INBERITA.COM, Aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah kembali mengalami peningkatan signifikan, memicu penutupan seluruh jalur pendakian mulai Sabtu (4/4).
Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana yang dapat membahayakan keselamatan pendaki maupun masyarakat sekitar.
Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada di lima wilayah administratif—Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, serta Purbalingga—sebelumnya telah berstatus waspada level II selama beberapa bulan terakhir.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, aktivitas kegempaan dan vulkanik menunjukkan tren peningkatan yang cukup tajam.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Sabtu (4/4), seluruh jalur pendakian tampak sepi. Tidak ada aktivitas pendakian setelah penutupan resmi diberlakukan.
Langkah ini dilakukan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai dengan intensitas gempa serta keluarnya asap dari kawah secara terus-menerus.
Sejumlah jalur pendakian populer yang terdampak penutupan antara lain Jalur Bambangan di Purbalingga yang dikenal sebagai jalur tercepat namun memiliki medan terjal sejak awal, Jalur Baturraden di Banyumas yang terkenal dengan julukan “jalur naga” karena vegetasi hutan lebat dan medan ekstrem, serta Jalur Guci di Tegal yang menawarkan suasana lebih tenang dengan pemandangan asri.
Selain itu, jalur lain seperti Gunung Malang, Dipajaya, Kaliwadas, dan Cemara Sakti juga ikut ditutup sementara.
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menegaskan bahwa penutupan ini dilakukan demi keselamatan.
“Penutupan jalur pendakian di Gunung Slamet dilakukan karena peningkatan aktivitas vulkanik yang terdeteksi di kawah gunung demi keselamatan pendaki,” kata Sugeng Utomo, Sabtu (4/4).
Ia menambahkan, penutupan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan, menunggu kondisi kembali dinyatakan aman.
Peningkatan aktivitas dalam beberapa hari terakhir ditandai dengan frekuensi gempa yang meningkat serta keluarnya asap dari kawah secara konsisten.
Laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas vulkanik sejak Jumat (3/4).
Kepulan asap yang terus menerus terlihat dari kawah mengindikasikan proses degassing atau pelepasan gas magmatik ke permukaan.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, mengungkapkan bahwa selain perubahan visual, data termal juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Suhu kawah yang sebelumnya tercatat sekitar 247,4 derajat Celsius pada September 2024, kini melonjak menjadi 411,2 derajat Celsius per 2 April 2026.
“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola sebaran panas juga mengalami perubahan.
Jika pada 2024 anomali panas masih terpusat di tengah kawah, maka pada 2026 penyebarannya meluas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.
Kondisi ini mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan di dalam kawah yang memperkuat pelepasan gas magmatik.
Dari sisi kegempaan, aktivitas Gunung Slamet juga mengalami peningkatan signifikan.
Dalam periode 16 Maret hingga 3 April 2026, alat seismograf mencatat ratusan gempa, termasuk 866 gempa hembusan dan 620 gempa frekuensi rendah dengan amplitudo serta durasi yang relatif seragam.
Aktivitas ini berkorelasi dengan meningkatnya pergerakan gas magmatik di dalam gunung.
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Slamet Muhammad Rusdi, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan deformasi, magma telah bergerak ke kedalaman yang lebih dangkal.
Pergerakan tersebut terdeteksi dari Stasiun Cilik di ketinggian 1.516 mdpl menuju Stasiun Bambangan di 1.878 mdpl.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh gunung yang berpotensi memicu erupsi.
“Terdapat tiga potensi bahaya yang diwaspadai dalam radius 2 kilometer dari kawah yakni erupsi freatik, lontaran material pijar akibat erupsi magmatik dan paparan gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi,” ujar Muhammad Rusdi.
Dengan meningkatnya aktivitas tersebut, masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Slamet diminta untuk tidak mendekati kawah serta menghentikan seluruh aktivitas dalam radius dua kilometer dari puncak.
Kebijakan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko korban jiwa apabila terjadi erupsi sewaktu-waktu.







