Dampak Pertamax Rp17.000 Mulai Terlihat, Pertashop Kehilangan Pelanggan

Pertamax Rp17.000 per Liter, Pertashop di Sumbar Mulai Ditinggalkan KonsumenPertamax Rp17.000 per Liter, Pertashop di Sumbar Mulai Ditinggalkan Konsumen
Penjualan Pertashop Merosot Setelah Harga Pertamax Naik, Pengusaha Waswas.

INBERITA.COM, Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp17.000 per liter mulai memunculkan dampak nyata di berbagai daerah.

Di Sumatera Barat, jaringan Pertashop yang selama ini menjadi tumpuan distribusi bahan bakar di wilayah yang jauh dari jangkauan SPBU mulai merasakan penurunan aktivitas penjualan.

Meski kenaikan harga baru berlaku dalam waktu singkat, sejumlah pengelola Pertashop mengaku perubahan perilaku konsumen sudah terlihat.

Masyarakat yang sebelumnya rutin membeli Pertamax kini mulai mempertimbangkan kembali pengeluaran mereka, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang masih dirasakan berbagai kalangan.

Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pertashop. Sebagai jaringan ritel energi yang dibangun untuk memperluas akses masyarakat terhadap BBM berkualitas, keberadaan Pertashop selama ini memiliki peran strategis, khususnya di kawasan pedesaan dan daerah terpencil yang belum memiliki SPBU reguler.

Namun ketika harga BBM non-subsidi mengalami lonjakan, daya saing usaha ini ikut terpengaruh.

Konsumen cenderung mencari alternatif yang lebih terjangkau, sehingga volume pembelian Pertamax mulai mengalami perlambatan.

Sales Area Manager Retail Sumbar Pertamina Patra Niaga, Fakhri Rizal Hasibuan, mengatakan bahwa operasional Pertashop di wilayah Sumatera Barat sejauh ini masih berjalan normal.

Meski demikian, pihaknya mengakui kemungkinan adanya dampak terhadap penjualan akibat perubahan harga yang cukup signifikan.

“Mungkin ada dampak akibat kenaikan harga ini, tapi kami belum bisa pastikan (angkanya) karena harga baru saja naik,” ujar Fakhri saat dihubungi wartawan.

Menurut dia, diperlukan waktu untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai pengaruh kenaikan harga terhadap kinerja usaha Pertashop. Setiap pemilik memiliki karakteristik pasar yang berbeda sehingga dampaknya tidak bisa disamaratakan.

Fakhri menjelaskan bahwa analisis bisnis dari masing-masing pengusaha Pertashop akan menjadi dasar untuk melihat seberapa besar perubahan volume penjualan yang terjadi dalam satu periode. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk menyusun langkah antisipasi maupun strategi yang lebih tepat.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana melakukan koordinasi dengan asosiasi pengusaha Pertashop guna memetakan kondisi aktual di lapangan.

Langkah tersebut dinilai penting karena pelaku usaha menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan konsumen dan dapat memberikan gambaran paling nyata mengenai perubahan perilaku pembelian masyarakat.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pertashop Sumbar Bersatu, Rahmadanur, mengungkapkan bahwa gejala penurunan daya beli sudah mulai terasa tidak lama setelah harga baru diberlakukan.

Menurutnya, meskipun harga Pertamax 92 di Pertashop masih sedikit lebih murah dibandingkan SPBU reguler, kondisi tersebut belum cukup untuk mempertahankan minat sebagian konsumen.

Saat ini Pertamax di Pertashop dijual sekitar Rp16.900 per liter, atau lebih rendah Rp100 dibandingkan harga di SPBU reguler yang mencapai Rp17.000 per liter.

Namun selisih harga tersebut dianggap terlalu kecil untuk menjadi faktor penentu keputusan pembelian. Sebaliknya, jarak harga yang semakin lebar dengan BBM beroktan lebih rendah membuat sebagian masyarakat memilih beralih demi menghemat pengeluaran harian.

“Dampak nyatanya sudah terlihat (sepi). Namun untuk total penurunan angka penjualan, baru bisa kami kalkulasikan secara pasti setelah satu pekan berjalan,” kata Rahmadanur.

Pernyataan itu menggambarkan tantangan yang tengah dihadapi para pelaku usaha Pertashop. Mereka bukan hanya berhadapan dengan fluktuasi harga energi global yang memengaruhi harga jual BBM, tetapi juga perubahan preferensi konsumen yang semakin sensitif terhadap kenaikan biaya.

Secara bisnis, penurunan volume penjualan dapat berdampak langsung pada tingkat keuntungan pengusaha. Sebab sebagian besar biaya operasional, mulai dari tenaga kerja, listrik, hingga perawatan fasilitas, tetap harus ditanggung meskipun jumlah transaksi menurun.

Bagi daerah yang mengandalkan Pertashop sebagai satu-satunya titik distribusi BBM non-subsidi, kondisi ini juga perlu mendapat perhatian. Jika penjualan terus melemah dalam jangka panjang, keberlangsungan usaha bisa menghadapi tekanan yang lebih besar.

Di sisi konsumen, kenaikan harga Pertamax juga memunculkan dilema tersendiri. Sebagian pemilik kendaraan memilih tetap menggunakan BBM dengan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan demi menjaga performa mesin.

Namun tidak sedikit pula yang mulai menghitung ulang biaya transportasi dan mencari opsi yang lebih ekonomis.

Perubahan pola konsumsi ini lazim terjadi ketika harga energi mengalami kenaikan. Dalam berbagai kasus sebelumnya, masyarakat cenderung melakukan penyesuaian dengan mengurangi frekuensi perjalanan, menekan penggunaan kendaraan pribadi, atau beralih ke jenis BBM yang lebih murah.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan, tetapi juga merembet ke sektor usaha yang terkait langsung dengan distribusi energi.

Pertashop menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan kebijakan harga dapat memengaruhi rantai ekonomi hingga ke tingkat pelaku usaha daerah.

Untuk saat ini, para pengusaha Pertashop masih menunggu data penjualan dalam beberapa hari ke depan guna mengetahui sejauh mana penurunan yang terjadi.

Hasil evaluasi tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah kondisi yang terjadi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi tren yang lebih panjang.

Jika tekanan terhadap daya beli masyarakat terus berlanjut, pelaku usaha kemungkinan harus menyiapkan berbagai strategi adaptasi agar tetap dapat mempertahankan operasional.

Sementara itu, konsumen juga akan terus menyesuaikan pilihan mereka sesuai kondisi ekonomi yang dihadapi.

Di tengah dinamika tersebut, keberlanjutan Pertashop sebagai ujung tombak distribusi BBM non-subsidi di wilayah yang belum terjangkau SPBU akan sangat bergantung pada keseimbangan antara harga energi, daya beli masyarakat, dan kemampuan pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan pasar.