INBERITA.COM, Peta persaingan politik nasional mulai menunjukkan perubahan menjelang kontestasi pemilihan presiden berikutnya.
Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kini menjadi salah satu figur yang paling banyak mendapat perhatian setelah sejumlah survei terbaru menempatkannya di posisi teratas dalam simulasi calon presiden.
Dua lembaga survei nasional, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia, sama-sama mencatat peningkatan signifikan terhadap tingkat keterpilihan Dedi Mulyadi.
Dalam sejumlah skenario yang diuji kepada responden, elektabilitas mantan anggota DPR RI tersebut bahkan berada di atas Presiden Prabowo Subianto.
Meski demikian, hasil survei ini bukan merupakan gambaran pasti hasil pemilu mendatang. Elektabilitas masih sangat mungkin berubah karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kinerja pemerintahan, dinamika partai politik, kondisi ekonomi, hingga munculnya kandidat baru.
Dalam survei SMRC bertajuk “Elektabilitas Calon-calon Presiden”, Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyampaikan bahwa Dedi Mulyadi memperoleh dukungan sebesar 35 persen dalam simulasi semi-terbuka.
Angka tersebut menempatkan Dedi di posisi pertama, mengungguli Prabowo Subianto yang memperoleh 14,5 persen. Setelah keduanya, terdapat sejumlah nama lain seperti Anies Baswedan dengan 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, serta Mahfud MD 4 persen.
Sementara itu, responden yang belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban mencapai 12,8 persen.
SMRC melihat adanya perubahan tren dalam perjalanan elektabilitas kedua tokoh tersebut. Dukungan terhadap Dedi mengalami peningkatan, sedangkan tingkat keterpilihan Prabowo dalam simulasi yang sama tercatat menurun.
Berdasarkan catatan SMRC, elektabilitas Prabowo dalam simulasi semi-terbuka sebelumnya berada di angka 34,9 persen dan kemudian turun menjadi 14,5 persen. Pada periode yang sama, elektabilitas Dedi meningkat dari 19,7 persen menjadi 35 persen.
Perubahan serupa terlihat dalam simulasi head to head atau pertarungan dua nama. Ketika hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo yang dibandingkan, Dedi memperoleh dukungan 59 persen, sementara Prabowo mendapatkan 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden belum menentukan pilihan.
SMRC mencatat dukungan terhadap Prabowo dalam skenario dua kandidat turun dibandingkan survei sebelumnya. Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih memperoleh 50,5 persen, sedangkan pada Juli 2026 angkanya menjadi 28,3 persen.
Sebaliknya, dukungan terhadap Dedi meningkat dari 42,6 persen menjadi 59 persen dalam periode yang sama.
Temuan tersebut membuat SMRC menilai bahwa jika pemilihan presiden digelar dalam kondisi seperti saat survei dilakukan, persaingan antara Dedi dan Prabowo akan menjadi salah satu skenario yang menarik untuk diamati.
Hasil hampir serupa juga muncul dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada 14-24 Juli 2026. Dalam pertanyaan terbuka atau top of mind, Dedi Mulyadi memperoleh 22,4 persen dukungan, sedikit berada di atas Prabowo dengan 20,1 persen.
Di bawah keduanya terdapat Anies Baswedan dengan 9,7 persen, Gibran Rakabuming Raka 4,2 persen, serta AHY 3,8 persen. Sebanyak 25,8 persen responden memilih tidak menjawab atau belum menentukan pilihan.
Dalam simulasi semi-terbuka dengan daftar 32 nama calon, jarak antara Dedi dan Prabowo kembali terlihat. Dedi memperoleh elektabilitas 31,4 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 18,8 persen.
Nama lain yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Anies Baswedan dengan 11,6 persen, Gibran Rakabuming Raka 5,9 persen, AHY 5,8 persen, Ganjar Pranowo 4,5 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, dan Mahfud MD 2,5 persen.
Indikator juga mencatat tren kenaikan elektabilitas Dedi secara bertahap. Dalam simulasi semi-terbuka, dukungan terhadap Dedi meningkat dari 16,8 persen pada Desember 2025 menjadi 19 persen pada Januari 2026.
Kemudian angka tersebut kembali naik menjadi 23,1 persen pada periode Maret-April 2026 sebelum mencapai 31,4 persen pada Juli 2026.
Kenaikan elektabilitas Dedi tidak terlepas dari meningkatnya sorotan publik terhadap gaya kepemimpinannya di Jawa Barat.
Selama menjabat sebagai gubernur, Dedi dikenal aktif membangun komunikasi langsung dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan lapangan dan pendekatan yang berbeda dibandingkan pola birokrasi konvensional.
Namun, perjalanan menuju pencalonan presiden masih panjang. Elektabilitas tinggi dalam survei menjadi modal politik, tetapi belum otomatis menentukan dukungan partai maupun keberhasilan dalam pemilu.
Dalam sistem politik Indonesia, dukungan partai, kemampuan membangun koalisi, konsistensi citra publik, serta kemampuan menghadapi isu nasional akan menjadi faktor penting bagi setiap tokoh yang ingin maju dalam pemilihan presiden.
Bagi Prabowo, hasil survei tersebut menjadi sinyal bahwa persaingan politik ke depan dapat semakin kompetitif. Sebagai presiden petahana, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan dan keberhasilan menjalankan program nasional akan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi politiknya.
Sementara bagi Dedi Mulyadi, meningkatnya elektabilitas menunjukkan adanya ruang besar bagi figur kepala daerah untuk masuk ke panggung politik nasional.
Namun, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa dukungan publik tersebut dapat bertahan dan berkembang di luar basis wilayah Jawa Barat.
Dinamika politik nasional masih akan terus bergerak. Survei terbaru ini menjadi salah satu indikator awal mengenai perubahan preferensi masyarakat, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pemilih ketika momentum pemilu tiba.







