INBERITA.COM, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki muda asal Magelang yang dilaporkan hilang di Gunung Slamet, Jawa Tengah, hingga kini masih belum ditemukan.
Kisah pendakian siswa kelas 12 SMAN 5 Magelang itu menyita perhatian publik setelah terungkap fakta bahwa Syafiq membawa papan bertuliskan pesan khusus untuk mantannya hingga ke puncak Gunung Slamet yang berada di ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Syafiq diketahui melakukan pendakian Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Jalur ini merupakan salah satu jalur resmi pendakian Gunung Slamet yang kerap digunakan para pendaki dari wilayah Pantura dan sekitarnya.
Dalam pendakian tersebut, Syafiq tidak sendiri. Ia mendaki bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran, yang juga sempat dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat.
Di tengah proses pencarian Syafiq, muncul cerita unik sekaligus mengharukan terkait sebuah papan tulisan yang dibawa hingga ke puncak.
Papan tersebut bertuliskan pesan, ‘HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL’.
Tulisan itu menjadi viral setelah diketahui merupakan pesan khusus yang sengaja dibawa Syafiq sebagai bentuk ekspresi pribadi saat mendaki gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Papan bertuliskan pesan untuk mantan itu ditemukan oleh tim saat proses evakuasi survivor pertama, yakni Himawan Choidar Bahran.
Papan tersebut berada di dalam jaket yang dikenakan Himawan ketika ditemukan. Saat ini, papan itu diamankan dan disimpan di Basecamp Dipajaya, yang menjadi pusat koordinasi pendakian dan pencarian Gunung Slamet jalur Dipajaya.
Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, membenarkan penemuan papan tulisan tersebut. Ia mengatakan papan itu ditemukan bersamaan dengan ditemukannya Himawan dalam kondisi lemas di jalur pendakian.
“Kami temukan papan tulisan itu saat menemukan survivor pertama. Dalam jaket,” kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, Jumat (2/1/2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi Himawan saat ditemukan membutuhkan penanganan segera.
“Kondisi tubuhnya (Himawan–Red) lemas dan langsung kami evakuasi ke Basecamp Dipajaya,” sambungnya.
Sementara itu, Himawan Choidar Bahran yang kini berada di Basecamp Dipajaya membenarkan bahwa papan bertuliskan pesan tersebut memang sengaja dibawa hingga ke puncak Gunung Slamet.
Ia mengungkapkan bahwa papan itu merupakan milik Syafiq dan sudah direncanakan sebelum pendakian dilakukan.
“Iya, milik dia (Syafiq Ali). Pesan dulu di online baru saya yang bawa, saya masukin ke jaket. Di atas berfoto dengan itu. Ya, katanya untuk ramai-ramai saja,” kata Himawan saat ditemui di Basecamp Dipajaya.
Menurutnya, papan tersebut dipesan secara daring oleh Syafiq sebelum pendakian, lalu dititipkan kepadanya untuk dibawa selama perjalanan hingga puncak.
Himawan juga mengungkapkan bahwa Syafiq memang diketahui sedang menjalin hubungan dengan seseorang.
Namun, hubungan tersebut disebut kerap mengalami putus nyambung. Meski demikian, niat membawa papan bertuliskan pesan itu disebut hanya untuk bercanda dan meramaikan momen pendakian, bukan untuk tujuan lain.
Kronologi perpisahan keduanya di jalur pendakian turut menjadi bagian penting dalam upaya pencarian Syafiq.
Sebelum dinyatakan terpisah, Syafiq dan Himawan masih bersama hingga Pos 5 jalur Dipajaya. Di titik tersebut, Himawan mengalami kram pada bagian kakinya sehingga kesulitan untuk melanjutkan perjalanan.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq kemudian memutuskan untuk turun lebih dulu dengan tujuan mencari bantuan. Ia meminta Himawan untuk menunggu di lokasi sambil beristirahat.
Namun, keputusan itu justru menjadi awal dari hilangnya kontak di antara keduanya. Sejak saat itu, Syafiq tidak pernah kembali dan tidak dapat dihubungi, hingga akhirnya Himawan ditemukan oleh tim pencari dalam keadaan selamat.
Di sisi lain, kabar hilangnya Syafiq dan Himawan juga mengejutkan pihak keluarga. Ayah Himawan, Imam Bukhori, mengaku kaget ketika pertama kali menerima informasi bahwa anaknya dinyatakan hilang saat pendakian Gunung Slamet.
Menurutnya, kabar tersebut justru ia terima dari teman, bukan langsung dari pihak pendakian.
“Saya pertama kali dapat kabar dari teman. Saya kaget. La pamitnya itu naik Gunung Sumbing,” ungkap Imam Bukhori saat ditemui di Basecamp Dipajaya.
Ia menjelaskan bahwa awalnya anaknya berpamitan untuk mendaki Gunung Sumbing, bukan Gunung Slamet.
Imam Bukhori mengaku mengizinkan anaknya melakukan pendakian karena Gunung Sumbing dianggap sudah familiar bagi Himawan.
Selain itu, di sekitar kawasan Gunung Sumbing juga terdapat banyak kerabat keluarga mereka. “Kalau Gunung Sumbing, diakuinya, Himawan sudah beberapa kali naik, dianggap hafal medan,” ujarnya.
Hingga saat ini, proses pencarian terhadap Syafiq Ridhan Ali Razan masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Kisah papan bertuliskan “Salam untuk mantan” yang dibawa hingga puncak Gunung Slamet menjadi potret sisi lain dari pendakian yang awalnya penuh canda, namun berujung pada perjuangan panjang untuk menemukan seorang pendaki muda yang belum kembali.







