INBERITA.COM, Pergerakan tanah yang terjadi di Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terus meluas dan menimbulkan dampak serius bagi masyarakat, terutama para petani.
Fenomena pergerakan tanah yang telah berlangsung sejak Senin (11/11/2025) itu semakin intensif hingga Jumat (28/11/2025), menyebabkan kerusakan besar pada lahan pertanian serta memaksa seluruh aktivitas pertanian dihentikan total.
Kerusakan paling parah terlihat pada lahan persawahan yang mengalami pergeseran tanah hingga mencapai sekitar 10 meter.
Pergeseran besar itu membuat permukaan tanah yang sebelumnya rata kini berubah menjadi hamparan retakan, gundukan, dan rekahan yang tak lagi memungkinkan untuk ditanami.
Bagi para petani yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil panen, kondisi ini menjadi pukulan berat.
Kasim, salah satu petani di Desa Sampang, menuturkan bahwa dari total lahan sawah sekitar 89 hektar, sebagian besar telah mengalami kerusakan. Lahan miliknya seluas 500 meter persegi juga tak luput dari dampak.
“Kondisinya sudah parah. Sudah bergeser sekitar 10 meter. Tadinya tanah rata, sekarang sudah hancur, terbelah-belah. Ada yang terdorong ke atas, ada yang ke samping,” ujarnya pada Jumat.
Ia menjelaskan bahwa saat ini seharusnya merupakan waktu yang ideal memasuki musim tanam padi. Biasanya, para petani sudah mulai mengolah lahan, menyemai bibit, atau menanam padi di sawah masing-masing.
Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Pergerakan tanah yang masih terjadi setiap hari membuat semua aktivitas pertanian terhenti.
“Ini harusnya musim tanam. Tapi sekarang tidak bisa aktivitas sama sekali. Bahkan yang sudah mau ditanam ada yang hilang ketimpa tanah,” kata Kasim.
Akibatnya, seluruh wilayah pertanian di Desa Sampang kini lumpuh. Para petani, yang biasanya sibuk di sawah sejak pagi hingga sore, kini lebih banyak tinggal di rumah.
Tidak ada aktivitas bercocok tanam, tidak ada perawatan lahan, bahkan tidak ada kegiatan persiapan untuk musim tanam. Semua itu terpaksa dihentikan karena kondisi tanah yang belum stabil dan berisiko besar jika tetap digarap.

Dampak pergerakan tanah tidak hanya menyangkut aspek pekerjaan, tetapi juga berimbas langsung pada ekonomi keluarga petani.
Selain mengandalkan hasil panen sebagai sumber pangan, sebagian besar petani di Desa Sampang menyimpan gabah sebagai cadangan beras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Namun, kondisi darurat yang terjadi membuat mereka kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar.
“Dampaknya jelas ke ekonomi. Biasanya kami punya simpanan gabah untuk cadangan beras sehari-hari, sekarang tidak punya sama sekali,” ungkap Kasim.
Dalam situasi normal, setiap panen para petani dapat menghasilkan sekitar 10 hingga 20 karung gabah. Hasil ini bukan untuk dijual, tetapi digunakan sebagai sumber pangan keluarga selama berbulan-bulan hingga musim panen berikutnya tiba.
Namun dengan lahan yang rusak serta ketidakmampuan menanam padi, para petani kini menghadapi kekhawatiran akan ketahanan pangan keluarga mereka.
“Biasanya panen itu buat makan sendiri, bukan dijual. Sekarang mau makan dari mana kalau tidak bisa nanam,” keluhnya.
Selain kehilangan penghasilan dan pasokan pangan, ketidakpastian situasi membuat kehidupan sehari-hari masyarakat desa semakin sulit. Para petani yang terbiasa bekerja di sawah kini tidak memiliki aktivitas pengganti.
Mereka pun harus berdiam diri sambil menunggu tanah kembali stabil, sembari berharap ada solusi atau bantuan yang dapat mengurangi beban mereka.
“Sekarang ya tidak punya aktivitas apa-apa. Kalau pertanian tidak bisa, ya di rumah saja,” tutur Kasim.
Hingga akhir November 2025 ini, belum ada tanda-tanda pergerakan tanah akan berhenti sepenuhnya. Retakan yang terus meluas membuat para petani khawatir fenomena ini akan berdampak lebih lama dan lebih buruk dari yang diperkirakan.
Jika kondisi tidak segera tertangani, ancaman kekurangan pangan, hilangnya sumber pendapatan, serta kerusakan lahan dalam jangka panjang menjadi risiko besar yang harus mereka hadapi.
Dengan situasi tersebut, para petani di Desa Sampang kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka bukan hanya berjuang mempertahankan mata pencaharian, tetapi juga berusaha menjaga keberlangsungan hidup keluarga di tengah bencana geologi yang tidak dapat mereka kendalikan.
Pergerakan tanah yang terus terjadi membuat masa depan pertanian di desa ini belum dapat dipastikan, sementara warga hanya bisa menunggu solusi di tengah keadaan yang semakin memprihatinkan. (**)







