian, tetapi juga keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Abdul Muhari mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada, menjauhi area rawan longsor, serta memastikan jalur evakuasi tetap terbuka dan mudah diakses jika sewaktu-waktu terjadi bencana lanjutan.
Peringatan ini penting mengingat sebagian masyarakat di daerah sekitar masih memilih bertahan di rumah masing-masing untuk menjaga barang berharga.
Pencarian korban hilang dijadwalkan terus dilanjutkan sepanjang hari ini dengan prioritas menemukan 21 warga yang belum diketahui keberadaannya.
Tim SAR gabungan memusatkan upaya pada area yang diperkirakan menjadi titik paling banyak terdampak material longsor.
Meski demikian, dinamika kondisi tanah membuat strategi pencarian harus disesuaikan dari waktu ke waktu.
Pada beberapa titik, tim harus memperlambat kerja karena tanah mulai menunjukkan pergerakan yang berbahaya. Di titik lain, alat berat baru dapat bergerak setelah dipastikan tidak ada retakan baru.
Hingga kini, harapan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat masih terbuka, meski waktu terus berjalan dan medan semakin menantang.
Pemerintah daerah dan BNPB mengingatkan masyarakat lebih luas untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat pentingnya kewaspadaan pada wilayah rawan longsor, terutama pada musim hujan ketika intensitas cuaca ekstrem meningkat.
Longsor di Cilacap ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi bukti nyata betapa rentannya wilayah dengan kontur tanah labil terhadap bencana ketika hujan deras turun dalam waktu lama.
Operasi pencarian di Majenang dipastikan akan terus berlanjut, dengan keselamatan tim tetap menjadi prioritas utama di tengah harapan untuk menemukan korban hilang secepat mungkin. (mms)







