Gunung Kerinci Alami Lonjakan Aktivitas dan Kegempaan, Pendakian Ditutup

Pendakian gunung kerinci ditutupPendakian gunung kerinci ditutup
Aktivitas Gunung Kerinci Meningkat, Terjadi 101 Gempa Vulkanik, Waspadai Potensi Erupsi

INBERITA.COM, Aktivitas vulkanik Gunung Kerinci, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dan Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, kembali menunjukkan peningkatan signifikan.

Pada Sabtu, 3 Januari 2026, mulai pukul 11.33 WIB, gunung api ini tercatat mengalami lonjakan kegempaan yang cukup signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Kerinci masih sangat aktif dan memerlukan kewaspadaan lebih.

Menurut data pemantauan yang dirilis hingga pukul 15.06 WIB, terdeteksi sebanyak 101 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal, 14 Gempa Vulkanik Dalam, serta 27 Gempa Hembusan.

Selain itu, ada pula 26 Gempa Frekuensi Rendah, 21 Gempa Hybrid, dan satu Gempa Tektonik Jauh. Salah satu peristiwa yang menonjol adalah satu Gempa Terasa dengan intensitas II MMI. Fenomena kegempaan ini menandakan adanya peningkatan aktivitas internal di dalam gunung api.

Visual pengamatan pada kawah puncak Gunung Kerinci hingga pukul 15.19 WIB menunjukkan kondisi kawah yang masih terlihat jelas tanpa adanya hembusan gas yang melampaui dinding kawah.

Meski demikian, dinamika internal gunung api ini menunjukkan tanda-tanda kegairahan, yang perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pengunjung.

Grafik RSAM (Real-Time Seismic Amplitude Measurement) yang merekam energi kegempaan juga menunjukkan pola fluktuatif, dengan kecenderungan peningkatan tajam pada akhir periode pengamatan.

Kenaikan yang signifikan ini diduga berkaitan dengan kejadian gempa terasa yang mengindikasikan adanya pergerakan material dari dalam gunung menuju permukaan.

Analisis terhadap nilai selisih waktu gelombang gempa (S–P) Gempa Vulkanik Dalam menunjukkan hasil antara 1 hingga 2,3 detik, lebih kecil jika dibandingkan dengan periode peningkatan gempa pada 31 Desember 2025.

Hal ini dapat diartikan sebagai indikasi adanya migrasi fluida, terutama gas, dari kedalaman gunung menuju permukaan, yang dapat berpotensi menyebabkan peningkatan tekanan di dalam kawah dan berisiko menimbulkan erupsi.

Dengan kondisi yang semakin aktif ini, pihak berwenang, termasuk Kepala Seksi PTN Wilayah I Kerinci, David, mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, khususnya para pendaki dan wisatawan.

“Kami menghimbau untuk tidak melakukan pendakian Gunung Kerinci terlebih dahulu sampai ada pemberitahuan selanjutnya,” tegas David.

Saat ini, Gunung Kerinci masih berada pada status aktivitas Level II (Waspada). Oleh karena itu, masyarakat dan pengunjung diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak, guna menghindari potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik yang meningkat.

Potensi bahaya tersebut antara lain paparan gas vulkanik yang berkonsentrasi tinggi serta lontaran batuan pijar yang dapat terjadi sewaktu-waktu jika terjadi erupsi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berada di bawah Badan Geologi, bersama dengan BNPB dan pemerintah daerah, terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Kerinci.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan tidak terpengaruh oleh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk memperoleh informasi terbaru terkait aktivitas vulkanik Gunung Kerinci, masyarakat dapat mengaksesnya melalui aplikasi dan situs Magma Indonesia, website resmi PVMBG dan Badan Geologi, serta Pos Pengamatan Gunung Kerinci yang terletak di Desa Lindung Jaya, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Kondisi Gunung Kerinci yang semakin aktif memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat, khususnya bagi para pendaki dan wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan tersebut.

Dengan status Level II (Waspada), semua pihak harus siap dengan langkah mitigasi yang tepat, menjaga keselamatan, serta mengikuti informasi resmi yang diberikan oleh otoritas terkait.

Waktu yang tepat untuk melakukan tindakan pencegahan sangat bergantung pada pemantauan terus-menerus dan informasi yang akurat mengenai perkembangan vulkanik Gunung Kerinci. (*)