INBERITA.COM, Konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru dengan meningkatnya ketegangan diplomatik. China menegaskan sikap tegasnya dalam menolak segala bentuk sanksi dan tekanan yang diterapkan AS terhadap Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut justru tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan memperburuk situasi.
AS telah mengancam akan melancarkan kampanye tekanan ekonomi terbesar dalam sejarah untuk “meruntuhkan” rezim Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, membela rencana tersebut dengan menyatakan bahwa Washington berhak meningkatkan tekanan untuk memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman. Namun, Bessent enggan mengungkapkan secara terbuka apakah AS akan menekan China agar bergabung dalam upaya isolasi tersebut.
Lin Jian menegaskan bahwa China menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional dan tidak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB.
Ia menekankan pentingnya semua pihak mengambil langkah bertanggung jawab dengan menyelesaikan konflik melalui jalur politik dan diplomasi. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers reguler di Beijing, menyoroti ketidaksetujuan China terhadap kebijakan unilateral AS.
Iran sendiri telah mengecam keras rencana sanksi AS, menyebutnya sebagai bentuk “terorisme ekonomi” yang melanggar hak asasi manusia. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa sanksi tersebut menargetkan hak-hak dasar warga sipil dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pernyataan resmi tersebut menegaskan bahwa langkah AS tidak hanya tidak efektif, tetapi juga melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.
Ketegangan antara AS dan Iran juga berdampak luas pada pasar energi global, terutama di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz, sebagai jalur pelayaran strategis, kini menghadapi risiko gangguan akibat eskalasi konflik.
China menekankan bahwa hubungan perdagangan dan energi antarnegara berdaulat harus dihormati sesuai dengan hukum internasional. Beijing menolak upaya penerapan sanksi ekstrateritorial yang dapat membahayakan keamanan jalur maritim global.
Lin Jian kembali menegaskan bahwa eskalasi konflik tidak menguntungkan siapa pun dan mendesak penyelesaian melalui dialog. Ia menyatakan bahwa hanya melalui negosiasi dan kerja sama internasional, perdamaian dapat tercapai.
Sikap China ini mencerminkan komitmennya untuk menjaga stabilitas regional dan global, serta menolak segala bentuk intervensi yang tidak sesuai dengan hukum internasional.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik AS-Iran juga mempengaruhi stabilitas ekonomi global. Kenaikan tarif angkutan laut dan gangguan pasokan minyak mentah dari wilayah seperti Basra di Irak menjadi ancaman nyata bagi perekonomian dunia.
China, sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan global, menekankan pentingnya menjaga kelancaran jalur perdagangan internasional.
Pernyataan China ini juga menjadi respons terhadap upaya AS untuk menggalang dukungan internasasi dalam mengisolasi Iran.
Meskipun Washington telah menekan sejumlah negara untuk bergabung, Beijing tetap teguh pada prinsipnya untuk tidak terlibat dalam sanksi yang tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Sikap ini menunjukkan bahwa China berkomitmen untuk mempertahankan prinsip-prinsip hukum internasional dalam hubungan antarnegara.
Sementara itu, ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran semakin meningkatkan ketegangan. Trump mengancam akan menerapkan “peperangan ekonomi dan isolasi dalam skala belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran.
Ia juga memperingatkan negara mana pun yang masih memberikan dukungan ekonomi kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar.
Ancaman ini muncul di tengah situasi di mana tidak ada tanda-tanda kemenangan diplomatik atau militer yang jelas bagi Washington. Konflik yang telah berlangsung selama enam bulan ini menunjukkan bahwa pendekatan keras AS belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Sebaliknya, Iran terus menegaskan bahwa sanksi ekonomi hanya akan memperkuat solidaritas nasional dan menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat sipil.
China, dalam hal ini, mengambil peran sebagai mediator yang mendorong penyelesaian damai. Lin Jian menekankan bahwa eskalasi hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak dan menyerukan semua negara untuk mengambil langkah yang bertanggung jawab.
Sikap ini sejalan dengan upaya internasional untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan yang tengah dilanda konflik. Dengan demikian, ketegangan antara AS dan Iran tidak hanya menjadi persoalan bilateral, tetapi juga memiliki implikasi global.
China, melalui pernyataan resminya, menunjukkan bahwa solusi terbaik terletak pada diplomasi dan kerja sama internasional. Sikap tegas Beijing ini diharapkan dapat menjadi katalis untuk mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan.







