INBERITA.COM, Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali meningkat dengan terjadinya erupsi yang disertai luncuran awan panas pada Selasa (5/5/2026) malam.
Peristiwa ini terekam oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) dengan parameter yang menunjukkan aktivitas signifikan, meski masih dalam batas yang terpantau.
Berdasarkan laporan resmi, erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimal 22 milimeter dengan durasi 4 menit 10 detik. Awan panas guguran mulai terdeteksi pada pukul 21.44 WIB dan bergerak menjauhi pusat erupsi.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa awan panas meluncur sejauh 3,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan, salah satu alur aliran material vulkanik yang kerap menjadi jalur utama guguran dari puncak.
“Terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 3,5 kilometer mengarah ke Besuk Kobokan,” kata Isnugroho.
Ia memastikan bahwa berdasarkan pemantauan terbaru dari pos pengamatan, aktivitas luncuran awan panas telah berhenti. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai mengingat karakter Gunung Semeru yang fluktuatif.
Selain awan panas, erupsi juga menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 600 meter di atas puncak kawah Jonggring Saloko. Arah sebaran abu dilaporkan condong ke barat daya, mengikuti arah angin saat kejadian.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Lumajang langsung menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) di sejumlah titik rawan. Tim ini bertugas untuk merespons cepat jika terjadi peningkatan aktivitas atau kondisi darurat yang mengancam keselamatan warga.
Fokus pengamanan diarahkan pada wilayah dengan radius hingga 8 kilometer dari puncak. Kawasan ini dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi terhadap dampak langsung erupsi, termasuk awan panas dan lontaran material vulkanik.
Meski tidak dilaporkan adanya korban maupun kerusakan langsung akibat erupsi kali ini, akumulasi material vulkanik di lereng gunung menjadi perhatian serius. Penambahan material ini berpotensi menimbulkan bahaya lanjutan jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
“Kalau terjadi hujan deras, material bisa terbawa aliran sungai dan membahayakan warga,” ujar Isnugroho.
Potensi banjir lahar menjadi ancaman yang sering muncul pasca-erupsi, terutama di jalur sungai yang berhulu dari kawasan puncak. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengimbau warga untuk tetap tenang namun tidak lengah. Ia menegaskan bahwa jarak luncuran awan panas masih dalam batas aman, tetapi masyarakat tetap harus mengikuti arahan dari petugas.
“Jarak luncurnya masih dalam batas aman. Warga diharapkan tetap waspada, terutama jika terjadi hujan deras,” kata Indah.
Pemerintah daerah juga meminta masyarakat untuk tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada sumber resmi dalam memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru.
Erupsi yang terjadi kali ini kembali mengingatkan bahwa Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitasnya yang relatif sering menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan, baik dari pemerintah maupun masyarakat di sekitarnya.
Dengan kondisi yang masih dinamis, pemantauan intensif terus dilakukan oleh petugas guna memastikan setiap perubahan aktivitas dapat segera direspons.
Warga pun diharapkan tetap siaga, terutama terhadap potensi bahaya sekunder seperti banjir lahar yang kerap terjadi setelah erupsi.







