INBERITA.COM, Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda perusahaan global, kali ini menyasar sektor yang selama ini dianggap relatif stabil, yakni teknologi.
Raksasa kopi dunia, Starbucks, dilaporkan memangkas sejumlah karyawan di divisi teknologi sebagai bagian dari langkah restrukturisasi besar yang tengah dijalankan perusahaan.
Kebijakan ini muncul di tengah upaya serius Starbucks untuk membenahi kinerja bisnisnya yang mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan tersebut dipimpin langsung oleh CEO baru, Brian Niccol, yang mulai menjabat pada 2024 dengan mandat untuk mempercepat pemulihan perusahaan dari perlambatan penjualan, penurunan profitabilitas, hingga berbagai persoalan operasional di tingkat gerai.
Informasi mengenai PHK ini terungkap melalui laporan internal perusahaan yang dikutip oleh awak media. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa manajemen Starbucks mulai menyampaikan pemberitahuan kepada karyawan yang terdampak pada pekan ini.
Sebelumnya, kabar mengenai rencana pemangkasan tenaga kerja memang telah beredar luas di internal perusahaan.
Meski demikian, hingga kini Starbucks belum mengungkapkan secara rinci jumlah karyawan yang terkena dampak maupun lokasi pasti pemangkasan tersebut, termasuk apakah akan terfokus di kantor pusatnya di Seattle.
Perusahaan hanya menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menata ulang operasional.
“ Kami sedang melakukan perubahan struktural untuk bergerak lebih cepat, mempertajam fokus, dan memastikan kami siap menjalankan prioritas paling penting kami,” tulis perusahaan dalam memo internal tersebut.
Manajemen juga menegaskan bahwa keputusan PHK ini tidak berkaitan dengan rencana pemindahan sebagian fungsi teknologi ke kantor baru di Nashville, Tennessee.
Pernyataan ini sekaligus merespons spekulasi yang berkembang di kalangan karyawan terkait relokasi pekerjaan.
“PHK ini bukan bagian dari rencana pemindahan sebagian pekerjaan teknologi dari Seattle ke kantor baru di Nashville,” demikian penegasan perusahaan.
Kantor baru di Nashville sendiri direncanakan akan menampung hingga 2.000 pekerjaan secara bertahap. Kehadiran fasilitas ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Starbucks dalam memperkuat infrastruktur bisnisnya, khususnya di bidang teknologi dan operasional.
Restrukturisasi yang tengah berlangsung tidak lepas dari arah baru yang diusung Brian Niccol sejak memimpin perusahaan.
Fokus utama transformasi ini adalah menciptakan efisiensi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing di tengah dinamika industri yang semakin ketat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Starbucks memang menghadapi tekanan signifikan, baik dari sisi penjualan maupun laba.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk melakukan berbagai langkah penyesuaian, mulai dari pembaruan konsep gerai hingga ekspansi ke pasar baru.
Selain itu, efisiensi biaya juga menjadi prioritas utama. Langkah ini mencakup berbagai lini bisnis, termasuk sumber daya manusia, operasional toko, hingga penguatan sistem berbasis teknologi.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Starbucks pada Desember 2025 menunjuk Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer (CTO).
Sebelum bergabung, Anand dikenal memiliki pengalaman panjang di Amazon, di mana ia menghabiskan hampir dua dekade dan memimpin bisnis grocery global perusahaan tersebut.
Penunjukan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat transformasi digital Starbucks, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan teknologi yang lebih optimal.
Namun, langkah restrukturisasi ini juga membawa konsekuensi besar bagi tenaga kerja. PHK terbaru menambah panjang daftar pengurangan karyawan yang telah dilakukan Starbucks dalam setahun terakhir.
Sebelumnya, perusahaan telah menutup ratusan gerai di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk lebih dari 30 toko di negara bagian Washington.
Selain itu, hampir 1.000 pekerja ritel dan non-ritel di wilayah Seattle dan Kent juga telah terdampak, bersama sekitar 1.100 karyawan korporasi.
Laporan internal perusahaan bahkan mengindikasikan bahwa pemangkasan tenaga kerja masih berpotensi berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, seiring proses penyesuaian struktur organisasi dan biaya operasional yang belum selesai.
Kondisi ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan global, di mana efisiensi dan transformasi digital menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait stabilitas lapangan kerja, terutama di sektor teknologi.
Selama ini, sektor teknologi kerap dianggap lebih tahan terhadap gelombang PHK dibandingkan sektor lainnya. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa bahkan posisi di bidang ini tidak sepenuhnya kebal dari tekanan efisiensi perusahaan.
Langkah Starbucks menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan besar kini harus menyeimbangkan antara kebutuhan untuk bertahan dan berkembang dengan tanggung jawab terhadap tenaga kerja.
Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, keputusan strategis seperti restrukturisasi dan efisiensi menjadi tidak terhindarkan.
Meski demikian, dampak sosial dari kebijakan ini tetap menjadi sorotan. Bagi para karyawan yang terdampak, PHK bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan persoalan nyata yang menyangkut keberlangsungan hidup dan masa depan mereka.
Ke depan, arah kebijakan Starbucks di bawah kepemimpinan Brian Niccol akan terus menjadi perhatian. Apakah langkah efisiensi ini mampu mengembalikan performa perusahaan, atau justru memunculkan tantangan baru, masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban.







